Ketika Indonesia Memiliki Banyak Pemimpin, tetapi Kekurangan Tokoh

Muhammad Fahmi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:35 WIB

 

Iwan A. Fuad
Iwan A. Fuad

Oleh : Iwan A Fuad, Ketua Pelaksana Gerakan Desa Emas Indonesia

Indonesia tidak pernah kekurangan orang yang menduduki jabatan. Setiap lima tahun lahir ribuan kepala daerah, anggota legislatif, pejabat pemerintahan, dan pengurus organisasi.

Setiap hari, ruang digital juga menghadirkan orang-orang baru yang dikenal oleh jutaan pengikut. Wajah mereka memenuhi layar, pernyataan mereka dikutip media, dan aktivitas mereka dibicarakan masyarakat.  Namun, banyaknya orang yang tampil belum tentu menandakan lahirnya banyak tokoh.

Kita hidup pada zaman ketika seseorang dapat dikenal dalam hitungan jam, tetapi belum tentu dipercaya sepanjang zaman. Popularitas dapat dibangun melalui algoritma, iklan, pencitraan, dan pengulangan pesan. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilihan, penunjukan, hubungan politik, atau kekuatan modal.

Akan tetapi, ketokohan tidak dapat dibeli, diwariskan begitu saja, atau dibentuk hanya dengan publikasi. Ketokohan tumbuh melalui perjalanan panjang: kejujuran yang teruji, kemampuan yang dibuktikan, pengabdian yang dirasakan, keberanian dalam menghadapi risiko, serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara orang terkenal, pejabat, pemimpin, dan tokoh. Orang terkenal adalah seseorang yang diketahui banyak orang. Pejabat adalah seseorang yang memperoleh kewenangan formal dari organisasi atau negara.

Pemimpin adalah seseorang yang mampu mengarahkan dan memengaruhi orang lain. Adapun tokoh adalah pribadi yang dipercaya sebagai rujukan nilai, pemikiran, sikap, dan tindakan. Seorang tokoh mungkin mempunyai jabatan, tetapi ketokohannya tidak bergantung pada jabatan. Ia mungkin dikenal luas, tetapi tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Bahkan, banyak tokoh sejati justru mulai bekerja dalam kesunyian, jauh sebelum masyarakat mengenal namanya.

Baca Juga: Jejak Mbah Mataram, Musafir Majapahit yang Diyakini Membabat Alas Desa Lambangkuning di Lumbang Probolinggo

Jabatan akan berakhir ketika masa tugas selesai. Popularitas meredup ketika perhatian publik berpindah. Kekayaan dapat hilang seketika,  dan kekuasaan dapat direbut oleh yang lain. Namun, ketokohan yang dibangun di atas integritas dan pengabdian akan menetap dalam ingatan kolektif masyarakat.

Pengaruhnya terus bekerja melalui gagasan, lembaga, kebijakan, karya, dan manusia-manusia yang pernah dibinanya. Karena itu, ketokohan bukan terutama tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang dapat ia angkat.

Bukan seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa luas manfaatnya dirasakan. Bukan seberapa besar kekuasaan yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa bertanggung jawab ia menggunakan kekuasaan tersebut untuk melayani kepentingan bersama.

Negeri yang Merindukan Keteladanan

Indonesia merupakan bangsa besar dengan kekayaan alam, keragaman budaya, kekuatan demografi, dan warisan spiritual yang luar biasa. Namun, kebesaran potensi tidak selalu otomatis menjadi kebesaran peradaban. Sumber daya alam akan habis  bila dikelola tanpa bijaksana. Bonus demografi dapat berubah menjadi beban, apabila generasi muda tidak memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan arah kehidupan.

Demokrasi dapat kehilangan makna apabila hanya menjadi arena perebutan jabatan. Agama pun dapat kehilangan daya perubahannya, apabila berhenti pada simbol dan tidak menghadirkan kejujuran, keadilan, serta kasih sayang sosial.

Bangsa kita  sedang menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Korupsi masih telah merusak sendi-sendi kehidupan, pelayanan publik yang lemah menggerus kepercayaan. Politik transaksional menjadi komoditas.

Baca Juga: Dari Desa Terisolasi ke Panggung Juara, Kisah Hebat Bimbel Akar Rumput di Kabupaten Pasuruan

Ketimpangan hari ini membuat sebagian masyarakat menikmati kemajuan, sementara sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kerusakan lingkungan meninggalkan banjir, kekeringan, konflik agraria, dan hilangnya sumber penghidupan.

