Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kurban sebagai Mekanisme Kohesi Sosial di Era Digital: Dari Ritual Sakral ke Identitas Kolektif

Muhammad Fahmi • Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:36 WIB
Agus Lithanta
Agus Lithanta

Oleh: Dr. H. AGUS LITHANTA. S.Pd., M.Pd.* 

 

SETIAP tahun saat bulan Zulhijah tiba, Indonesia diselimuti oleh suasana yang unik. Bukan hanya suara takbir yang bergema tetapi juga aktivitas padat di jalanan, pasar hewan, dan halaman masjid.

Idul Adha, dengan ritual inti penyembelihan hewan kurban, sering kali dipahami secara sempit sebagai ibadah vertikal. Sebuah bentuk ketundukan personal kepada Tuhan meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Namun jika kita menelisik lebih dalam melalui kacamata sosiologi agama, kurban memiliki dimensi horizontal yang jauh lebih strategis. Ia adalah mekanisme perekat sosial (social glue) yang paling efektif dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Di tengah arus individualisme, fragmentasi sosial akibat media digital, dan meningkatnya kesenjangan ekonomi, ritual kurban berfungsi sebagai "jembatan" yang menghubungkan kembali simpul-simpul masyarakat yang mulai longgar.

Dalam pembahasan di sini akan diulas bagaimana kurban bertransformasi dari sekadar ritual sakral menjadi pembentuk identitas kolektif dan kohesi sosial yang tangguh.

Emile Durkheim, bapak sosiologi modern memperkenalkan konsep solidaritas mekanik dan organik. Dalam konteks masyarakat tradisional maupun modern, ritual bersama berfungsi untuk menciptakan apa yang disebutnya sebagai collective effervescence (kegembiraan kolektif).

Baca Juga: Tempat Pemotongan Sementara Hewan Kurban di Kabupaten Probolinggo Naik, Petugas Temukan Cacing Hati di Dua Hewan Kurban

Yaitu saat individu-individu melebur dalam satu energi emosional yang sama, memperkuat rasa kebersamaan.

Kurban memfasilitasi hal ini melalui tiga tahap interaksi sosial. Pertama, Pengumpulan Sumber Daya. Dalam tahap ini, proses iuran atau pembelian hewan kurban sering kali melibatkan gotong royong warga, panitia masjid, dan donatur.

Di sini terjadi interaksi lintas kelas sosial; si kaya dan si miskin duduk dalam satu panitia, bekerja untuk tujuan yang sama.

Kedua, Ritual Pemotongan. Meskipun dilakukan oleh jagal atau petugas khusus, kehadiran masyarakat di lokasi pemotongan menciptakan ruang publik di mana nilai-nilai kebersamaan divisualisasikan.

Ketiga, Distribusi Daging. Ini adalah puncak dari kohesi sosial. Daging kurban tidak dijual, melainkan dibagikan.

Proses ini membalikkan logika pasar kapitalis. Dalam pasar, barang diberikan jika ada uang. Dalam kurban, barang (daging) diberikan karena adanya ikatan kemanusiaan dan keimanan.

Meruntuhkan Sekat Kelas

Salah satu fungsi laten kurban yang paling kuat adalah mereduksi jarak sosial. Dalam struktur sosial Indonesia yang masih cukup hierarkis, jarang ada momen di mana seorang pejabat tinggi, pengusaha sukses, dan buruh harian menerima "paket" yang sama dari sumber yang sama.

Ketika daging kurban dibagikan, ia tidak membedakan penerima berdasarkan status sosial, politik, atau ekonomi. Semua menerima bagian yang setara (dalam standar paket).

Simbolisme ini sangat kuat: di hadapan Tuhan dan dalam semangat berbagi, semua manusia setara. Bagi penerima manfaat, terutama dari kalangan prasejahtera, penerimaan daging kurban bukan sekadar bantuan pangan, melainkan pengakuan eksistensial bahwa mereka adalah bagian integral dari komunitas tersebut, bukan warga kelas dua yang terlupakan.

Bagi pemberi (muzaki/kurban), ini adalah latihan empati radikal. Mereka diajak untuk menyadari bahwa harta yang mereka miliki memiliki hak orang lain dan kebahagiaan spiritual mereka terhubung langsung dengan kesejahteraan tetangga mereka.

Kurban di Era Digital

Di tahun 2026, fenomena kurban telah mengalami transformasi signifikan dengan hadirnya platform digital. Aplikasi kurban online memungkinkan seseorang di Jakarta menyembelih kambing untuk dibagikan di Papua atau Nusa Tenggara.

Kritikus mungkin mengatakan ini mengikis interaksi sosial lokal. Namun perspektif lain menunjukkan bahwa ini memperluas identitas kolektif dari skala kampung menjadi skala nasional bahkan global (Ummatan Wahidah).

Melalui kurban digital, terbentuklah imajinasi komunitas yang lebih luas. Seorang donatur merasa terhubung secara emosional dengan penerima manfaat yang belum pernah ia jumpai. Ini menciptakan solidaritas organik berbasis nilai, bukan lagi sekadar kedekatan geografis.

Identitas sebagai "umat yang peduli" diperkuat melintasi batas-batas suku dan pulau. Namun tantangan tetap ada: memastikan bahwa digitalisasi tidak menghilangkan transparansi dan kepercayaan, yang merupakan modal sosial utama.

Meski fungsinya vital, mekanisme kohesi sosial melalui kurban menghadapi tantangan. Pertama, komersialisasi berlebihan. Di mana harga hewan kurban menjadi simbol status sosial (kurban sapi premium vs kambing biasa), yang justru dapat memicu kecemburuan sosial alih-alih persaudaraan.

Baca Juga: Tak Ada Lawan, Agus Lithanta Terpilih Aklamasi sebagai Ketua PGRI Kota Probolinggo

Kedua, individualisasi ritual. Di mana orang memilih kurban online semata-mata karena kepraktisan, tanpa melibatkan diri dalam proses sosial di lingkungan sekitarnya.

Jika tren ini dibiarkan, kurban berpotensi kehilangan daya rekat sosialnya di tingkat akar rumput (grassroots). Masjid dan lembaga amil perlu berinovasi agar proses distribusi tetap melibatkan partisipasi warga. Bukan hanya sebagai objek pasif penerima, tetapi sebagai subjek aktif dalam perayaan kebersamaan.

Idul Adha bukan sekadar hari raya makan daging. Ia adalah festival solidaritas tahunan yang mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak bisa hidup sendiri. Kurban adalah mekanisme alamiah untuk memperbaiki anyaman sosial yang mungkin robek akibat konflik, kesenjangan, atau ketidakpedulian sepanjang tahun.

Dalam konteks bangsa Indonesia yang beragam, kemampuan kurban untuk menyatukan orang dari berbagai latar belakang dalam satu ritme pemberian dan penerimaan adalah aset sosial yang tak ternilai. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak diukur dari seberapa banyak harta yang ditimbun, tetapi dari seberapa luas harta itu mengalir untuk menghidupkan sesama.

Mari kita jaga spirit ini. Jangan biarkan kurban menjadi transaksi bisnis belaka. Jadikan ia kembali sebagai ritual suci yang merajut kembali identitas kolektif kita sebagai bangsa yang gotong royong, adil, dan beradab.

Pada hakikatnya, daging akan habis dimakan. Namun, ikatan sosial yang terjalin akan menjadi fondasi kokoh bagi keberlangsungan masyarakat kita. (*)

*) Aktivis FKA ESQ

Editor : Muhammad Fahmi
#kohesi sosial #kurban #masyarakat #era digital