Anak-Anak Tak Terlihat di Tengah Krisis: Menyuarakan Mereka yang Hilang di Balik Besarnya Bencana

radar bromo • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:45 WIB
dr. Ahmad Iqbal Romdloni
dr. Ahmad Iqbal Romdloni

Oleh: : dr. Ahmad Iqbal Romdloni

KETIKA suatu bencana alam terjadi, perhatian kita umumnya tertuju pada hal-hal besar yang mudah dilihat. Seperti: rumah yang roboh, akses jalan yang terputus, hingga mata pencaharian yang hilang.

Ketika kualitas udara memburuk pun, kita hanya melihat angka polusi serta dampak fisik yang ditimbulkan.

Begitu pula ketika terjadi krisis pangan, perhatian kita cenderung terhenti pada berapa banyak keluarga yang kekurangan makanan.

Namun, di antara angka-angka tersebut, ada satu kelompok yang sering kali luput dari penglihatan kita secara khusus, yakni anak-anak.

Posisi Anak dalam Suatu Bencana

Tidak terlihatnya populasi anak dalam krisis bukan berarti mereka tidak terdampak. Justru karena dampak krisis pada anak sering kali berbeda, bersifat jangka panjang, dan membutuhkan atensi yang lebih dalam, persoalan yang melibatkan mereka baru terlihat setelah perhatian publik beralih ke persoalan yang lain.

Pada Agustus 2026, gempa di Nusa Tenggara Timur kembali mengingatkan kita akan hal tersebut. Seorang balita dilaporkan meninggal setelah berada di pengungsian.

Dalam situasi tersebut, kita mungkin membayangkan bencana sebagai bangunan yang runtuh atau korban yang menderita luka dan cedera, tapi bayi bayi atau balita, ancaman dapat datang bahkan dari bentuk yang jauh lebih sederhana, seperti: udara malam yang dingin, tempat tidur yang tidak memadai, hingga tubuh mereka yang secara alami belum memiliki pertahanan yang baik.

Persoalan yang sama juga terlihat pada bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika asap menyelimuti suatu wilayah, dampaknya sering dibicarakan dalam istilah kualitas udara dan dampak fisik pada lingkungan.

Meskipun demikian, ketika dokter bertemu dengan anak yang batuk, sesak, hingga mengi, angka kualitas udara memiliki arti yang berbeda. Anak bernapas lebih cepat dengan paru-parunya yang masih berkembang.

Terlebih ketika seorang anak menderita asma atau penyakit pernapasan, perburukan gejala akan ditemukan berbanding lurus dengan kualitas udara.

Meskipun demikian, tidak ada sirene ketika anak menghirup PM2.5 setiap hari, tidak ada pengungsian khusus ketika anak dengan asma berulang kali terpapar asap, dan tidak ada satu kejadian dramatis yang membuat kita menyebut anak sebagai “korban polusi”.

Mengapa Anak Mudah Terlewatkan?

Ketika menimbang berbagai dampak yang terjadi akibat krisis pada anak, satu pertanyaan sederhana terlintas dalam benak kita: mengapa anak begitu mudah terlewatkan dalam krisis?

Salah satu alasan sederhananya adalah anak tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri.

Seorang bayi tidak dapat mengatakan bahwa ia kedinginan di pengungsian. Seorang anak dengan asma tidak bisa menentukan kebijakan terkait kualitas udara yang dihirupnya.

Bahkan anak yang jatuh sakit akibat keracunan makanan pun tidak bisa secara langsung meminta agar makanan yang diterima dibuat sesuai standar keamanan pangan.

Baca Juga: Di Tengah Bencana Gempa NTT, Para Menteri Gelar Upacara HUT RI di Ruteng

Anak memiliki suara dan anak memiliki hak untuk didengar. Hak yang mereka miliki pun tidak lebih ringan dari populasi di luar rentang usianya.

Namun ketika kemampuan mereka untuk menyampaikan kepentingannya terbatas, orang dewasa menjadi sosok yang bertanggungjawab untuk memastikan kebutuhan tersebut terwakili, selayaknya kebutuhan orang dewasa sendiri.

Peran Dokter dalam Mewakili Kepentingan Anak

Setiap orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan suara dan hak anak dapat terwakili, terlepas dari status atau profesinya.

Dari perspektif seorang dokter, kehadiran anak di ruang praktik sebagai pasien bukan sekadar kasus yang perlu diselesaikan dengan serangkaian tatalaksana, melainkan dilihat sebagai suatu konsekuensi dari permasalahan yang tengah terjadi. Sebagai contoh, ketika seorang anak datang dengan sesak setelah terpapar asap, dokter tidak hanya menilai saluran napas, tetapi juga harus menanyakan udara apa yang dihirup anak setiap hari.

Ketika anak dengan diare datang setelah bencana, seorang dokter tidak hanya memikirkan diagnosis dan terapi cairan yang diberikan, melainkan perlu menelusuri sumber air, makanan, sanitasi, hingga kondisi tempat tinggal.

Seorang dokter juga harus melihat kesehatan anak melebihi keluhan demam, sesak, atau luka yang terlihat. Terkadang gangguan kesehatan anak hadir sebagai perubahan perilaku yang membutuhkan waktu dan perhatian untuk dikenali.

Apabila perubahan tersebut ditemui, maka seorang dokter juga melakukan pemeriksaan yang mencakup bagaimana kualitas tidur anak, apakah anak merasa ketakutan, apakah anak sudah kembali bermain, hingga apakah anak bisa kembali ke sekolah seperti semula.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terkesan sederhana, namun di sana lah kita dapat menemukan masalah kesehatan di balik sebuah krisis.

Dengan demikian, sudah waktunya kita mengubah cara memandang respons terhadap krisis. Bukan hanya bertanya, “Berapa banyak korban?”, tetapi juga, “Berapa banyak di antara korban yang berupa anak?”. Bukan hanya bertanya, “Apakah bantuan sudah diberikan?”, tetapi juga “Apakah bantuan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak?”. Bukan hanya bertanya, “Apakah kondisi sudah terkendali?”, tetapi juga, “Apakah kondisi sudah aman bagi anak?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan permintaan agar anak selalu diperlakukan lebih istimewa, melainkan pengakuan bahwa anak memiliki kebutuhan biologis, perkembangan, dan psikososial yang khas. Respons yang dirancang untuk masyarakat umum belum tentu otomatis memenuhi kebutuhan anak.

Anak-anak mungkin tidak selalu memiliki tempat ketika suatu keputusan dibuat. Bahkan mereka mungkin belum memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri ketika kepentingan mereka dihadapkan dengan kepentingan yang lebih besar.

Terlepas dari hal itu, mereka tetap menerima konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Maka dari itu, sudah menjadi tanggung jawab kita, sebagai orang tua, masyarakat, tenaga kesehatan, hingga pembuat kebijakan, untuk memastikan bahwa ketika krisis datang, anak tidak hilang di antara angka-angka. Kita juga harus memastikan, apakah kita mampu melihat anak-anak yang tidak memiliki cukup kuasa untuk memastikan dirinya sendiri terlihat.

Editor : Muhammad Fahmi
krisis bencana anak