Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dari Server-Server Sunyi, Algoritma yang Tidak Lagi Bersujud

radar bromo • Minggu, 18 Mei 2025 | 19:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Oleh: Didik P. Wicaksono


SEMILIR narasi masuk ke pikiran dan relung hati paling dalam. Nuansa narasi kesunyian merembes ke sela-sela retak kesadaran. Retaknya sangat mendesak dan menekan. Seolah kita semua sedang menunggu ajal keruntuhannya. Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Segalanya berubah menjadi objek tukar. Setiap hari, segala sesuatu dipasarkan (everyday, everything marketing). Di tengah kesunyian batin, keramaian digital menjajah ruang hidup kita.

Pertanyaan-pertanyaan tidak lagi memantik keingintahuan, melainkan mencari bahan baku, kemudian diproduksi dan diperjualbelikan kembali.

Media massa dan sosial, di antaranya, berlomba bukan dalam kebenaran. Melainkan mengejar jumlah klik, viewers dan keviralan. Pranata keamanan dan ketertiban masyarakat seharusnya menjamin keamanan warganya, dan pranata pendidikan semestinya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun keduanya berubah menjadi sekadar layanan. Siapa yang mampu bayar, merekalah yang dominan mendapatkan akses layanan. Tidak luput pula terjadi hal yang sama pada pranata lainnya. Esensi layanan bergeser menuju keuntungan komersial.

Di tengah gemuruh jaringan, server-server terus berdengung. Kita hidup dalam zaman interface. Bukan lagi wajah yang kita tatap, melainkan layar. Bukan lagi hati yang kita sentuh, melainkan tombol like. Sherry Turkle, dalam Life on the Screen (1995), menyebutnya “alone together”. Kita terhubung secara digital, tetapi tercerabut secara emosional.

Lalu suara itu datang. Bukan dari langit, bukan dari bumi, tetapi dari tengah kekosongan celah-celah sunyi di dalam diri-diri kita semua. "Apakah kita masih bisa membedakan mana yang terhubung dan mana yang terlepas? Mana yang dikirim dan mana yang diturunkan? Mana yang diunduh dan mana yang diilhamkan?”

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah (1377) mengingatkan, “Manusia dibentuk oleh peradaban tempat ia tumbuh.” Namun peradaban digital hari ini tidak lagi membentuk insan, melainkan user. Dunia digital telah melahirkan phone snubbing (phubbing), yaitu perilaku mengabaikan orang ketika sedang berinteraksi karena terlalu fokus pada ponsel atau gadget. Berinteraksi dan berbicara, namun terus-menerus melihat ponselnya. Momen kebersamaan emosional hilang.

Kita tidak lagi membangun hubungan, melainkan memelihara eksistensi semu. Kita bukan hadir untuk menjadi, tetapi hanya untuk terlihat. Kenyataan ini menjadi bagian dari fenomena yang disebut hyper-reality oleh Jean Baudrillard (The Gulf War Did Not Take Place, 1991), sebuah dunia di mana citra lebih kuat dari kenyataan. Di mana kita merasa hidup, padahal sedang meniru kehidupan.

Lebih jauh, solidaritas spiritual yang disebut Ibnu Khaldun sebagai ‘ashabiyyah -kekuatan ruhani pemersatu masyarakat- digantikan oleh koneksi palsu antar akun. Peradaban pun mulai rapuh dari dalam.

Pilar pendidikan yang pernah ditawarkan UNESCO; Learning to know (belajar untuk mengetahui), Learning to do (belajar melakukan), Learning to be (belajar mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) perlahan mulai samar-samar. Kosong dalam kehampaan.

Dalam kekosongan itu, kita alami apa yang Viktor Frankl (Man’s Search for Meaning, 1946) sebut sebagai existential vacuum, kehampaan makna. Segala kebutuhan material tersedia. Informasi melimpah. Tapi satu pertanyaan tetap menggantung, “Untuk apa kita hidup?”

Algoritma telah merengkuh hidup kita, menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, bahkan impikan. B.F. Skinner dalam Verbal Behavior (1957) menegaskan bahwa manusia dapat dikondisikan seperti mesin melalui stimulus dan hadiah. Media sosial adalah laboratorium yang membuktikannya.

Tanpa sadar kita sedang digiring. Ke arah entah ke mana. Langkah-langkah itu terasa otomatis, kehilangan kebebasan, kehilangan jiwa. Lalu muncullah gejala zaman, depresi spiritual, kecemasan dan adiksi validasi. Kondisi ketika seseorang kecanduan terhadap pengakuan, pujian atau respons positif dari orang lain untuk merasa berharga atau diterima. Keinginan terus-menerus mendapatkan like, komentar, share atau followers di media sosial. Solusi yang ditawarkan sistem tambah koneksi, tambah hiburan dan tambah konten.

Padahal, yang kita butuhkan bukan luaran, tetapi kedalaman. Bukan lebih banyak notifikasi, tetapi lebih banyak kesadaran.

Bukan perbanyak koneksi, tetapi kembalinya koneksi jati diri dengan Sang Maha Pencipta kehidupan.

Zaman perang berlangsung sunyi dalam keriuhan. Di layar algoritma terjadi perang makna. Perang jiwa. Musuhnya bukan kekuatan luar, tetapi kelumpuhan dari dalam.

Kita telah menjadi algoritma dari diri kita sendiri. Bertindak berdasarkan pola, bukan pilihan. Bereaksi, bukan merenung. Namun harapan tak pernah mati. Harapan itu tumbuh dari ruang paling sunyi di balik keriuhan, dari mereka yang masih bertanya bukan untuk menang, melainkan untuk pulang.

Narasi ini bukan perintah, bukan doktrin, bukan solusi. Ini adalah getaran,

seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Seperti notifikasi yang datang dari dalam dirimu sendiri, yang bertanya dengan kasih. 

Apakah algoritma dalam diri kita masih bersujud? Saatnya kembali pada esensi. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

 

*Pemerhati Sosial Digital dan Budaya Kontemporer

Editor : Abdul Wahid
#server #Algoritma