Warga Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu mengakui, jika dirinya kerap kali bangun siang. Maklum, jam kerjanya sebagai pelayan warung, memang sore hingga dini hari. “Wong kerjanya juga sampai malam hari, jadi pasti pagi masih ngantuk dan saya biarkan tidur,” jelasnya.
Minthul sendiri sejatinya tidak mempermasalahkan. Namun, justru yang menyoal adalah mertuanya. Bahkan, mertuanya menganggap Tole malas. Padahal, Tole benar-benar mengantuk karena semalaman tidak tidur. Seringnya sang mertua melontarkan sindiran, semakin sering pula pertengkaran terjadi.
Tole sendiri mengaku tak punya pilihan lain selain bekerja di rumah makan. Berbeda dengan sebelumnya, saat ia bekerja sebagai buruh pabrik. Dimana lebih banyak jam kerjanya pagi hingga sore hari. Saat itu, sang mertua tidak mempermasalahkan.
Pandangan keluarga sang istri berubah saat Tole kena PHK. Hal ini jelas membuat ekonomi keluarga morat-marit. Padahal, Tole merupakan tulang punggung keluarga. Karena itu, Tole berusaha mencari pekerjaan pengganti. Sampai akhirnya ia bekerja sebagai pelayan rumah makan. Meski secara prestise dan gaji jauh di bawah buruh pabrik, namun ia tidak mempersoalkan.
“Bayarannya kecil. Tapi daripada menganggur. Meski saya sudah bekerja keras, ternyata tanggapan mertua tetap sinis. Alasannya gajinya sedikit,” ungkapnya. “Selain itu, karena bangun siang, juga jadi masalah. Mertua gak suka. Saya sering disindir karena dianggap malas,” ceritanya.
Karena itu, Tole makin lama makin gak betah. Karena itu, Tole jadi sering pulang ke rumah orang tuanya sendiri. “Gak betah di rumah. Saya juga gak tenang buat istirahat,” ungkapnya. Setelah itu, hubungannya dengan sang istri semakin renggang. Hingga kini, belum jelas kemana hubungan mereka. “Saya pasrah,” kata Tole. (eka/rf) Editor : Jawanto Arifin