Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mewujudkan Potensi dan Sumber Daya Lansia Tangguh

Jawanto Arifin • Minggu, 21 Januari 2024 | 22:14 WIB
Photo
Photo

Oleh: Sri Kadarwati


UNDANG-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia pasal 1 poin 2 mendefinisikan penduduk lanjut usia (lansia) sebagai mereka yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.

Seiring meningkatnya derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk, akan berpengaruh pada peningkatan umur harapan hidup di suatu wilayah. Hal ini mengakibatkan lansia semakin meningkat, baik jumlah maupun proporsinya.

Fenomena demografi ini selain memberikan manfaat dalam pembangunan, namun juga dapat menjadi tantangan.

Mengingat masih banyak lansia yang rentan akan persiapan memasuki masa lansia baik dari psikis maupun sisi finansial.

Peningkatan jumlah penduduk lansia menimbulkan konsekuensi yang kompleks. Berbagai tantangan yang diakibatkan penuaan penduduk telah mencakup hampir setiap aspek kehidupan.

Hasil proyeksi penduduk yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2023 jumlah penduduk lansia atau penduduk yang beruisa 60 tahun ke atas, di Kota Pasuruan sekitar 14.780 jiwa atau 10,98 persen dari total penduduk.

Jumlah penduduk lansia pada 2023 naik 0,68 persen poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 6,10 persen.

Angka tersebut tentunya akan bertambah terus sejalan dengan peningkatan angka harapan hidup Kota Pasuruan yang mencapai 74,64 tahun pada tahun yang sama.

Sehingga tahun 2035 jumlah penduduk lansia diproyeksikan mencapai sekitar 10 persen dari total penduduk Kota Pasuruan.

Secara ekonomi, dari 10,98 persen penduduk lansia, sebagian besar berada pada kelompok pengeluaran penduduk 40 persen terbawah yaitu sekitar 14,03 persen.

Sedangkan yang berada pada kelompok pengeluaran penduduk  40 persen tengah dan 20 persen teratas, persentasenya masing-masing sekitar 8,76 persen dan 9,26 persen (Sumber: Badan Pusat Statistik, Survei Sosial Ekonomi Nasional)

Pertumbuhan lansia yang pesat juga merupakan efek dari terjadinya transisi demografi. Pasalnya, Indonesia sudah berada pada tahapan angka kematian dan kelahiran yang rendah.

Meski demikian, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengalami pertumbuhan lansia secara signifikan. Penuaan penduduk juga terjadi secara global.

Seiring dengan naiknya persentase jumlah penduduk lansia, rasio ketergantungan lansia juga bertambah dari 15,80 persen menjadi 16,65 persen pada tahun 2023.

Yang berarti 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 16 -17 penduduk lansia. Dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas hidup lansia dalam menghadapi penuaan penduduk, pemerintah tak bisa hanya memanfaatkan penggunaan Program Bina Keluarga Lansia saja.

Dari tingkat kesehatannya yang tercermin dari angka kesakitan masyarakat, persentase penduduk lansia yang mengalami keluhan kesehatan sebanyak 3,14 persen pada 2023 dari seluruh penduduk Kota Pasuruan.

Yang terdiri dari 1,24 persen penduduk usia 60 – 64 tahun dan 1,90 persen penduduk usia 65 tahun ke atas. Sedangkan angka kesakitan semua kelompok umur mencapai 17,75 persen.

Sebagian besar lansia sudah menggunakan jaminan Kesehatan untuk berobat jalan. Hal ini menunjukkan akses terhadap pelayanan kesehatan sudah semakin mudah.

Pengetahuan mengenai derajat kesehatan suatu masyarakat dapat menjadi pertimbangan  dalam pembangunan bidang kesehatan, yang bertujuan agar semua lapisan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Melalui upaya tersebut, diharapkan akan tercapai derajat Kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Fenomena penuaan penduduk ini bisa dimanfaatkan sebagai bonus demografi kedua bagi dunia. Sehingga, pemerintah harus membuat terobosan baru di bidang penanganan kelanjutusiaan guna mempersiapkan lansia di semua daerah menjadi lansia yang Tangguh.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, dibutuhkan suatu program pembangunan kelanjutusiaan yang mampu mengayomi kehidupan lansia di setiap wilayah.