Ruang digital dipenuhi disinformasi, pertengkaran, penghakiman, serta upaya membangun pengaruh tanpa tanggung jawab. Persoalan-persoalan tersebut bukan hanya menunjukkan kelemahan system, tetapi juga memperlihatkan krisisnya ketokohan.

Ketika tokoh kehilangan keberanian moral, masyarakat akan kehilangan pembela. Ketika tokoh mengikuti arus pragmatisme, masyarakat kehilangan arah. Ketika tokoh lebih sibuk mempertahankan kedekatan dengan kekuasaan daripada menyampaikan kebenaran, rakyat kehilangan jembatan aspirasi.

Ketika tokoh agama hanya hadir dalam seremoni, tokoh politik datang menjelang pemilihan, dan tokoh intelektual menjauh dari penderitaan rakyat, ruang publik akan dipenuhi figur-figur yang ramai berbicara tetapi miskin keteladanan.

Krisis terbesar suatu bangsa bukanlah semata-mata kekurangan sumber daya, melainkan kehilangan manusia yang layak dipercaya untuk mengelolanya. Bangsa masih dapat bangkit dari krisis ekonomi apabila memiliki pemimpin yang jujur, cakap, dan dipercaya.

Akan tetapi, ketika kepercayaan runtuh, kebijakan yang baik pun akan dicurigai dan ajakan yang benar sulit memperoleh dukungan. Indonesia membutuhkan tokoh yang mampu menjembatani jarak antara nilai dan kenyataan; antara negara dan rakyat; antara agama dan kemanusiaan; antara ilmu dan kebijakan; serta antara cita-cita besar dan tindakan sehari-hari.

Ketokohan Bukan Panggung Kemegahan

Ketokohan bukanlah kedudukan sosial yang harus dikejar, karena banyak yang berlomba membangun kesan sebelum membangun kapasitas; mencari pengikut sebelum mempunyai arah; mengejar pengakuan sebelum menghasilkan pengabdian.  Ketokohan diperlakukan sebagai proyek personal branding. Foto kegiatan diperbanyak, gelar ditonjolkan, kedekatan dengan orang penting dipamerkan, dan setiap bantuan harus diketahui publik. Masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai subjek yang harus diberdayakan, tetapi sebagai latar untuk membesarkan nama seseorang.  

Padahal, ketokohan sejati bukanlah panggung kemegahan, melainkan ruang pertanggungjawaban. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula akibat dari ucapan, keputusan, dan keteladanannya. Kesalahan orang biasa mungkin hanya berdampak pada dirinya dan lingkungan terdekat. Kesalahan seorang tokoh dapat diikuti ribuan orang, merusak institusi, memecah masyarakat, bahkan diwariskan kepada generasi berikutnya. Manusia tidak diciptakan hanya untuk menjadi terkenal, tetapi untuk beribadah dan menjalankan amanah kekhalifahan.  

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

Kekhalifahan bukan izin untuk menguasai manusia sesuka hati. Ia adalah amanah untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan mempertanggungjawabkan setiap kewenangan di hadapan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan tertinggi dalam membangun ketokohan. Sebelum menerima kerasulan, beliau telah memperoleh kepercayaan sebagai Al-Amīn, orang yang dapat dipercaya.

Gelar itu tidak lahir dari kampanye, tetapi dari rekam jejak. Beliau memimpin bukan hanya dengan perintah, melainkan dengan keteladanan; bukan hanya dengan keberanian, melainkan juga kasih sayang; bukan hanya dengan visi akhirat, melainkan juga kecakapan membangun masyarakat, ekonomi, persaudaraan, hukum, dan tata kelola negara.

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Fondasi ketokohan adalah keteladanan. Orang mungkin patuh kepada kekuasaan karena takut, tetapi mereka mengikuti seorang tokoh karena percaya. Ketakutan hanya menghasilkan kepatuhan sementara, sedangkan keteladanan melahirkan kesetiaan nilai yang dapat melampaui usia sang tokoh.

Dari Kepentingan Diri Menuju Kepentingan Peradaban

Ketokohan berkembang melalui perluasan lingkaran tanggung jawab. Pada tingkat pertama, seseorang belajar mengelola dirinya. Ia menata niat, karakter, kebiasaan, ilmu, emosi, kesehatan, dan keluarganya. Seseorang sulit menjadi rujukan masyarakat apabila kehidupannya sendiri dikuasai oleh kebohongan, ketidakdisiplinan, kemarahan, atau ambisi yang tidak terkendali.

