Jawa Pos Radar Bromo melihat beberapa mbak-mbak yang turun ke Terminal Pandaan. Mereka menunggu naik bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Tujuannya, antara lain kota-kota di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.
”Mulai mudik tiga hari terakhir ini, sebelum 6–17 Mei,” kata Kepala Terminal Tipe A Pandaan Kriswantoro.
Mbak-mbak itu tidak selalu berangkat bareng. Ada yang pagi, siang, sore, bahkan malam. Mereka turun dari Tretes, Prigen, menuju Terminal Pandaan.
Lalu, berangkat naik bus ke luar kota. Puncak kepulangan mereka terpantau sepekan terakhir ini. Sebelum Ramadan atau awal Ramadan, terlihat juga ada yang mudik lebih awal. Jumlahnya tak banyak. Hanya 2–3 orang.
Sherly (nama samara) mengaku pulang ke Purwakarta, Jawa Barat. Dia pulang bersama teman-teman satu wiswa di Pesanggrahan, Prigen. Satu wisma pulang semua. ”Setahun sekali saya wajib pulang,” ujarnya.
Menurut perempuan dengan rambut cat kemerahan ini, mudik Lebaran ini waktu yang tepat untuk bertemu keluarga. Sambang adik-adik, keponakan-keponakan, dan saudara jauh. ”Ya sungkem juga lha Mas ke orang tua di kampung,” ujarnya lantas tersenyum.
Sherly dan dua temannya naik bus. Namun, ada juga yang naik kereta api. Sebagian berangkat dari Malang. Sebagian lagi harus ke Surabaya dulu. Berangkat dari Gubeng atau Wonokromo.
Mbak-mbak sesama satu wisma, lanjut Sherly, rata-rata berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebagian besar memang memilih naik bus antarkota.
Bagaimana halnya yang berasal dari Jawa Timur? Yang lebih banyak naik bus antarkota dalam provinsi (AKDP). Misalnya, Lumajang, Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, dan sebagainya. Ada juga yang memilih cara praktis. ”Naik taksi online langsung dari kos ke rumah,” tambah Carin (samaran), perempuan asal Blitar yang juga tinggal di Pesanggrahan.
Soal biaya, mereka memastikan tidak ada masalah. Sebab, selama setahun ini, ada tabungan yang disisihkan. Jauh-jauh direncanakan untuk biaya pulang dan sangu Lebaran. Sedikit demi sedikit dikumpulkan. ”Supaya terasa ringan untuk sangu pulang,” imbuh Patrisia (samaran) yang indekos di Tretes. (zal/far) Editor : Jawanto Arifin