BERKEMBANG Bersama Zaman. Tagline itu sudah lekat dengan Jawa Pos Radar Bromo, beberapa tahun terakhir. Sebuah upaya untuk menjawab tantangan zaman.
Diketahui, industri media massa di Indonesia dihadapkan pada tantangan kompleks belakangan. Kabar sebuah media cetak tak terbit, hingga media televisi berhenti siaran banyak beredar.
Jawa Pos Radar Bromo pun membaca situasi itu. Dengan tak hanya bergelut pada core bisnis utama: media cetak. Sejumlah unit baru terus dikembangkan. Salah satunya, merambah dunia digital.
Terhitung sejak 2017 lalu, Jawa Pos Radar Bromo sudah bisa dinikmati di mana saja dan kapan saja. Lewat media online. Sempat berpindah rumah. Dari: radarbromo.co.id hingga sekarang jadi kesatuan. Di bawah naungan Jawa Pos langsung. Bahkan, kini sudah ada 2 media online. radarbromo.jawapos.com sudah memiliki adik: radarpasuruan.jawapos.com.
Perubahan tak bisa dilawan. Media online yang umurnya terbilang masih muda, kini juga dihadapkan sejumlah tantangan. Cukup kompleks juga.
Dunia digital ibarat hutan rimba. Bisa juga disebut toserba. Semuanya ada. Mulai informasi sekadarnya, informasi yang betul-betul informatif dan perlu disampaikan, hingga hoaks pun ada. Media mainstream seperti bertarung dalam arena bebas.
Konten berkualitas dan menarik, belum tentu banyak yang melihat. Algoritma cukup menentukan. Konten bagus, bisa kalah dengan konten-konten yang ngasal.
Belum lagi, belakangan muncul artificial intelligence (AI) overviews. Sebuah program AI yang meringkas dari berbagai tautan.
Ketika kita mencari sesuatu di mesin pencarian, AI overviews sudah menyajikan apa yang kita cari. Cukup lengkap. Berada di atas sendiri, di mesin pencarian. Kondisi itu memungkinkan pembaca cukup melihat lewat ringkasan AI itu. Tanpa perlu mengeklik lagi ke tautan aslinya.
Bukan kebetulan, tren pembaca media online beberapa bulan belakangan anjlok. Selain algoritma google yang kembali diutak-atik, keberadaan AI overviews juga cukup berpengaruh.
Meski Nick Fox, petinggi Google Search dalam sebuah forum menepis hal itu. Dalam laporan mereka di Google Search Console (GSC) justru menunjukkan adanya "great decoupling". Atau pemisahan besar antara jumlah impressions (berapa kali website muncul di hasil pencarian) dan clicks (berapa kali website diklik). Artinya, website mungkin sering muncul, tapi sangat sedikit yang mengkliknya.
Terlepas dari itu, tantangan itu harus disikapi. Data-data sudah menunjukkannya. Dunia cepat berubah. Alat mainnya juga berubah.
Perkembangan zaman bak pisau bermata dua bagi industri media. Di satu sisi cukup menguntungkan. Bisa membantu menyebar luaskan berita, produk jurnalistik dengan cukup cepat. Di sisi lain, bisa jadi bumerang. Bila berita biasa-biasa saja, bukan tidak mungkin berita semakin tak dilirik. User hanya puas melihat tampilan AI overview.
Jawa Pos Radar Bromo pun menangkap hal itu. Berita online sekarang telah berubah. Tak sekadar mengandalkan unsur kecepatan semata. Namun, akurasi dan kedalaman bisa jadi kekuatan tersendiri.
Tak sekadar unsur 5W+1H. Tapi, ada juga rumus baru: so what. Hal ini sejatinya sudah diterapkan di Jawa Pos. Dengan selalu mencari angle lain. Sisi menarik dari sebuah peristiwa.
Selain itu, dengan algoritma yang kerap berubah, mau tak mau media harus memiliki pembaca loyal. Menjalin engagement dengan pembacanya. Jawa Pos Radar Bromo sebagai media hiperlokal sudah punya modal itu.
Tentunya, harus dibarengi dengan kualitas. Memberikan produk jurnalistik yang sesuai kaidah-kaidah. Dengan berpihak pada kebenaran. Menjaga trust atau kepercayaan pembaca.
Algoritma memang masih cukup penting. Namun, bukan menjadi dewa. Hanya sebagai kompas. Saat ini eranya media online kembali ke pakem lawas: Menulis untuk Manusia. Yang enak dibaca. Bukan menulis untuk mesin, dengan memberondong dengan sejumlah search engine optimization (SEO). Hal ini juga sudah jadi kekuatan media cetak.
Kami berkeyakinan, apa pun zamannya, peran media masih cukup sentral. Sangat dibutuhkan. Sebagai anjing penggonggong. Pilar keempat demokrasi. Menyuarakan kebenaran! (*)
Editor : Muhammad Fahmi