DARMAWAN mungkin salah seorang yang masih getol memburu kaset pita. Sejak kecil, ia memang terbiasa mendengarkan musik melalui kaset pita. Sebuah tape milik ayahnya, mengenalkan pria 37 tahun itu pada kaset pita.
"Waktu kecil memang belum ada CD. Kalau dengarkan musik ya dari radio atau kaset," ungkapnya saat ditemui di rumahnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu.
Dia pun mulai suka memburu kaset sesuai dengan musik yang disukainya kala itu. Sejak duduk di bangku SMP, Darmawan kerap membeli kaset. Ia bahkan rela mengumpulkan uang sakunya untuk membeli kaset pita. Maka, Awan -panggilannya- kerap tidak jajan saat jam istirahat.
Dia justru membawa sabit kecil ke sekolah. Itu digunakan untuk menebangi tebu di sebuah ladang yang terletak di belakang gedung sekolahnya.
"Jadi, teman-teman yang lain beli jajanan di kantin, saya ke ladang makan tebu. Sengaja nggak jajan karena uangnya buat beli kaset," kelakarnya.
Kegemarannya mengoleksi kaset tak berhenti hingga memasuki SMA. Kala itu, Awan bahkan kian nekat. Saat itu uang saku dari orang tuanya sering habis untuk naik kendaraan. Maklum, ia bersekolah di daerah Lawang, Malang.
Otomatis, jatah menabung untuk membeli kaset pun makin berkurang. Agar tetap bisa membeli kaset, Awan nyambi sebagai kuli panggul sepulang dari sekolah. Waktu itu, memang ada sebuah toko yang tiap hari mendapat pasokan barang. Lokasinya tak jauh dari sekolah Awan.
"Jadi pulang sekolah saya manggul barang-barang dari truk. Lumayan juga hasilnya, Rp 20 ribu," kenangnya.
Salah satu kaset yang ia beli dari hasil memeras keringat itu ialah rilisan Band Scope tahun 2001. Harganya Rp 16 ribu. Sehingga, Awan masih memiliki sisa uang untuk ditabung.
Setelah benar-benar mendapat pekerjaan usai lulus sekolah, Awan hampir tiap pekan mengunjungi toko kaset.
"Saya kerja di Waru. Gajiannya mingguan. Kalau pulang bawaannya kaset. Orang tua ya heran, pulang-pulang selalu bawa kaset. Nggak ada oleh-oleh lain," ucapnya.
Kini, kaset yang dikoleksi Awan kian berjibun. Jumlahnya sudah ribuan. Sebagian besar ia simpan di sebuah lemari. Bertumpuk. Namun, karena kekurangan tempat, ada juga yang disimpan dalam kardus.
Seperti saat dikunjungi koran ini di rumahnya, Awan baru saja menggulung beberapa kasetnya dengan rewinder. Setelahnya, kaset-kaset itu ditata kembali di dalam lemari.
Awan sendiri lebih sering memburu kaset-kaset lama yang keberadaannya mulai susah didapat. Untuk setiap keping kaset, duit yang harus ia keluarkan pun beragam. Rata-rata kalau kaset produksi terbaru, harganya sekitar Rp 50 ribu.
Namun untuk kaset lama yang layak dikoleksi, lebih bervariatif. Paling murah ia pernah membeli dengan harga Rp 10 ribu. Ada juga yang mencapai Rp 100 ribu, bahkan lebih.
"Khususnya untuk kaset lawas dengan genre rock dan metal, itu yang susah dapat," bebernya.
Meski keberadaan kaset pita sudah jarang, Awan tak ingin beralih. Bahkan, walaupun dengan kemudahan mengakses musik di era digital saat ini. Ia tetap memilih kaset pita. Menurutnya, ada kepuasan tersendiri dengan mendengarkan kaset pita.
Menurutnya, kaset pita juga butuh sentuhan khusus agar tetap terawat. Karenanya, Awan rutin mengecek kondisi seluruh kasetnya. Dan memastikan tempat penyimpanannya tidak lembap. Karena itu akan membuat kaset mudah berjamur. Lalu rusak.
"Sekarang juga kan serbamudah. Mau cari musik tinggal download di internet. Tapi itu kan tidak menghargai karya namanya, tidak memberi support yang membuat karya," ujarnya.
Ayah dua anak itu juga kerap diomeli istrinya. Betapa tidak, keinginan Awan untuk terus menambah koleksi kasetnya seolah tak terbendung. Dia bahkan rela mengurangi jatah rokok untuk membeli kaset. (tom/fun) Editor : Fandi Armanto