Tahun 2020, target awal pertumbuhan investasi mulanya ditarget hanya Rp 9,6 triliun. Namun realiasinya berhasil tembus hingga 104,53 persen. Di tahun 2021, targetnya naik atau lebih besar sedikit dari tahun kemarin yakni, Rp 10 triliun. (lihat grafis)
“Tahun ini untuk investasi kami optimistis bisa memenuhi target. Akhir Oktober, realisasinya tembus Rp 6.361.030.469.903 atau 63,6 persen. Belum ditambah dengan dua bulan sisanya, akan diketahui saat akhir Desember ini,” beber kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kabupaten Pasuruan Eddy Supriyanto.
Untuk investasi yang masuk, terbagi dengan Perusahaan Modal Asing (PMA). Dintaranya berasal dari Belanda dan Tiongkok. Disusul Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN) dari Surabaya, Sidoarjo dan Jakarta. Sisanya berupa usaha mikro kecil dan perorangan.
Lokasi tempatnya menyebar hampir merata di semua kecamatan yang ada. Namun paling dominan, tetap di wilayah barat seperti Pandaan, Beji, Bangil, Gempol, Sukorejo dan Purwosari.
“Investasi yang masuk baik PMA dan PMDN, kebanyakan bergerak di sektor kesehatan, makanan, industri logam. Lainnya juga ada perumahan atau properti, perdagangan dan jasa,” jelasnya.
Pertumbuhan investasi yang masuk ke kabupaten ini, kata Eddy, didukung sejumlah faktor dari daerah ini. Di antaranya posisi yang strategis, punya ruas jalan tol, sumber daya alam yang tersedia, hingga sumber daya manusia yang cukup.
Di luar itu, faktor lainnya juga berpengaruh. Mengingat seringkali dikeluhkan oleh para pengusaha atau investor, seperti tingginya Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Pasuruan.
“Selain pandemi, tingginya UMK juga ikut mempengaruhi. Sehingga ada beberapa perusahaan sudah berinvestasi di Kabupaten Pasuruan, buka cabang atau pabrik di daerah lain juga,” bebernya. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin