Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mewujudkan Trigatra Bangun Bahasa Melalui Pembelajaran Sastra

radar bromo • Minggu, 2 November 2025 | 18:00 WIB

 

Photo
Photo

DI tengah hiruk pikuk zaman kiwari ini, generasi muda kita, tanpa disadari, tengah berada dalam situasi yang penuh tantangan untuk dapat mempertahankan jati diri nasional di segala bidang, salah satunya dalam bidang bahasa. Bahasa Indonesia yang telah dinobatkan sebagai bahasa persatuan sejak 97 tahun yang lalu itu, kini berada dalam himpitan Bahasa asing yang semakin liar.

Di sisi lain, ada pula Bahasa daerah, yang mayoritas merupakan Bahasa ibu para pemuda kita, tidak pula dalam posisi yang layak untuk dirayakan. Padahal pemerintah telah mencanangkan sebuah gerakan untuk menjaga martabat Bahasa Indonesia yang disebut sebagai Trigatra Bangun Bahasa; Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Upaya untuk mewujudkan Trigatra Bangun Bahasa itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah dengan berbagai peraturan perundang-undangan maupun lembaga yang berkegiatan di lingkup seputar Bahasa. Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peluang menjadi salah satu faktor utama dalam mewujudkan semangat Trigatra Bangun Bahasa itu.

Seperti yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan embrio dari sebuah kebudayaan. Dengan pendekatan dan metode yang tepat, maka kita layak untuk percaya bahwa tegaknya martabat Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional dapat dimulai melalui proses-proses pembelajaran di dalam kelas. Salah satu cara paling efektif untuk mewujudkan gagasan tersebut ialah lewat pembelajaran sastra, karena sastra bukan hanya sekadar kumpulan kata yang indah, melainkan cermin nilai, budaya, dan dinamika kehidupan yang menjadi ruang refleksi bagi generasi penerus bangsa.

Dalam karya sastra, bahasa tidak digunakan secara kaku dan mekanis, tetapi dapat menjadi media ekspresi perasaan, pikiran, dan kritik sosial. Melalui pembelajaran sastra, siswa dapat memahami pentingnya mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, sekaligus menghayati kekayaan bahasa daerah dan urgensi penguasaan bahasa asing.

Dalam konteks penguatan bahasa nasional, karya sastra Indonesia memiliki peran yang strategis. Seperti yang kita tahu, banyak sekali karya sastra Indonesia yang dapat menggugah kesadaran akan identitas kebangsaan, sejarah, maupun segala bentuk ketidakadilan sosial yang pernah terjadi di masa kini maupun masa kolonial. Novel-novel dari Pramoedya Ananta Toer, atau puisi-puisi karya Chairil Anwar misalnya.

Ketika siswa membaca dan menganalisis karya-karya tersebut, kemampuan literasi mereka akan meningkat, kecintaan pada bahasa Indonesia bertumbuh, dan pemahaman terhadap identitas kebangsaan menjadi lebih kuat.

Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi sekadar mata pelajaran wajib di sekolah, tetapi menjelma sebagai ruang ekspresi dan pemupuk rasa kebanggaan terhadap jati diri dan identitas bangsa. Pun yang tidak kalah penting, dengan mempelajari dan menikmati karya sastra Indonesia, siswa akan mendapatkan kesadaran baru bahwa Bahasa Indonesia yang diolah dengan cerdas, tulus, dan artistik, rupanya tidak hanya dapat menyampaikan pesan-pesan moral tertentu, melainkan dapat pula mendatangkan sebuah getaran dan gelombang candu yang hebat di dalam dada mereka.

Selain bahasa nasional, keberadaan bahasa daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya dan Bahasa Indonesia.  Sayangnya, perkembangan teknologi dan gaya hidup modern membuat generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu. Di sinilah pembelajaran sastra daerah dapat mengambil peran penting sebagai upaya pelestarian bahasa dan budaya lokal.

Cerita rakyat, legenda, mitos atau tembang dan kidung dalam bahasa daerah tidak hanya mengajarkan nilai moral, tetapi juga memperkenalkan kekhasan budaya masing-masing komunitas. Cerita rakyat, legenda, mitos atau tembang setiap daerah memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Selain itu, cerita, legenda, maupun mitos yang berlaku dalam sebuah masyarakat dapat pula membentuk perilaku dan norma dari masyarakat tersebut.

Ambil saja bagaimana kebijaksanaan masyarakat Tengger dalam memperlakukan alam yang tentu merupakan bentukan dari mitos asal usul kisah Rara Anteng dan Jaka Seger. Atau bagaimana kisah Dewi Rengganis yang memberikan keindahan dan keagungan pegunungan Argopuro yang berdampak terhadap perilaku dan kepercayaan masyarakat sekitar.

Ketika siswa mempelajari sastra lokal, mereka sebenarnya tidak hanya memahami akar kulturalnya. Tetapi juga mengembangkan rasa bangga terhadap keberagaman Indonesia yang multikultural. Selain itu, penyisipan istilah kedaerahan dalam karya satra, dapat pula menghadirkan kesegaran dan nuansa tersendiri dalam sebuah karya tersebut. Pelestarian bahasa daerah melalui sastra menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus dijaga keberlangsungannya.

Di sisi lain, penguasaan bahasa asing kini telah menjadi kebutuhan mutlak di era tanpa batas ini. Sastra dunia menawarkan ruang pembelajaran yang kaya dan menarik untuk memperkenalkan budaya lain kepada siswa. Karya sastra klasik maupun modern dari berbagai negara, baik dalam bahasa asli maupun melalui terjemahan yang berkualitas, dapat membuka cakrawala baru dalam pemikiran siswa.

Mereka belajar melihat dunia dari berbagai perspektif dan memahami perbedaan nilai antar budaya. Dengan mengenal sastra asing, kemampuan berpikir kritis pun akan terlatih dan terasah dalam melakukan analisis perbandingan tema, gaya bahasa, atau nilai-nilai universal yang terkandung dalam karya sastra dari berbagai bangsa.

Siswa dapat mebandingkan berbagai kebudayaan asing yang tekandung dalam sebuah karya dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan pengarahan dan bimbingan yang tepat, kebudayaan asing tersebut dapat diserap, difilter, dan dimanfaatkan untuk memperkaya karakter dan kebudayaan bangsa.

Tentu agar nilai-nilai Trigatra Bangun Bahasa dapat tertanam dengan efektif, diperlukan pendekatan integratif dalam pembelajaran sastra. Ketiga pilar bahasa tidak boleh diajarkan secara terpisah, melainkan terpadu dalam satu kesatuan pembelajaran yang holistik.

Misalnya, guru dapat memilih tema “perjuangan” kemudian mengajak siswa membandingkan puisi perjuangan dari sastra Indonesia, legenda lokal yang menggambarkan kepahlawanan daerah, serta karya asing yang bertema serupa. Model pembelajaran semacam ini memberikan pengalaman multidimensional yang tidak hanya meningkatkan kecakapan berbahasa, tetapi juga memperkaya pemahaman budaya.

Siswa belajar menghargai perbedaan sekaligus menemukan nilai universal yang menyatukan manusia di berbagai belahan dunia. Bahkan lebih jauh lagi, pembelajaran sastra yang berlandaskan Trigatra Bangun Bahasa dapat memiliki peran yang dalam proses pembentukan karakter siswa. Siswa yang terbiasa membaca dan merefleksikan berbagai karya sastra akan lebih peka terhadap nilai moral, empati sosial, serta isu kemanusiaan.

Mereka tidak hanya menjadi generasi yang mahir berbahasa dan berkomunikasi, tetapi juga memiliki kepribadian kuat, kepekaan budaya tinggi, dan berpengetahuan luas. Melalui pembelajaran sastra, sesungguhnya, bukan hanya sebuah kewajiban kurikuler belaka, melainkan sebuah investasi budaya dan intelektual untuk masa depan bangsa. Sastra dapat dihadirkan sebagai ruang dialog, ruang tumbuh yang dapat memperkuat posisi bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta memperluas penguasaan bahasa asing, atau yang dikenal sebagai Trigatra Bangun Bahasa itu.                          

Penulis:

Ardiansah Putra Perdana

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Abdul Wahid
#pembelajaran #Trigatra Bangun Bahasa #sastra