RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan
Tawa riang langsung terpancar dari raut wajah Nurul Aisyah, saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi rumahnya beberapa waktu lalu di Kampung Baru, Lingkungan Turus, Kelurahan/Kecamatan Pandaan. Saat berkenalan dengannya, mungkin akan menganggap Nurul adalah seorang lelaki.
Apa pasal? Nurul memiliki model rambut cepak. Perawakan kurus dan suaranya yang serak. Gayanya pun tomboi, meski sedikit malu-malu saat ditanya.
Anak ke empat dari pasangan suami-istri Mustamin, 45 dan Djunaimah, 39, ini mungkin adalah bibit atlet silat berpotensi. Di usianya yang masih dini, dia sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan level nasional. Beberapa di antaranya ada yang meraih juara.
Pelajar kelas VI di SDN Jogosari II Pandaan tersebut selama ini tergabung menjadi pesilat di Perisai Diri Pandaan. “Saya ikut pencak silat di Perisai Diri belum lama, aktif di dua tahun terakhir. Minat dan tertarik karena dorongan bapak,” ucapnya polos, yang waktu itu baru saja pulang dari sekolah.
Sudah banyak prestasi di bidang ini ia raih, sekaligus keluar sebagai juara. Di antaranya Juara Satu Tingkat Jatim Pra Remaja kategori tanding IPSI di Surabaya 2017 lalu. Kemudian juara dua turnamen di Universitas Negeri Semarang Agustus 2018 lalu. Bahkan, saat mengikuti championship seri ke empat yang levelnya Kejurnas pada Oktober kemarin di Jogjakarta, dia meraih juara satu.
Kalau kejuaraan daerah, jangan ditanya, dia sudah banyak ikut. Terakhir, Nurul juara satu Bupati Cup putri usia dini kategori tanding pada awal November di Bangil. Juga masih banyak prestasi lainnya.
“Pertandingan baik turnament maupun kejuaraan, semuanya turun di kelas tanding. Kategori kelas tanding merupakan spesialisasi selama ini. Akhir Desember nanti, saya bahkan mau ikut kejuaraan nasional di Bandung,” tuturnya polos.
Meskipun secara fisik sebagai pesilat cilik posturnya jauh dari ideal, ia tak pernah minder dan kecil hati. Nurul giat berlatih. Bahkan, latihan sepekan hingga lima kali, dilahapnya. Latihan itu juga sangat fleksibel diikutinya. Baik sore atau malam, dia pasti datang asalkan tak ada halangan.
Nurul mengaku, jika mengikuti pertandingan, acap kali lawan meremehkannya. Justru itu membuatnya kian termotivasi untuk mengalahkan lawannya. Dia pun bertanding secara fair play, tanpa melukai ataupun menyakiti lawan tandingnya.
“Sengaja saya pilih kategori tanding karena tidak ribet dan mudah dipelajari. Pada saat pertandingan kunci utamanya percaya diri, sehingga rasa takut pun hilang. Menang atau kalah, itu biasa dan wajar,” cetusnya
Meskipun kini menjadi pesilat cilik berpretasi, Nurul mengaku tak sampai mengganggu aktivitas lainnya selama ini. Seperti sekolah ataupun belajar. Biasanya, latihan yang diikutinya, selepas belajar dari sekolah maupun mengaji di TPQ.
Selama menjadi pesilat, ia juga pernah mendapatkan pengalaman pahit dan dianggapnya sebagai pelajaran. Yakni, pernah patah tulang pada tangan kanannya saat sparring di Mojokerto.
Pasca kejadian tersebut, tak membuatnya kapok. Setelah dinyatakan sembuh dan pulih, kembali aktif lagi berlatih dan bertanding.
“Saya sudah terlanjur suka dan senang dengan pencak silat. Tentunya tetap aktif menggelutinya. Saya bercita-cita menjadi pesilat nasional berlaga di PON, SEA Games, Asian Games, dan Olympiade,” bebernya dengan mimik serius.
Sementara itu, Mustamin, 42, ayah kandung Nurul, mengaku awalnya kaget dan tak mengira anak ke empatnya tersebut kini menjadi pesilat. Termasuk saat Nurul melontarkan keinginannya untuk mendalami silat. Lelaki yang tiap harinya menjadi juru parkir (jukir) di Jalan Pahlawan Sunaryo, Pandaan, tersebut terkejut tetapi sekaligus senang.
Saat anaknya ini bertanding di sekitaran Jatim, selalu ia sempatkan ikut mendampingi. Namun, ketika keluar provinsi, dirinya pilih absen karena terbentur biaya.
“Saya memanggilnya Nurul, ia menjadi kebanggaan kami di keluarga. Juga di kampungnya. Tentunya sebagai orang tua, wajib memotivasi dan mendukungnya terus untuk berprestasi,” katanya. (fun) Editor : Jawanto Arifin