Kontestasi politik ini digadang-gadang berpotensi kuat menumbangkan takhta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang telah bertahun-tahun mencengkeram tampuk kepemimpinan.
Mengutip laporan The Guardian, Jumat (2/10), hasil jajak pendapat terbaru Channel 13 membocorkan bahwa blok koalisi oposisi diproyeksikan mengamankan 52 kursi. Angka tersebut menempel ketat blok pendukung Netanyahu yang mengantongi 51 kursi, sementara batas ambang batas mayoritas mutlak untuk membentuk kabinet pemerintahan membutuhkan minimal 61 dari total 120 kursi Knesset.
Secara individual, Gadi Eisenkot yang mengomandoi Partai Yashar melejit ke posisi teratas dengan proyeksi raihan 22 kursi. Angka tersebut berhasil melampaui raihan Partai Likud besutan Netanyahu yang cuma tertahan di angka 18 kursi.
Retakan sosial-politik tersebut terpotret jelas di ranah akar rumput masyarakat Israel, di mana sebagian konstituen kukuh mendukung Netanyahu dan faksi sayap kanan, sedangkan ceruk pemilih lainnya mendesak perombakan radikal kepemimpinan pasca-berkecamuknya perang serta memburuknya krisis ekonomi dan sosial.
Dukungan konstituen terhadap Netanyahu diakui masih mengakar di kantong-kantong tertentu. Namun, gelombang pemilih alternatif mendesak rezim penguasa untuk merombak total haluan kebijakan, mencakup skema pertahanan nasional, tata kelola ekonomi, regulasi wajib militer, hingga manuver hubungan diplomasi dengan bangsa Palestina.
Peta persaingan yang kaku membuat muara hasil pemilu kian sulit ditebak lantaran tak satu pun dari dua poros utama dalam survei terkini berhasil menembus angka keramat 61 kursi untuk mendirikan pemerintahan secara mandiri.
Kunci pembentukan pemerintahan mendatang juga amat bergantung pada nasib politik partai-partai yang merepresentasikan warga Palestina di Israel, yang sebelumnya digadang-gadang memegang porsi kursi krusial.
Komite Pemilihan Pusat Israel pada September lalu sempat menjatuhkan vonis diskualifikasi terhadap dua partai utama, yakni Ra'am dan Joint List. Kendati demikian, putusan pencoretan tersebut masih digantung lantaran tengah menempuh proses peninjauan kembali di Mahkamah Agung usai kedua belah pihak mengajukan gugatan banding.
Berada di tengah tensi persaingan yang kian membara serta fragmentasi peta politik yang rumit, pemilu mendatang dipastikan menjadi panggung ujian paling menentukan bagi keberlanjutan dinasti Netanyahu maupun pembuktian taji kelompok oposisi.