Sekira pukul 09.00, Tole sudah keluar rumah. Ia harus melakukan permintaan Minthul, 25, istrinya yang tengah hamil 7 bulan. “Permintaannya aneh, dia nyuruh saya potong rambut,” katanya. Selama ini, Tole memang jarang potong rambut. Rambut model gimbal memang menjadi pilihannya.
Nah, semenjak istrinya hamil, Tole selalu didesak untuk potong rambut. Ancamannya cukup membuat nyalinya ciut. Sang istri mengancam tidak akan makan dan minum jika Tole tak mau memotong rambutnya. Minthul menegaskan jika permintaan ini sebagai bagian dari ngidam karena kehamilannya.
“Saya bukannya takut sama istri, tapi ini jelas ngefek sama anak. Kan bahaya kalau ibunya nggak makan dan minum,” katanya menggerutu. Dan satu lagi, Minthul minta Tole membelikan bakso pukul 10.00, tapi harus dibawa pulang pukul 12.00. “Ngidam kok sebegitunya,” imbuhnya heran.
Akhirnya, Tole berkeliling kota sejak pagi untuk memastikan ada penjual bakso yang sudah membuka lapaknya. Hingga kemudian pukul 09.30, ia mendapati penjual bakso yang sudah buka dagangan. Tapi, Tole tak berani beli saat itu juga karena perintahnya pukul 10.00.
“Ya harus nunggu. Kalau sudah pukul 10.00 baru saya beli,” katanya. Sebagai pembuktian, Tole wajib video call pada jam segitu untuk memastikan bakso benar-benar beli di jam yang diinginkan. “Telepon pakai WhatasApp video. Sampai diketawain penjual baksonya,” jelas pria bertubuh kerempeng ini.
Usai membeli bakso, Tole kemudian mencari salon untuk potong rambut. Tidak begitu susah mencari barbershop yang menjamur di kota mangga. Tepat pukul 10.30, ia dapat giliran potong rambut. Nah, keapesan Tole dimulai. Ketika rambutnya baru dipotong separo, tiba-tiba petttttttt!!! Lampu padam.
“Gila nggak tuh? Sementara tempat potong rambutnya tidak punya genset. Motong rambut saya juga ndak mungkin pakai gunting, uda tebal begini,” katanya. Namun, Tole mencoba bersabar, siapa tahu lampu kemudian hidup.
Hanya saja, ia kemudian teringat bakso pesanan sang istri yang harus diantar pukul 12.00. dengan sangat terpaksa, ia memutuskan pulang. “Sama tukang potongnya tidak usah bayar, kecuali nanti setelah separonya dipotong lagi,” katanya. Dengan tergesa-gesa, Tole menghidupkan motor, sembari berharap tiba di rumah sebelum pukul 12.00.
Ternyata, keapesannya berlanjut. Bensin di motornya habis. Motor pun macet. Beruntung, SPBU tidak jauh dari tempat motornya mati. Tole kemudian menuntun motornya sampai SPBU. Tiba di SPBU, ia mendapati tulisan yang membuatnya nyesek. “Maaf, lampu padam”. Ia baru ingat, ternyata SPBU juga butuh listrik untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sementara, saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.57. sejauh mata memandang, tidak ada penjual bensin eceran. Ia pun pasrah. Apalagi setelah jarum jam menunjukkan pukul 12.01. “Apesku ndak ketulungan lagi. Minthul telepon bolak-balik. Dia sudah ndak mau baksonya karena sudah lewat pukul 12.00. Ini gara-gara listrik padam. Huasyeemmmm,” katanya. (rpd/rf) Editor : Jawanto Arifin