"Jika AS membuat kesalahan lagi terhadap Iran, maka semua pangkalan dan kepentingan negara tersebut di kawasan ini akan menjadi sasaran serangan yang terus-menerus dan menyakitkan tanpa batasan atau keraguan sedikit pun," kata badan tersebut dalam pernyataannya dilansir dari Antara, Senin (21/9).
Sebagaimana dilaporkan stasiun televisi nasional IRIB, Khatam Al-Anbiya memberi peringatan keras bahwa pihak Iran tak akan tinggal diam terhadap negara-negara di Timur Tengah yang memilih memfasilitasi atau terlibat dalam operasi militer AS.
Pihak militer Iran turut mengklaim jika AS, atas persetujuan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, telah menyepakati agenda pertemuan gabungan di salah satu negara Eropa guna menyusun alur operasi militer anyar yang mengincar Iran.
Baca Juga: Iran Sebut 40 Persen Kapasitas Ladang Migas South Pars yang Rusak Berhasil DipulihkanKecamuk perang antara Iran dan AS mulanya pecah pada 28 Februari, ketika gempuran gabungan AS dan Israel ke Iran langsung direspons balik lewat rentetan serangan balasan Iran ke sejumlah lokasi strategis kawasan.
Pada pertengahan Juni, usai berbulan-bulan terlibat aksi saling gempur, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman guna menyetop konfrontasi senjata. Kendati demikian, perselisihan militer kembali menyala tak lama setelahnya.
Hingga saat ini, belum terlihat indikasi bentrokan bakal mereda, mengingat aksi permusuhan serta gempuran susulan masih terus meletus secara sporadis.
Di tengah situasi yang serba tak pasti tersebut, pihak AS memilih memperketat himpitan ekonomi atas Iran demi mengakhiri konflik melalui penekanan kondisi finansial baru bagi masyarakat Iran.