Gempol Plaza resmi beroperasi pada 2018. Namun, setelah tiga tahun berlalu, salah satu gedung perdagangan terbesar di Kabupaten Pasuruan itu tak mampu menarik pembeli. Padahal, lokasinya sangat strategis. Pinggir jalan raya nasional. Pertigaan arah Pasuruan, Surabaya, dan Malang. Tepatnya Desa Gempol, Kecamatan Gempol.
Informasinya, jumlah kios di Gempol Plaza mencapai 176 unit. Namun, yang aktif berjualan sekitar 30 pedang saja. Banyak kios yang masih kosong. Banyak pula yang sudah terisi, tapi tidak buka. Tutup sepanjang hari.
”Pedagang dan pembelinya sama-sama sepi,” ungkap salah seorang pedagang kepada Jawa Pos Radar Bromo kemarin (5/4).
Sudah bertahun-tahun Gempol Plaza beroperasi. Namun, situasinya sama. Sepi. Para pedagang berharap Pemkab Pasuruan mampu melakukan terobosan. Ide-ide cerdas dan inovatif diharapkan bisa meramaikan plasa tersebut.
Lebih-lebih sarana dan prasarana Gempol Plaza tergolong lengkap. Akses mudah. Parkir luas. Bangunan juga bagus. ”Masak seperti ini terus,” ujar pedagang yang menolak disebutkan namanya itu.
Bagaimana langkah pemkab? Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan Diano Vela Fery Santoso menyatakan, telah melakukan pendekatan internal kepada pedagang. Pelaku ekonomi kreatif diajak juga untuk memajukan plaza. Sekaligus menarik minat pengunjung. Perlu juga mengundang kalangan milenial guna memoles keindahan plaza. Misalnya, penghobi air brush art.
”Kebersihan dan kerapian tetap dijaga,” katanya. Kondisi bangunan juga tetap dirawat. Kalau kondisi fisik bangunan bagus, pedagang akan betah berjualan. Pembeli pun bakal tertarik untuk datang. ”Memang tak mudah, juga butuh proses,” beber mantan Camat Sukorejo ini. (zal/far) Editor : Jawanto Arifin