Pada tingkat kedua, ia hadir di tengah masyarakat. Ia mendengarkan persoalan, membangun hubungan, menolong tanpa membeda-bedakan, menyelesaikan masalah kecil, dan menumbuhkan kepercayaan.

Di sinilah ketokohan sosial mulai bertunas. Bukan karena orang tersebut menyatakan dirinya sebagai tokoh, tetapi karena masyarakat mulai merasakan manfaat kehadirannya.

Pada tingkat ketiga, pengabdiannya diarahkan kepada kepentingan bangsa. Ia tidak lagi melihat masyarakat hanya berdasarkan kesamaan suku, agama, organisasi, partai, atau kelompok. Ia berusaha menemukan titik temu, menjaga persatuan, membela keadilan, dan merawat kebinekaan. Ia boleh memiliki identitas politik dan ideologis, tetapi keberpihakannya kepada kelompok sendiri tidak boleh membuatnya berlaku tidak adil kepada kelompok lain.

Pada tingkat keempat, ketokohan memperoleh dimensi kenegaraan. Tokoh tidak selalu harus menjadi pejabat, tetapi ia perlu memahami bagaimana negara bekerja. Ia mengawal konstitusi, memperbaiki kebijakan publik, menjaga akuntabilitas, mengkritik kekuasaan secara bertanggung jawab, dan menawarkan jalan keluar. Ia tidak memusuhi negara, tetapi juga tidak menyerahkan nuraninya kepada penguasa.

Pada tingkat tertinggi, ketokohan diarahkan untuk membangun peradaban. Seorang tokoh tidak hanya memikirkan kemenangan sesaat atau masa jabatannya. Ia membangun manusia, melahirkan gagasan, mendirikan institusi, menciptakan sistem, dan menyiapkan generasi penerus. Ia memahami bahwa kebesaran peradaban tidak bergantung pada satu orang, tetapi pada nilai yang hidup, ilmu yang berkembang, lembaga yang kuat, ekonomi yang berkeadilan, serta generasi yang mampu melanjutkan perjuangan.

Tokoh masyarakat menyelesaikan persoalan hari ini. Tokoh bangsa menjaga persatuan dan masa depan bersama. Tokoh negara memperbaiki sistem dan kebijakan. Tokoh peradaban mewariskan nilai, ilmu, manusia, dan institusi yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tiada.

Ketokohan sebagai Akumulasi Kepercayaan

Ketokohan tidak lahir dalam satu peristiwa besar. Ia merupakan akumulasi dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara benar dan konsisten. Kepercayaan tumbuh ketika seseorang datang sesuai janji. Kepercayaan bertambah ketika ia berkata jujur sekalipun merugikan dirinya.

Kepercayaan menguat ketika ia hadir pada masa sulit, bukan hanya pada saat perayaan. Kepercayaan menjadi ketokohan ketika masyarakat berulang kali menyaksikan bahwa orang tersebut memiliki nilai, kemampuan, keberanian, dan kepedulian yang dapat diandalkan.

Ketokohan dirumuskan sebagai: Ketokohan = Integritas × Kompetensi × Kepedulian × Konsistensi × Dampak × Regenerasi

Setiap unsur dalam membangun ketokohan menentukan keseluruhan hasil. Integritas tanpa kompetensi dapat melahirkan orang baik yang belum mampu menyelesaikan masalah. Kompetensi tanpa integritas dapat menghasilkan kecerdasan yang manipulatif. Kepedulian tanpa konsistensi hanya menghadirkan kegiatan sesaat.

Konsistensi tanpa dampak dapat berubah menjadi rutinitas yang kehilangan tujuan. Dampak tanpa regenerasi membuat perubahan berakhir bersama kepergian tokohnya. Ketokohan tidak cukup dinilai dari niat baik. Ia harus dibuktikan melalui kemampuan dan hasil. Ketokohan juga tidak cukup dinilai dari hasil material.

Cara memperoleh hasil tersebut harus benar, transparan, adil, dan sesuai nilai. Lebih jauh lagi, seorang tokoh harus melahirkan orang lain yang bahkan dapat tumbuh lebih baik daripada dirinya. Ketika seorang tokoh takut melihat kadernya berkembang, sesungguhnya ia sedang membangun pengikut, bukan penerus. Ketika sebuah gerakan berhenti setelah pendirinya tiada, berarti ketokohannya belum berhasil berubah menjadi peradaban.