Dari hasil Survei Angkatan kerja Nasional (Sakernas) 2023 yang dilaksanakan BPS, terdapat sekitar 47,06 persen lansia melakukan kegiatan aktifitas dalam kegiatan ekonomi, sedangkan selebihnya termasuk dalam kategori bukan Angkatan kerja (mengurus rumahtangga dan kegiatan lainnya).

Dari 47,06 persen Angkatan kerja, sebanyak 95,53 persen masih aktif bekerja untuk mengisi waktunya dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Penduduk lansia yang kegiatan sehari-harinya bekerja, sebagian besar beraktifitas pada sektor jasa (53,57 persen), pada sector manufaktur 25,91 persen dan pada sector pertanian. Melihat aktifitas beragam yang dilakukan oleh para lansia di Kota Pasuruan, terutama dalam kegiatan ekonomi, diharapkan menjadi perhatian bagi pemerintah, Lembaga, swasta dan masyarakat kelompok usia produktif lainnya untuk lebih memberikan apresiasi dan dukungan bagi penduduk lansia yang masih memiliki semangat juang yang tinggi dalam mengekspresikan jati dirinya.

Berbagai program kelanjutusiaan yang lebih diperkuat oleh pemerintah, yakni pemberian pelatihan pengasahan bakat pada lansia atau mendirikan sekolah lansia seperti yang dicetuskan oleh Yayasan Indonesia Ramah Lansia (IRL) supaya pengetahuan dan pengalaman lansia bertambah.

Cara tersebut, merupakan bukti konkret dari penerapan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan untuk mewujudkan lansia yang mandiri, sejahtera dan bermartabat.

Untuk itu diperlukan integrasi dan keterpaduan lintas sektor, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra kerja, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, sektor swasta, serta partisipasi aktif masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kualitas hidup lansia.

Salah satu bentuk Program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) yang dilaksanakan di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur, banyak mendapatkan pujian dari berbagai pihak. Penghargaan dari BKKBN pun diberikan bagi program pendidikan non formal bagi para lanjut usia ini.

Penerapan di Kota Pasuruan menjadi proyek percontohan bagi pelaksanaan program sekolah lansia tangguh di kabupaten-kota lainnya.

Lansia yang mengikuti selantang selain mendapatkan pendidikan juga akan mendapatkan kebahagiaan karena bisa sering bertemu dengan lansia yang lain.

Oleh karena itu perlu didukung kegiatan yang melibatkan lebih banyak lansia lagi seperti senam atau kegiatan lainnya.

Harapannya peserta selantang yang telah menyelesaikan pendidikannya dapat mengabarkan tentang bagusnya program pendidikan ini kepada koleganya sesama lansia, sehingga lebih banyak lagi para lansia di Kota Pasuruan yang bergabung dalam program tersebut.

Program Selantang di Kota Pasuruan yang menjadi perwujudan pembelajaran sepanjang hayat ini, dilengkapi dengan modul jenjang strata satu sampai strata tiga. Selain itu penambahan modul video juga akan diberikan untuk menunjang pembelajaran para lansia.

Yang istimewa, para lansia nanti juga akan belajar melalui aplikasi pembelajaran dan terdapat fitur untuk mengukur tingkat kebahagiaan.

Semoga semua yang telah diupayakan, menjadikan penduduk lansia tetap berpotensi dan menjadi sumber daya yang tangguh untuk kota pasuruan dengan slogannya kota Madinah (maju ekonominya, indah kotanya dan harmoni warganya). (*)

 

*) Kepala BPS Kota Pasuruan

Editor : Jawanto Arifin
#opini radar bromo