Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Berkunjung ke Pasar Ndeso Sorpoh, yang Transaksinya Pakai Koin Kayu

Jawanto Arifin • Selasa, 6 Agustus 2019 | 19:40 WIB
Photo
Photo
Ada yang unik di Perumahan Bukit Alam di Desa suwayuwo, Kecamatan Sukorejo. Tiap sebulan sekali, desa ini menggelar Pasar Sorpoh, yang merupakan pusat kuliner ala zaman dulu alias Jadul.

-------------

Suasana tempo dulu begitu terasa sekali saat berkunjung ke Pasar Ndeso Sorpoh. Kebetulan pasar tradisional yang berlokasi di Perumahan Bukit Alam, tepatnya di RT 02 RW 11, Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, digela Minggu (4/8) pagi.

Nama Pasar Ndeso Sorpoh ternyata memang memiliki arti. Ndeso karena memang tradisional, dan arti kata Sorpoh merupakan akronim dari Ngisor Poh (dibawah pohon mangga, red). Pasar ini digelar di sepanjang jalan di Desa Suwayuwo, yang di sekelilingnya memang terdapat banyak pohon mangga.

“Ide pertama kalinya warga ingin membuat pusat aneka kuliner jadul. Akhirnya tercetuslah Pasar Ndeso Sarpoh ini. Biar mudah diingat, unik dan beda dengan yang lain,” ucap Ery Setiawati, ketua paguyuban Pasar Ndeso Sorpoh.

Begitu masuk kedalam, suasana zaman dulu memang terasa. Mulai dari gapura terbuat dari gubug yang sederhana, kemudian deretan aneka kuliner yang dijual. Semua ala tempo dulu.

Gubug-gubug itulah yang merupakan lapak penjual. Diantaranya menjual jenis camilan seperti lupis, gempo, klepon, tape, horok-horok, dan sebagainya. Juga ada nasi pecel, soto, krawuh, uduk, buwuhan. Serta ada dawet, cendol, sinom, temulawak, serabi dan lain-lain. Tiap digelar, sedikitya terdapat sekitar 25 lapak yang berjualan.

“Kuliner yang dijual di Pasar Ndeso ini mayoritas semuanya zaman dulu. Selain menyesuaikan nama pasarnya, juga mempertahankan dan sekaligus mengenalkan aneka kuliner jaman dulu ke pembeli atau pengunjung,” ungkapnya.

Sejumlah keunikan lain ditemui di Pasar Ndeso Sorpoh ini, adalah para penjualnya semuanya memakai pakaian tradisional. Termasuk pengurus paguyubannya. Kemudian untuk transaksinya, menggunakan uang koin kayu pecahan mulai Rp 1.000, 2.000, 5.000, 7.000, 8.000 dan 10.000.

Sebelumnya, uang tunai oleh pengunjung atau pembeli, ditukarkan lebih dulu ke tempat penukaran koin yang sudah disediakan di lokasi. Nah, saat membeli itulah, uang koin dari kayu, menjadi mata yangnya.

Karena tempo dulu, jangan heran dengan penyajian makanannya. Jajanan yang dibungkus pakai daun pisang dan jati, jamak ditemui. Bahkan sebagai penganti piring, ada tedok atau semacam anyaman terbuat dari bambu. Semuanya memang sengaja dibuat untuk mengurangi dan meminimalisir sampah plastik.

“Pengurus paguyuban dan penjualnya wajib memakai baju tradisional adat jawa. Lalu transaksinya juga pakai uang koin kayu, bukan uang tunai langsung pada umumnya. Inilah keunikannya di pasar ini, selain aneka kuliner jadul yang dijual,” tuturnya.

Pasar ini mulai digelar pada 7 April lalu. Untuk pelaksanaanya sebulan sekali saja, tepatnya di Minggu pertama tiap bulan. Mulai pukul 06.00 – 09.00 pagi, atau sekitar tiga jam saja.

Selama acara berlangsung, jalan steril dari kendaraan bermotor melintas. Baik roda dua, empat dan lebih. Terkecuali sepeda ontel.

Untuk tiap kali pelaksanannya, para pengunjungnya cukup banyak dan relatif mengalami peningkatan. Selain dari warga perumahan setempat dan Desa Suwayuwo, juga dari desa sekitar berdatangan pula ke lokasi ini.

“Selain unik, kami bisa leluasa menikmati kuliner jaman dulu sesuai dengan selera. Diluar sudah langkah dan jarang orang berjualan, disini ada. Sekalian refresing bersama keluarga jalan-jalan,” cetus Dayat, warga Desa Glagahsari.

Karena cukup unik, dalam tiap pelaksanaannya mendapat perhatian dan atensi tersendiri dari pemdes setempat. Juga Pemerintahan Kecamatan Sukorejo.

“Ini ide bagus dari warga Perumahan Bukit Alam yang patut diapresiasi, bisa membuat dan menggelar Pasar Ndeso Sorpoh. Pastinya menjadi perhatian kami, juga di dorong menjadi destinasi wisata kuliner di Kecamatan Sukorejo. Bila perlu Kabupaten Pasuruan,” ujar Camat Sukorejo Diano Vela Fery Santoso. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin
#tempo dulu #kecamatan sukorejo #pasar ndeso sorpoh #jadul #desa suwayuwo #zaman dulu