Oleh: Herumawan P A
Aku datang ke pertandingan final sepak bola di lapangan kampung. Mempertemukan tim Cemplon berhadapan dengan tim Klepon. Tapi bukan datang sebagai penonton. Aku ini salah satu perangkat pertandingan yang bertugas sebagai wasit garis.
Kulihat sudah banyak warga memenuhi pinggir lapangan. Ada yang duduk di atas tanah atau memakai tikar yang disediakan panitia. Ada juga yang berdiri. Ada pula tamu undangan yang duduk di bangku yang disediakan. Suasana begitu riuh dan ramai, tidak peduli cuaca sedang panas-panasnya.
Kulihat juga para penjual mulai berkeliling menjajakan dagangannya. Mulai dari minuman, hingga makanan kecil. Kuperhatikan buah semangka yang paling banyak dibeli. Entah itu dalam bentuk potongan buah atau dibuat jus. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, aku ikut mencicipinya. Memang enak rasanya. Di tenggorokan terasa segar.
Di tengah lapangan, kuperhatikan kedua tim sudah bersiap. Wasit utama sudah memeriksa jaring gawang dan menghitung jumlah pemain masing-masing tim. Sorak sorai penonton yang berdiri di pinggir lapangan mulai bergemuruh tidak sabar menunggu pertandingan segera dimulai.
Tiba-tiba aku samar-samar mendengar perangkat tim Klepon berteriak memanggil para pemainnya agar lekas meninggalkan tengah lapangan.
"Jangan bertanding dulu. Kembali ke sini!!" Mereka mengikuti instruksi pelatih. Tinggal tim Cemplon yang ada di setengah lapangan. Menunggu tim Klepon kembali untuk bertanding.
Kulihat tim Klepon malah asyik beragumentasi dengan panitia dan perangkat pertandingan yang lain. Kudekati kerumuman mereka yang sedang beragumentasi. Kudengar suara mereka sangat jelas. Manajer tim Klepon berkata keras, “Di tim lawan ada anaknya Pak RW. Kami tidak mau main sebelum dia diganti."
"Memang kenapa? Bukankah Pak RW sudah jamin pertandingan final akan berjalan adil.” aku mengingatkan. Manajer tim Klepon tetap ngotot.
"Bagaimana kami bisa percaya kalau wasit utamanya juga masih punya hubungan keluarga dengan Pak RW?"
"Jadi bagaimana harusnya menurut kalian?"
"Kami minta anak Pak RW tidak boleh main, dan wasit utama harus diganti."
"Lho… Lho ya enggak bisa begitu dong. Anaknya Pak RW sudah sah jadi anggota tim Klepon dan telah didaftarkan sebagai starting eleven." seorang perangkat tim Clempon mendadak ikut nimbrung. Manajer tim Klepon kesal mendengarnya.
"Kami hanya ingin pertandingan final berlangsung jujur dan adil. Kami ingin anak Pak RW dan wasit utama diganti." Manajer tim Klepon mengulangi lagi perkataannya.
“Ya enggak bisa. Semuanya sudah sesuai aturan kok.” Seorang perangkat tim Clempon menimpali. Ia langsung menyahut, “Ya sudah, kalau begitu kami mundur.”
“Oke, kalau kalian mau mundur silahkan saja. Tapi kemenangan WO kami berikan untuk tim Cemplon.” Wasit utama yang tadinya diam mengamati, tegas memberitahu.
“Lho ya enggak bisa begitu doang. Masa tim Cemplon dinyatakan menang tanpa tanding.” sahut manajer tim Klepon. Seorang perangkat tim Klepon berusaha menenangkannya.
Aku yang tetap ingin melihat pertandingan bola kampung berjalan sebagaimana mestinya, lalu mendekati manajer tim Klepon dan berkata mengguruinya, “Kalau memang yakin menang, bermainlah selayaknya pemenang. Enggak perlu pikirkan anak Pak RW atau wasit.” ujarku.
“Kami ini fokus pada pertandingan yang adil dan jujur. Dan setelah kami pertimbangkan, kami putuskan anak Pak RW enggak boleh main dan wasit utama harus segera diganti.” Sahutnya kembali mengulangi apa yang sudah dikatakannya tadi.
“Kenapa wasit harus diganti? Bukankah bisa mengundang sesepuh kampung untuk menyaksikan dan memantau pertandingan bolanya.” Saranku. Ia berpikir sejenak.
"Saran yang bagus. Tapi bagiamana anak Pak RW? Kalau ia masih main, bisa dapat keistimewaan nanti."
"Enggak perlu dipikirkan. Kalau mainnya enggak bagus, pasti pelatih tarik keluar." Ia mengangguk setuju lalu berunding dengan panitia dan perangkat pertandingan termasuk aku serta wasit utama.
Mereka pun setuju. Lalu diundanglah beberapa sesepuh kampung yang paham bola. Mereka ditugasi memantau jalannya pertandingan bola dari pinggir lapangan dan juga bangku penonton untuk tamu undangan.
Akhirnya pertandingan final kembali digelar setelah tertunda beberapa menit. Sorak sorai pendukung kedua tim bergemuruh di pinggir lapangan. Kedua tim sempat saling "jual beli" serangan. Saling bergantian mencetak gol. Skor 4-4 tampaknya akan jadi hasil akhir pertandingan.
Tapi pada menit-menit injury time babak kedua, tim Cemplon mendapatkan pinalti setelah seorang pemain tim Klepon kedapatan handsball di kotak terlarang. Anak Pak RW ditunjuk jadi eksekutor pinaltinya oleh tim Klepon.
Sementara para pemain tim Cemplon langsung menuduh wasit curang dengan alasan sengaja memberi pinalti. Padahal menurut mereka itu handsball pasif bukan aktif dan segala macam alasan lainnya. Mereka mendorong tubuh wasit utama. Aku dan wasit garis yang ada di sisi lain lapangan juga terkena cacian. Dianggap bantu wasit utama dan tidak becus memimpin pertandingan.
Pertandingan terhenti cukup lama. Wasit langsung mengeluarkan kartu merah untuk tiga pemain tim Klepon yang melakukan protes keras. Anak Pak RW sebagai algojo pinalti tim Cemplon berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Bersamaan dengan itu, wasit utama meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Kemenagan tipis untuk tim Cemplon.
Dari pinggir lapangan, manajer beserta pelatih tim Klepon marah-marah kepada panitia dan perangkat pertandingan termasuk aku. Tidak ketinggalan beberapa sesepuh kampung yang diundang juga ikut terkena semprot.
Mereka tidak terima kekalahan lalu berencana menuntut pertandingan diulang. Warga juga kesal menyaksikan begitu banyaknya "drama" yang terjadi di atas lapangan langsung melempar benda-benda yang mereka bawa ke tengah lapangan. Para pemain kedua kesebelasan lari menjauhi lapangan. Kabur pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa penonton ada yang merangsek masuk ke lapangan. Berusaha mengejar wasit utama dan perangkat pertandingan termasuk aku. Tapi bisa dicegah Hansip dan keamanan kampung.
Melihat suasana yang mulai tidak kondusif, aku segera berlari menuju ke rumah Pak RW tidak jauh dari lapangan kampung, disusul wasit utama, pantia dan perangkat pertandingan lain. (*)
Yogyakarta, 24 November 2023
Editor : Ronald Fernando