Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Good News yang Positif

Fandi Armanto • Sabtu, 26 Juli 2025 | 18:46 WIB
Fandi Armanto
Fandi Armanto

PERSAINGAN media massa belakangan bukan hanya kecepatan dan ketepatan berita. Di era digital, media konvensional kerap punya “tugas tambahan” yakni mengecek informasi di sosial media. Apakah informasi itu betul atau hoaks.

Kenyataan itulah yang kini sering dihadapi jurnalis Jawa Pos Radar Bromo setiap hari. Misalnya, di sosial media muncul informasi atau aduan pengunjung di Alun-Alun Pasuruan yang mengeluhkan tarif di luar ketentuan. Jelas informasi ini harus kita telusuri karena sudah menyangkut aturan dan kepentingan publik.

Ulah oknum jukir nakal di Alun-Alun Pasuruan itu akhirnya menjadi berita kontinyu di Jawa Pos Radar Bromo.

Kami mengawalnya sampai seberapa tegas tindakan yang dilakukan Pemkot Pasuruan. Sebab, masyarakat banyak menunggu informasi kelanjutannya.

Apakah dibiarkan? Diberi sanksi? Atau dipecat? Itu semua kewenangan pemkot. Tapi bagi kami, mengawal apa pun kejadian yang ada di daerah, menjadi tanggung jawab sebagai awak media. Karena Kota Pasuruan kini sedang menuju perubahan yang maju.

Edukasi tetap harus diberikan ke masyarakat. Kota santri kini menjadi jujukan bagi banyak orang, bukan semata karena adanya wisata religi.

Tapi pembangunan-pembangunan yang ada di dalamnya, benar-benar harus kita jaga bersama. Di sinilah media massa memerlukan kolaborasi masyarakat dengan pemerintah.

Seiring waktu, bad news tak melulu good news. Adagium itu, tak selamanya benar.

Karena banyak pembaca kami yang menggemari berita-berita good news, misal pembangunan yang ada di sebuah daerah.

Saya mengambil contoh, seperti perkembangan yang ada di Kota Pasuruan. Setelah dipimpin Saifullah Yusuf, boleh dibilang kota banyak memiliki ikon baru. Contohnya, keberadaan Payung Madinah.

Mungkin bagi banyak orang akan menganggap, fungsi Payung Madinah tak ubahnya hanya menambah fasilitas yang ada di Alun-Alun Pasuruan.

Tapi tak sedikit pula yang berkunjung dan mencari tahu soal berita Payung Madinah, sebelum akhirnya benar-benar datang untuk melihat langsung.

Tak jarang saya menemui, pengunjung di makam Mbah Hamid, yang rela berlama-lama befoto ria di kawasan ini setelah berziarah. 

“Saya dari Kalimantan. Saya dari Sulawesi. Saya dari Aceh. Kami ingin melihat Payung Madinah setelah berziarah,” begitu ucap para wisatawan religi saat ditemui di lokasi.

Memang para wisatawan itu lebih banyak datang untuk berziarah ke makam KH Abdul Hamid. Tapi tak jarang saya menemui, mereka yang mampir bukan hanya untuk berwisata religi. Tetapi memang untuk menikmati kawasan Alun-Alun Pasuruan yang makin dikenal.

Tentu saja hati ini senang karena Kota Pasuruan semakin memantik orang untuk berkunjung.

Berita bagusnya, ekonomi pun bergeliat. Walau saat ini masih butuh penataan dan peran pemerintah.

Nah, di sinilah kolaborasi kembali dibutuhkan. Agar semuanya berjalan on the track. Karena kita tahu, siapa pun pemerintahnya maupun penguasanya, pasti ingin menjadikan daerahnya berubah lebih baik lagi.

Semangat menumbuhkan jurnalisme positif ini, bukan berarti kita sekadar memuji lalu menumpahkannya dengan membuat berita yang bagus-bagus saja. Bukan pula menepis berita negatif.

Tetapi, bagaimana kita mengawal kebijakan pemerintah, hingga kebijakan-kebijakan itu bisa dipahami publik.

Good news pun saat ini banyak dibaca. Ini jika kami melihat dari jumlah viewer saat kami membuat berita positif. Hal-hal yang positif ini tentu harus dipertahankan agar jangan sampai segelintir orang merusaknya.

Tugas kami, bagaimana selanjutnya Jawa Pos Radar Bromo, mengawal semua pembangunan yang dilakukan pemerintah. (*)

Editor : Abdul Wahid
#ultah #good news #jawa pos #radar bromo