Radar Bromo - Di tengah kehidupan yang serba cepat, menjadi “hebat” seolah menjadi tuntutan yang tidak ada habisnya. Seseorang dituntut untuk berprestasi, punya pekerjaan bagus, produktif setiap hari, memiliki hubungan yang baik, hingga terlihat bahagia di media sosial. Padahal, manusia tidak selalu berada dalam kondisi terbaiknya.
Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Teman sudah lulus kuliah, ada yang sudah bekerja, ada yang mulai membangun bisnis, bahkan ada yang sudah menikah. Sementara dirinya masih berada di tempat yang sama. Perasaan seperti ini sebenarnya cukup wajar, tetapi jika terus dibiarkan bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Padahal, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Apa yang berhasil dicapai orang lain tidak harus menjadi ukuran keberhasilan diri sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang atau menerima keadaan tanpa melakukan perubahan. Justru, berdamai dengan diri sendiri berarti mampu menerima kekurangan, memahami kondisi diri, kemudian tetap berusaha memperbaiki apa yang memang bisa diperbaiki.
“Tidak semua hari harus menghasilkan pencapaian besar. Ada hari ketika seseorang hanya perlu bertahan, beristirahat, dan mengumpulkan tenaga untuk kembali melangkah,” demikian gambaran sederhana dalam proses pengembangan diri.
Berhenti Membandingkan Kehidupan
Salah satu penyebab seseorang sulit berdamai dengan dirinya adalah kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain. Kebiasaan tersebut semakin mudah dilakukan karena adanya media sosial.
Melalui media sosial, seseorang dapat melihat keberhasilan orang lain hanya dalam hitungan detik. Ada yang mengunggah wisuda, pekerjaan baru, liburan, kendaraan baru, bisnis yang berkembang, atau pencapaian lainnya.
Masalahnya, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka. Perjuangan, kegagalan, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, maupun rasa takut yang yg mereka alami belum tentu ikut ditampilkan.
Karena itu, membandingkan kehidupan sendiri dengan unggahan orang lain sebenarnya tidak selalu adil.
Daripada terus melihat pencapaian orang lain, cobalah melihat perkembangan diri sendiri. Tanyakan apa yang sudah berubah dibandingkan satu atau dua tahun sebelumnya. Bisa jadi ada banyak hal kecil yang sebenarnya sudah berhasil dilewati.
Tidak Semua Kegagalan Berarti Gagal sebagai Manusia
Kegagalan sering dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Padahal, gagal dalam satu hal tidak berarti seseorang gagal dalam seluruh kehidupannya.
Tidak diterima di pekerjaan yang diinginkan bukan berarti tidak memiliki kemampuan. Tidak berhasil dalam sebuah hubungan bukan berarti tidak layak dicintai. Mendapat nilai yang kurang memuaskan juga bukan berarti masa depan sudah berakhir.
Kegagalan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi. Daripada terus mengatakan “Aku tidak bisa”, lebih baik bertanya, “Apa yang perlu aku perbaiki?”
Perubahan cara berbicara kepada diri sendiri terlihat sederhana, tetapi bisa membantu seseorang menghadapi kegagalan dengan lebih tenang.
Belajar Menghargai Proses
Banyak orang hanya menghargai hasil. Ketika berhasil, dirinya dianggap hebat. Ketika gagal, semua usaha sebelumnya seolah tidak berarti.
Padahal, proses juga layak dihargai.
Bangun pagi dan tetap menjalankan tanggung jawab ketika sedang tidak bersemangat merupakan proses. Berani mencoba kembali setelah gagal juga proses. Mau belajar dari kesalahan juga merupakan bentuk perkembangan.
Tidak semua kemajuan harus terlihat besar. Terkadang, kemajuan justru hadir melalui perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Jangan hanya menghargai diri sendiri ketika berhasil. Belajarlah menghargai diri sendiri ketika sedang berproses, karena di situlah sebenarnya perjuangan berlangsung,” ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki nilainya sendiri.
Tidak Apa-Apa Berjalan Lebih Pelan
Hidup bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai tujuan pada usia yang sama. Ada orang yang menemukan pekerjaan impiannya di usia muda. Ada pula yang baru menemukannya setelah mencoba berbagai hal.
Ada yang berhasil membangun bisnis lebih awal, sementara yang lain masih belajar mengatur keuangan. Ada yang sudah mengetahui tujuan hidupnya, sementara sebagian lainnya masih mencari arah.
Kondisi tersebut bukan alasan untuk merasa rendah diri. Berjalan pelan tetap berarti bergerak. Selama masih ada usaha untuk belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan kehidupan, seseorang sebenarnya sedang mengalami proses pertumbuhan.
Pada akhirnya, menjadi manusia tidak harus selalu tentang menjadi yang paling hebat. Tidak harus selalu menang, tidak harus selalu terlihat bahagia, dan tidak harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain.
Ada kalanya seseorang hanya perlu berhenti sejenak, melihat perjalanan yang sudah dilewati, kemudian mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua perjuangan tersebut tetap memiliki arti.
Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti berhenti mengejar impian. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi cara untuk menjalani proses dengan lebih sehat. Sebab, seseorang tidak harus menjadi sempurna untuk pantas menghargai dirinya sendiri.
Penulis: Tim Magang Universitas Yudharta - EVA ADELIA FRANSISCA