Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pemilu 2024: Gen-Z Jangan Mudah Terkecoh Gimmick sampai Lupa Substansi

Muhammad Fahmi • Kamis, 14 Desember 2023 | 04:58 WIB
Photo
Photo

Oleh: 

Bintang Corvi Diphda
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. bisa ditemui di: bintangcorvi058@student.ub.ac.id

PEMILU adalah sebuah momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pemilu menjadi momentum penting karena nasib bangsa Indonesia menjadi pertaruhan.

Pemilu menjadi penentu siapa para pemimpin bangsa Indonesia yang nantinya akan memimpin bangsa ini selama lima tahun ke depan.

Oleh karena itu pemilu merupakan sebuah hal yang keberadaannya tidak bisa dianggap remeh dan pelaksanaannya harus dilakukan dengan serius. Sebab, momentum pemilu menjadi penentu nasib bangsa Indonesia di masa depan.

Pada pemilu 2024, mayoritas pemilih adalah kalangan generasi muda, mayoritas suara dipegang oleh kalangan Milenial dan Gen-Z. Milenial merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1980-1995.

Sedangkan Gen-Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1995-2010. Terdapat sebanyak 66,8 juta pemilih dari generasi milenial, dan 46,8 juta pemilih dari Gen-Z yang akan menjadi penentu suara di pemilu nanti.

Jumlah tesebut berkisar 55 persen -60 persen dari jumlah keseluruhan pemilih di pemilu 2024. Oleh karena itu, Milenial dan Gen-Z dapat dikatakan memegang peranan kunci sebagai penentu hasil pemilu 2024.

Terhitung sejak tanggal 28 November 2023, masa kampanye pemilu 2024 di Indonesia sudah dimulai. Dimulainya masa kampanye pemilu 2024 tentu merupakan sebuah momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Hal ini menandai dimulainya pesta demokrasi akbar untuk menentukan siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Indonesia di masa depan nanti.

Sejak dimulainya masa kampanye pemilu 2024, para paslon presiden dan wakil presiden sudah melakukan aktivitas kampanye dengan berbagai macam bentuk.

Contohnya seperti paslon nomor urut tiga yang memulai kampanye di hari pertama dengan mendatangi daerah Papua dan Aceh. Ada juga paslon nomor urut satu yang melaksanakan kampanye dengan mengadakan acara dialog dengan masyarakat terutama generasi muda seperti Milenial dan Gen-Z.

Serta paslon nomor urut dua yang pada masa awal kampanye masih melaksanakan tugas dinas sebagai pejabat pemerintah.

Kampanye pemilu 2024 tentu tidak terlepas dari berbagai macam fenomena unik yang menarik perhatian masyarakat terutama kalangan Gen-Z. Salah satu fenomena tersebut adalah maraknya gimmick yang beredar di media sosial sebagai instrumen kampanye dalam pemilu 2024.

Menurut Collins Dictionary, gimmick merupakan tindakan yang tidak biasa dan tidak perlu yang tujuannya adalah untuk menarik perhatian atau publisitas.

Selama proses menjelang pemilu 2024 sampai dengan saat ini, sudah beredar bermacam bentuk gimmick yang dilontarkan oleh masing-masing paslon kepada masyarakat. Contoh gimmick yang sudah marak beredar adalah “gemoy” dan “joget” dari capres nomor urut dua Prabowo Subianto.

Gimmick seperti “gemoy” dan “joget” dapat dikatakan bukan menjadi hal penting yang perlu dilakukan dalam sebuah pemilu, akan tetapi gimmick tersebut tetap dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat.

Gimmick “gemoy” dari paslon nomor urut dua bahkan sampai digunakan dalam beberapa baliho yang fotonya sudah tersebar di media social. Hal tersebut menandakan bahwa gimmick “gemoy” dapat menarik perhatian masyarakat sampai bisa menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan dan bahkan masuk ke beberapa pemberitaan media.

Contoh lain dari gimmick dalam kampanye pemilu 2024 adalah “slepetan sarung” dari paslon nomor urut satu. Gimmick tersebut berasal dari salah satu video yang diunggah pada akun sosial media Abdul Muhaimin Iskandar.

Pada video tersebut, cawapres nomor urut satu Abdul Muhaimin Iskandar alias yang akrab disapa Cak Imin melakukan semacam gurauan dengan capres Anies Baswedan dengan memainkan sarung seperti sebuah pecut.

