Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jelang Panen Raya Petani Apel Tutur Berpotensi Merugi Karena Ini

Jawanto Arifin • Sabtu, 2 Februari 2019 | 19:15 WIB
Photo
Photo
TUTUR - Panen raya apel di musim hujan kali ini membuat petani apel di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjerit. Lantaran berbarengan dengan panen raya buah lain, harga apel terjun bebas.

Photo
Photo
SIAP PANEN: Petani dan buruh tani apel di Tutur melintasi kebun apel. (Mokhamaad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat ini, harga apel mencapai Rp 3 ribu – Rp 4 ribu per kilogram. Dan, ini adalah harga terendah apel Tutur sepanjang musim yang ada.

Heri Subhan, ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tutur mengatakan. Anjloknya harga apel sudah terasa sejak Desember 2018. Yaitu, saat memasuki musim hujan.

“Harga apel saat ini mencapai Rp 3 ribu – 4 ribu per kilogram. Harga ini sangat anjlok. Sebab, harga normal di tingkat petani apel Rp 10 ribu,” terangnya.

Sebenarnya, menurut Heri, lumrah harga apel turun saat panen raya. Apalagi, saat ini musim hujan. Namun, dibandingkan musim hujan tahun-tahun sebelumnya, harga apel tahun ini adalah yang paling rendah. Sementara tahun-tahun sebelumnya, rata-rata di kisaran Rp 6 ribuan per kilogram.

Harga Rp 3 ribu – Rp 4 ribu per kilogram, dikatakan Heri, jelas merugikan petani. Harga tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi. Mulai dari pemupukan, pemeliharaan, sampai pestisida yang harganya terus naik.

Achmad Nur Huda, petani asal Nongkojajar mengatakan, musim panen raya apel saat ini benar-benar membuat petani merugi. “Sangat rugi. Bisanya satu kilogram Rp 9 ribu. Sekarang hanya laku Rp 4 ribu saja per kilogram,” terangnya.

Dalam sekali panen, Huda biasanya menghasilkan 23 ton apel. Jika dijual dengan harga normal, tiap ton apel mencapai Rp 9 juta. Sementara saat ini hanya Rp 4 juta per ton. Dengan kata lain, pendapatannya menurun hingga Rp 5 juta per ton.

“Jadi panen kali ini saya rugi Rp 115 juta. Rugi karena harga jual tidak mencapai biaya balik modal produksi,” keluhnya.

Ihwan, kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Pasuruan mengatakan, anjloknya harga apel lokal saat ini lantaran terkait supply dan demand di pasaran. Menurutnya, saat ini panen apel berbarengan dengan panen buah lokal yang lain.

“Memang banyak persaingan saat panen raya ini. Sebab, panen berbarengan dengan panen buah lain, misalnya rambutan sampai buah naga. Jadi, jelas mempengaruhi masyarakat yang membeli. Pembeli jadi punya lebih banyak pilihan kan,” pungkasnya. (eka/fun) Editor : Jawanto Arifin
#apel batu #produk apel #panen apel #petik apel #apel tutur