Ketokohan  tidak disusun untuk mengajarkan cara memanipulasi persepsi, mengumpulkan pengikut, atau menciptakan pencitraan yang tidak sesuai kenyataan. Kami mengajak anda menjalani proses yang lebih sulit, tetapi jauh lebih bermakna: membangun kelayakan diri agar kepercayaan masyarakat tumbuh secara alami.

Proses tersebut dimulai dengan mengenal diri, menemukan panggilan kehidupan, menentukan nilai inti, dan memilih masalah yang layak diperjuangkan. Setelah itu, hadir dan melayani masyarakat, membangun kompetensi, melahirkan gagasan, mengembangkan jaringan, membentuk tim, serta menciptakan program yang menghasilkan perubahan nyata.

Pada tahap berikutnya, mengubah pengaruh pribadi menjadi gerakan dan institusi. belajar berhadapan dengan kritik, konflik, fitnah, uang, kekuasaan, serta godaan popularitas. Pada akhirnya, ia mesti menyiapkan regenerasi dan memastikan bahwa perjuangan tidak berhenti pada dirinya.

Ketokohan dibutuhkan dalam setiap arena kehidupan. Guru dapat menjadi tokoh pendidikan. Ulama dapat menjadi tokoh pemersatu umat. Pengusaha dapat menjadi tokoh pemberdayaan ekonomi bangsa Aparatur sipil negara dapat menjadi tokoh pelayanan publik. Akademisi dapat menjadi tokoh pemikiran. Pemuda dapat menjadi tokoh perubahan di komunitasnya. Seorang ibu dapat menjadi tokoh yang membentuk karakter keluarga dan lingkungan.

Setiap orang memiliki arena pengabdian yang berbeda. Tidak semua orang harus menjadi tokoh nasional. Indonesia justru sangat membutuhkan tokoh-tokoh lokal yang hidup bersama masyarakat, memahami persoalan mereka, dapat ditemukan ketika diperlukan, dan bekerja tanpa harus menunggu perhatian pusat.

Ketokohan yang kuat di tingkat nasional selalu berakar pada kepercayaan yang dibangun dari bawah. Pohon yang tinggi hanya dapat bertahan apabila akarnya masuk jauh ke dalam tanah.

Panggilan untuk Menjadi Layak Dipercaya

Pertanyaanya bukan “Bagaimana agar saya dikenal sebagai tokoh?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah saya telah layak dipercaya? Apakah perkataan saya dapat dipegang? Apakah kehadiran saya memberikan rasa aman? Apakah ilmu saya mampu menjawab persoalan? Apakah saya berani membela kebenaran ketika ada risiko? Apakah masyarakat merasakan manfaat? Apakah keluarga dan orang-orang terdekat melihat keteladanan yang sama dengan citra yang saya tampilkan di depan publik? Apakah saya sedang membangun penerus atau hanya mengumpulkan pengagum?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa tidak nyaman. Namun, ketokohan tidak dibangun dengan menghindari cermin. Ia tumbuh dari keberanian untuk mengenali kekurangan, memperbaiki kesalahan, menerima kritik, dan terus belajar.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang bercita-cita menjadi pemimpin. Indonesia membutuhkan manusia yang bersedia menjalani harga dari sebuah ketokohan: belajar ketika orang lain ingin segera tampil; bekerja ketika orang lain hanya berbicara; tetap jujur ketika kebohongan menawarkan keuntungan; tetap melayani ketika tidak ada kamera; tetap membela rakyat ketika kekuasaan memberikan tekanan; dan bersedia mundur ketika keberadaannya tidak lagi membawa kemaslahatan.

Tokoh sejati tidak sibuk meminta masyarakat mengakui ketokohannya. Ia sibuk memastikan bahwa hidupnya membawa manfaat. Pengakuan masyarakat hanyalah akibat, bukan tujuan.

Pada akhirnya, ukuran seorang tokoh bukan seberapa banyak orang berdiri di belakangnya, melainkan seberapa banyak manusia yang mampu berdiri tegak karena pernah dibimbingnya. Bukan seberapa panjang gelar yang mengikuti namanya, melainkan seberapa panjang manfaat yang terus mengalir setelah kehidupannya berakhir.

Indonesia menunggu lahirnya tokoh-tokoh seperti itu: tokoh yang berpikir melampaui pemilihan, bekerja melampaui jabatan, mengabdi melampaui kelompok, dan mewariskan kebaikan melampaui zamannya.

 Boleh jadi, perjalanan itu harus dimulai dari diri kita sendiri.

 

Editor : Muhammad Fahmi
popularitas kepercayaan Tokoh pemimpin