RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari
Penduduk di Desa Kayoman mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Pertanian di Kayoman didominasi padi, serta palawija dengan persawahan tadah hujan.
Selain padi, desa ini juga penghasil komditas kapuk. Tak tanggung – tanggung, untuk komoditas kapuk luasnya hampir mencapai 80 haktare. Keberadaannya tersebar di tanah lahan kebun milik warga desa setempat, utamanya di Dusun Krajan dan Beranan.
“Tempat kami adalah penghasil komoditas kapuk. Pohon kapuk sudah ada sejak dulu dan bertahan hingga sekarang. Bisa dikatakan penghasilan tambahan petani saat musim kemarau,” beber Kades Kayoman, Abdul Hamid.
Pohon kapuk, kata Abdul Hamid, adalah tanaman yang panennya musiman. “Biasanya bersamaan musim kemarau, antara akhir Juli hingga pertengahan Oktober,” imbuhnya.
Satu pohon kapuk saat panen mampu menghasilkan kapuk hingga 1-2 kuintal. Tentunya tergantung lebat atau tidaknya pohon kapuk.
“Komoditas kapuk ini sangat membantu sekali perekonomian warga kami, mayoritas memiliki pohon kapuk di tanah tegalannya masing-masing,” ucapnya.
Saat musim panen tiba seperti sekarang, kapuknya dijual mentah bersama biji dan kulitnya secara glondongan ke pengepul. Para pengepul juga ada di desa setempat. Umumnya kapuk dihargai perkilogram. Saat ini harganya antara Rp 2.800 – 3.000.
Pohon jenis ini tahan lama dan perawatannya mudah. Yang penting dengan penyiraman cukup maka subur dengan sendirinya. Sebab itulah oleh warga setempat dipelihara dengan baik. Sbeb tiap kali panen, hasilnya bisa untuk tambahan penghasilan.
“Selain diambil kapuknya untuk isi kasur dan bantal, bijinya bisa dimanfaatkan menjadi minyak. Lalu, kulitnya dapat diolah lagi menjadi pakan ternak,” ungkap Wakhid, petani sekaligus pengepul dan pengelola kapuk warga Dusun Krajan. (fun) Editor : Jawanto Arifin