Oleh: Siti Mardiana Rahman Febrianti*
INDONESIA merupakan negara beriklim tropis yang baik bagi kehidupan hewan dan tumbuhan. Kondisi itu juga menjadikan Indonesia sebagai tempat yang baik pula bagi perkembangan penyakit. Terutama penyakit yang penularannya melaui vector.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan virus dengue. Ditularkan lewat nyamuk aedes aegypti.
Penyakit ini akan membuat pederitanya merasakan nyeri hebat pada seluruh tubuh. Jika tidak ditangani dengan baik, demam berdarah bisa menyebabkan komplikasi yang cukup parah. Bahkan, berpotensi menyebabkan kematian.
Penyakit ini sangat identik dengan musim hujan, dikarenakan banyaknya genangan air dan menyebabkan pertumbuhan nyamuk sangat mudah dan berkembang biak dengan baik.
Nyamuk aedes aegypti ini berukuran kecil,badannya berwarna hitam pekat, serta terdapat dua garis putih di area punggung.
Namun, kini kemunculan DBD tidak hanya ada pada musim hujan, tetapi secara umum bisa terjadi kapan saja.
Nyamuk ini biasanya mencari mangsa pada saat pagi dan sore hari. Mereka menyukai tempat yang gelap, sehingga manusia tidak bisa menemukan nyamuk tersebut di dalam rumah.
Demam Berdarah Dengue masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang ada di Indonesia. Setiap tahun, angka kasus demam berdarah terus meningkat terutama pada kalangan anak-anak.
Tingkat terjangkitnya penyakit ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara di Asia Tenggara. Kasus DBD ini terus meningkat.
Pada tahun 2021, ada sebanyak 73.518 kasus dengan angka kematian 705 orang. Tahun 2022 sebanyak 131.265 kasus dengan angka kematian 1.183.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 73 persen angka kematian tersebut adalah anak-anak. Berusia 0-4 tahun. Dan sampai saat ini terhitung sampai Agustus 2023, ada 430 angka kematian akibat DBD (Kemenkes RI).
Pada 2009, WHO membagi demam berdarah menjadi demam dengue dan DBD parah. Gejala utama yang membedakan DBD dari demam dengue adalah peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan kebocoran plasma.
Demam Berdarah Dengue ini mempunyai tanda dan gejala awal pada anak akan berkembang pada 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi. Serta, dapat bertahan sekitar 3 sampai tujuh hari.
DBD pada anak biasanya dimulai dengan gejala penyakit seperti virus flu. Gejala umum DBD pada anak yaitu, demam tinggi, jadi lebih rewel, susah tidur, tidak mau makan, sering menangis, mimisan, gusi berdarah, timbul bercak merah pada kulit, dan muntah.
Dan adapun gejala pada orang dewasa yaitu adanya rasa sakit kepala, mual, nyeri, dan radang tenggorokan. Setelah itu, gejala awal DBD biasanya diikuti dengan gejala tambahan yang menandakan bahwa virus sudah menjalar ke seluruh tubuh dan menyebabkan peradangan.
Seperti mimisan, gusi berdarah, BAB berwarna hitam atau gelap, dan muntah darah. Setelah muncul gejala tersebut, penderita akan memasuki fase kritis selama 2-3 hari.
Di fase ini, banyak orang mengira sudah sembuh karena demam tinggi sudah menurun, rasa sakit di tubuh sudah berkurang, dan menghilangnya beberapa gejala tambahan.
Pada fase ini penderita harus diwaspadai karena dapat menyebabkan Dengue Shock Syndrome. Sekitar 30- 50 persen penderita demam berdarah dengue mengalami Dengue Sock Syndrome (DSS) dapat menyebabkan kematian bila tidak di tangani dengan akurat.
Dengue Shock Syndrome terjdi ketika pembuluh darah rusak dan bocor. Jumlah trombosit dalam darah mengalami penurunan, sehingga bisa menyebabkan shock, pendarahan internal, kegagalan organ, bahkan kematian.
Adapun gejalanya yaitu, sakit perut yang parah, muntah terus-menerus, pendarahan pada gusi atau hidung, sulit bernapas, kelelahan, dan gelisah.
Terdapat tiga faktor yang berperan pada penularan infeksi virus dengue. Yaitu manusia, virus dan vector perantara. Pada saat aedes yang mengandung virus dengue menggigit manusia yang sedang mengalami viremia.
Kemudian virus yang berda di air liur berkembang biak dalam waktu 8–10 hari. Sekali virus dengue masuk dan berkembang biak di dalam tubuh manusia nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya.
Faktor risiko yang memengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue yaitu pola makan, umur, lingkungan, suhu, pekerjaan, pakaian, status gizi, penggunaan obat anti nyamuk, warna dinding.
Dikarenakan belum ada mengenai penanganan untuk penyakit DBD, maka sangat dibutuhkan untuk mencegah faktor risiko terjadinya kejadian demam berdarah dengue pada anak untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Sampai saat ini, belum ada obat antivirus atau obat khusus yang berdiri sendiri untuk mengobati DBD. Akan tetapi, orang tua bisa melakukan cara untuk mengatasi gejala DBD yang timbul pada anak.
Yaitu, memberikan parasetamol yang diresepkan dokter untuk menurunkan demam anak. Tempelkan kompres hangat pada dahi dan pada lipatan ketiak, dan lipat selangkangan selama 10-15 menit untuk menurunkan panas.
Berikan kenyamanan agar anak dapat istirahat yang cukup, usahakan anak tetap pada jadwal tidurnya. Pastikan memenuhi kebutuhan cairannya untuk menghindari dehidrasi, berikan susu, jus buah (misal jus jambu), air beras, dan berikan makanan yang sehat dan bergizi.
Sebab, pola makan yang sehat dan tidur yang cukup akan membantu sistem kekebalan tubuh anak. Hindari penggunan ibuprofen atau obat antiinflamsi lainnya kepada anak untuk mengobati gejala DBD.
Sebab, DBD menurunkan kadar trombosit dalam darah dan bisa menyebabkan pendarahan. Pastinya, melakukan pencegahan penyakit lebih baik daripada mengobati.
Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak maupun keluarga di rumah terhindar dari gigitan nyamuk yang membawa virus dengue.
Cara mencegah penyakit DBD ini yaitu, singkirkan benda yang dapat menampung air, seperti ember, baskom, dan pot. Rutin menguras bak mandi dan wastafel, untuk menghindari jentik-jentik nyamuk.
Rajin membersihkan tubuh karena bau badan dipercaya dapat menarik nyamuk. Kurangi waktu di luar rumah saat musim hujan. (*)
*Mahasiswi Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang. Bisa disapa di sitimardianadiana18@gmail.com.my
Editor : Muhammad Fahmi