Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Scroll Video Pendek Bikin Malas Membaca?

Iwan Andrik • Sabtu, 26 Juli 2025 | 20:32 WIB
Photo
Photo

Oleh: Iwan Andrik, Redaktur Jawa Pos Radar Bromo


BERKEMBANGNYA teknologi berdampak besar terhadap arus informasi. Masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan akses informasi sesuai yang diingini.

Tinggal searching dan scroll, semua informasi yang dibutuhkan, bisa segera didapati.

Tak lagi selalu dari media massa. Kini,masyarakat bisa mengakses berbagai informasi dari media sosial.

Baik TikTok, WhatsApp, Instagram hingga Facebook. Atau bisa juga dari Youtube.

Tak mengherankan, jika media sosial begitu masif dikonsumsi masyarakat. Karena banyaknya platform yang ditawarkan.

Di Indonesia sendiri, penggunaan media sosial terbilang sangatlah tinggi.

Berdasarkan artikel yang pernah saya baca, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dalam penggunaan media sosial, setelah Cina, India dan Amerika Serikat.

Tercatat, ada 167 juta jiwa dari 281 juta jiwa warga Indonesia yang doyan bermedia sosial.

Lalu, apakah membanggakan? Secara pribadi, saya tidak merasa bangga dengan hal ini.

Karena jika dikomparasi dengan tingkat literasi, minat baca warga Indonesia, malah sangat rendah.

Seperti yang dirilis UNESCO terkait minat baca di Indonesia beberapa waktu silam.

Indeks minat baca masyarakat Indonesia, hanya diangka 0,001 persen. Atau dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Kondisi ini, membuat peringkat Indonesia dalam hal membaca, berada di level bawah.

Berdasarkan data Program for Internatonal Student Assesment (PISA) terkait literasi membaca tahun 2022, Indonesia menduduki peringat sebelas terbawah dari 81 negara yang didata.

Miris memang. Namun, begitulah kenyataannya. Banyak yang menyebut, masyarakat Indonesia lebih suka menonton ketimbang membaca. Terlebih dengan merebaknya media sosial, seperti TikTok.

Orang akan betah berjam-jam untuk scroll konten-konten di TikTok, Facebook ataupun Youtube.

Bukan lagi sekadar mendapatkan hiburan. Tetapi juga, sumber informasi bahkan sumber rujukan pemberitaan.

Kondisi ini, jelas berpengaruh terhadap perilaku hingga pola pikir masyarakat. Tak terkecuali bagi kalangan pelajar.

Terutama mereka menggemari konten-konten hiburan, seperti joget-joget. Konsentrasi mereka dalam memahami sesuatu, cenderung terganggu.

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang guru SMA di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Guru yang sudah bertahun-tahun mengajar itu, merasakan betul perubahan pada kemampuan anak didik dahulu dengan sekarang, dalam menyerap ataupun konsentrasi pada materi yang diajarkan.

Jangankan bertahan untuk membaca dengan durasi waktu yang lama. Karena, konsentrasi untuk menyimak pembelajaran dari video pun, cenderung singkat.

Tak sampai 15 menit. Lebih dari itu, konsentrasi mereka bisa ambyar.

Pelajar sekarang, lebih menyukai tayangan video dengan durasi yang pendek atau short video.

Bahkan, tak sampai 1 menit. Seperti yang banyak disuguhkan dalam TikTok. Kondisi ini, yang akhirnya berpengaruh terhadap daya tangkap mereka dalam menyerap materi pembelajaran.

“Anak-anak menjadi gampang lelah dan gampang bosan, ketika harus menyaksikan video yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan durasi panjang,” ungkap guru tersebut berbagi pengalamannya tentang kondisi anak saat ini.

Saya tidak berniat untuk mendeskreditkan media sosial, seperti TikTok, Facebook atau semacamnya.

Karena bagaimanapun, keberadaan media sosial ini, juga sangat dibutuhkan. Tak terkecuali bagi wartawan sekalipun.

Banyak wartawan yang juga memperoleh informasi dari media sosial. Bukan hanya kejadian besar. Insiden kecil pun tak jarang tercover dari media sosial.

Meski begitu, informasi yang disuguhkan media sosial, bukannya tanpa cacatan. Ingat, informasi tersebut, kerap asal disampaikan. Tanpa melalui pengecekan secara mendalam dalam penyajian.

Dampaknya apa? Informasi sumir untuk pembacanya. Kondisi ini rentan akan informasi yang salah, menyimpang atau hoax.

Padahal, sebuah informasi akan bisa menjadi sebuah berita, bila melalui proses yang mendalam.

Artinya, perlu dikroscek dan diverifikasi. Peran inilah, yang dimiliki awak media untuk menyuguhkannya kepada pembaca, pendengar atau penontonnya.

Mereka memiliki peranan, untuk menggali informasi yang ada. Selanjutnya memverifikasinya, mengkonfirmasi baru kemudian jika dirasa valid, disampaikan ke masyarakat, melalui media massa.

Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang utuh, terkait fenomena yang sebenarnya.

Meski tak dipungkiri, ada saja ulah oknum media massa. Mereka memanfaatkan sarana yang ada, untuk membangun opini berbeda dari kebenaran yang ada.

Mereka memiliki kebenaran dari versi yang lain, berdasarkan sudut pandangnya.

Pilihan memang ada di tangan masyarakat. Karena yang pasti, media massa dengan media sosial, bisa berdampingan. Bahkan melengkapi kebutuhan si penikmatnya.

Yang terpenting, mereka harus bijak dan cerdas. Tidak serta merta menelan informasi yang diterima, mentah-mentah.

Telaah setiap informasi atau berita yang ada, agar tidak tersesat di jalan yang salah.

Jadi, pilih mageran sambil scroll media sosial, atau baca-baca berita dari media massa? Anda yang menentukan. (*)

Editor : Jawanto Arifin
#malas membaca #tiktok #facebook #youtube #video pendek