RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen
Sebuah rumah di Dusun Kandangan Krajan, Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen, tampak lengang. Tapi, tidak di dalamnya yang menampakkan aktivitas dari pemiliknya. Di rumah itulah Ade Sandra Fahrizal, 30, tinggal.
Saat Jawa Pos Radar Bromo masuk ke sana, orang pasti sepakat jika mengatakan si pemilik rumah adalah orang yang kreatif. Ini, lantaran banyak barang kerajinan yang terpajang di sana.
Kerajinan itu mulai berupa pigura, tempat mug atau gelas, serta lainnya. Semua kerajinan itu berbahan kayu dan terpajang rapi. Itu semua adalah buatan tangan dari Ade Sandra Fahrizal.
Aneka kerajinan tersebut merupakan hasil karyanya dan sengaja ia buat untuk mempercantik ruang tamu rumahnya. Jumlahnya ada banyak. Itu, belum termasuk yang diproduksinya namun sudah laku terjual.
“Produk kerajinan tersebut saya buat dari bahan baku palet bekas. Dibentuk dan dikerjakan di rumah dari barang mentah hingga jadi, dibantu satu orang pekerja,” beber bapak dua orang anak ini membuka percakapan.
Sejatinya, bukan hanya kerajinan berupa aksesori saja yang dia buat. Dia juga mampu membuat barang furnitur seperti dipan, lemari, meja, kursi, dan rak. Semuanya terbuat dari palet bekas.
Jika dilihat hasil produknya yang dibuat dan sudah jadi, bentuk serat kayunya terlihat bagus sekali. Meski dari bahan bekas, Ade tak sembarangan memakai palet. Palet-palet itu dari jenis kayu jati Belanda. Palet jati Belanda itu dia beli dari pabrik yang berada di sekitaran Prigen.
“Karena seratnya unik, kuat, dan mudah dibentuk. Maka sengaja saya pilih palet dari kayu jati Belanda. Harganya murah serta terjangkau, cari dan belinya tak susah,” tutur suami Uliyah Indah Khasanah itu.
Profesinya sebagia perajin limbah palet menjadi aneka kerajinan dan furnitur ini, berlangsung belum terlalu lama. Bahkan, dia baru memulainya akhir 2017 lalu, setelah dia memutuskan berhenti bekerja di pabrik.
Akhirnya pilih menjadi wiraswasta dan melirik usaha ini. Modal nekat dan pas–pasan, kini berkembang dan tetap eksis sampai dengan sekarang.
“Tidak ada yang ngajari saya ataupun kursus khusus. Belajar secara otodidak, berangkat dari hobi utak-atik. Alhamdulillah, ternyata bisa dan menghasilkan, kini bisa menjadi pekerjaan utama,” ungkapnya.
Barang–barang tersebut semuanya dikerjakan di rumahnya, tepatnya di gudang sederhana di samping dan belakang rumahnya. Menggunakan peralatan sederhana, yakni pertukangan pada umumnya. Seperti bor, gergaji, gerinda, amplas, pahat, palu, dan masih banyak lainnya.
Barang-barang itu tak hanya dijualnya saja. Berkat hasil kreasinya yang unik, Ade acap kali sering diminta untuk mendesain dan membuat dekorasi rumah, bahkan kafe. Ini menjadi pemasukan tambahannya dan Ade begitu bersemangat untuk mengerjakannya.
“Tiap hari produksi, melayani orderan para pemesan atau konsumen dari luar via online maupun telepon. Dan, saya mengerjakan barang sesuai pesanan,” cetusnya.
Sejauh ini pemasarannya memang via online. Bisa lewat Instagram, Facebook, dan juga telepon. Pembelinya juga banyak, kebanyakan dari luar daerah, seperti Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, hingga beberapa kota di Kalimantan. Justru sekitaran Pasuruan, kabupaten dan kota juga ada, tapi tak terlalu banyak.
“Harganya terjangkau, semuanya tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Hasil yang didapat lumayan untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Jika ada sisa ya ditabung,” tukasnya.
Melalui usahanya ini, ke depannya ia bercita-cita ingin buka gerai atau outlet sendiri. Ade juga ingin kerajinannya bisa diproduksi masal layaknya pabrik atau minimal home industry. (fun) Editor : Jawanto Arifin