Gimmick yang dilakukan oleh paslon nomor urut satu tersebut ternyata juga dapat menarik perhatian masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari maraknya pemberitaan dan sebaran dari video tersebut di media sosial seperti Instagram dan Tiktok.

Penggunaan gimmick sebagai instrumen kampanye dapat dikatakan efektif untuk meningkatkan popularitas paslon di kalangan masyarakat terutama Gen-Z, karena dengan membuat gimmick maka paslon tertentu dapat dengan mudah menarik perhatian masyarakat tanpa perlu banyak mengeluarkan biaya.

Hal tersebut semakin diperkuat oleh peran sosial media yang membuat gimmick paslon tertentu semakin mudah tersebar di berbagai kalangan masyarakat terutama Gen-Z.

Persebaran gimmick kampanye tersebut dapat dilihat dari maraknya konten sosial media yang memuat gimmick “gemoy” dan “joget” seperti pada konten-konten yang tersebar di sosial media Tiktok dan Instagram.

Penggunaan gimmick sebagai instrumen kampanye memang bukan hal yang salah, dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan gimmick merupakan cara efektif untuk meningkatkan popularitas paslon.

Namun, maraknya gimmick yang beredar di masyarakat terutama di kalangan Gen-Z dapat mengecoh perhatian mereka terhadap substansi pemilu yang seharusnya menjadi fokus utama.

Terkecohnya masyarakat terutama Gen-Z oleh gimmick yang beredar membuat mereka lupa akan substansi pemilu yang seharusnya. Hal tersebut tentu merupakan sebuah masalah yang perlu menjadi perhatian bersama. Substansi pemilu yang seharusnya berisi ajang pertukaran ide dan gagasan mengenai visi bangsa Indonesia ke depan menjadi kabur, hal tersebut dapat terjadi karena fokus kalangan masyarakat terutama Gen-Z teralihkan pada gimmick yang bermunculan di media sosial seperti di Tiktok dan Instagram.

Terkecohnya Gen-Z oleh gimmick yang beredar juga dapat mempengaruhi aspek pertimbangan pilihan mereka pada pemilu 2024. Pertimbangan pilihan akan cenderung dominan berasal dari aspek popularitas akibat gimmick dan bukan berdasar dari aspek kualitas ide dan gagasan paslon.

Memilih paslon dengan pertimbangan aspek popularitas memang bukan merupakan suatu hal yang dapat disalahkan, karena setiap orang bebas memiliki alasan apapun dalam menentukan pilihan mereka.

Namun, pilihan yang diambil dalam pemilu adalah pilihan yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia di masa mendatang, lantas apakah pertimbangan aspek popularitas semata dapat menjamin kualitas paslon yang akan dipilih?

Kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan tentu tidak hanya berdasar pada popularitasnya semata, dalam pengambilan keputusan juga diperlukan ide dan gagasan cemerlang dari pempimpin itu sendiri sehingga dapat menghasilkan keputusan yang berkualitas.

Maka dari itu, ketika kita memutuskan pilihan paslon dalam pemilu tentu tidak cukup hanya berdasar pada pertimbangan popularitas akibat gimmick saja.

Gimmick dalam kampanye pemilu bukanlah sebuah masalah. Namun, masyarakat yang terkecoh oleh gimmick kampanye sehingga melupakan substansi pemilulah yang merupakan masalah.

Gimmick boleh-boleh saja digunakan sebagai instrumen kampanye, akan tetapi masyarakat terutama Gen-Z jangan sampai mudah terkecoh oleh gimmick tersebut sehingga mereka lupa akan substansi dari pemilu itu sendiri.

Masyarakat terutama Gen-Z seharusnya fokus pada substansi pemilu sebagai aspek pertimbangan keputusan mereka. Seperti ide dan gagasan paslon, rekam jejak paslon, visi-misi paslon, isu yang diperjuangkan oleh paslon, dan lain-lain.

Masyarakat terutama Gen-Z juga seharusnya lebih kritis dalam menanggapi segala tren serta isu yang berkembang. Hal tersebut penting diterapkan agar masyarakat terutama Gen-Z tidak mudah terkecoh gimmick kampanye sehingga mereka tetap bisa fokus pada substansi pemilu.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa dalam pemilu nasib bangsa Indonesia menjadi pertaruhan. Maka dari itu keputusan yang diambil dalam pemilu ini seharusnya merupakan keputusan terbaik dengan pertimbangan matang.

Sehingga, hasil dari pemilu 2024 dapat membawa dampak positif bagi keberlanjutan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. (*)

Editor : Muhammad Fahmi
#pemilu 2024 #opini #gimmick politik