Radar Bromo – Memasuki musim kemarau, masyarakat Probolinggo mungkin sudah tidak asing dengan hembusan angin yang terasa lebih kencang dari biasanya. Debu beterbangan, dedaunan berguguran, hingga pintu dan jendela rumah terkadang ikut bergetar saat angin bertiup cukup kuat.
Bagi masyarakat Probolinggo, fenomena tersebut bukan sekadar angin biasa. Namanya Angin Gending.
Fenomena angin lokal ini menjadi salah satu ciri khas wilayah Probolinggo dan Pasuruan. Biasanya, Angin Gending muncul pada musim kemarau, terutama sekitar Juni hingga September. Tahun ini, fenomena tersebut kembali dirasakan masyarakat sejak awal Juli. Bahkan, hembusannya di kawasan pegunungan dilaporkan bisa mencapai sekitar 45 kilometer per jam.
Sekilas, Angin Gending mungkin hanya terasa sebagai hembusan angin panas dan kering. Namun, di baliknya terdapat proses alam yang cukup menarik.
Berdasarkan penjelasan BMKG, Angin Gending merupakan angin lokal yang terjadi karena kondisi geografis wilayah Probolinggo dan Pasuruan yang berada di antara kawasan pegunungan dan pesisir. Pada musim kemarau, aliran massa udara dari arah selatan hingga timur bergerak melewati kawasan pegunungan sebelum turun menuju wilayah yang lebih rendah.
Proses tersebut membuat udara yang turun menjadi lebih kering dan terasa panas. Karena itulah, ketika Angin Gending datang, masyarakat tidak hanya merasakan hembusan angin yang cukup kuat, tetapi juga udara yang cenderung kering.
Keberadaan pegunungan di bagian selatan Probolinggo menjadi salah satu faktor penting dalam terbentuknya fenomena tersebut. Kondisi topografi inilah yang membuat Angin Gending menjadi angin lokal yang khas di wilayah Probolinggo dan Pasuruan.
Namanya memang membawa kata Gending, tetapi hembusan angin ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Gending.
Fenomena tersebut dapat dirasakan di sejumlah wilayah Probolinggo hingga Pasuruan. Bahkan, pemerintah Kabupaten Probolinggo menyebut Angin Gending sebagai angin kering yang cukup kencang dan biasanya bertiup dari arah tenggara menuju barat laut.
Nama Gending sendiri kemudian begitu melekat dengan fenomena tersebut. Kecamatan Gending berada di wilayah pesisir utara Kabupaten Probolinggo dan dikenal sebagai salah satu kawasan yang identik dengan fenomena Angin Gending.
Bagi warga, kedatangan angin ini menjadi semacam tanda bahwa musim kemarau sedang berlangsung. Ada yang memanfaatkannya untuk membantu proses pengeringan hasil pertanian maupun hasil laut. Namun, di sisi lain, hembusan yang terlalu kuat juga perlu diwaspadai.
Debu yang terbawa angin dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan. Angin kencang juga berpotensi menyebabkan pohon tumbang, merusak atap rumah, hingga meningkatkan risiko kebakaran ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Tahun ini, masyarakat Probolinggo kembali diminta meningkatkan kewaspadaan selama fenomena Angin Gending berlangsung. BPBD mengimbau warga menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu, memperbanyak minum air putih, serta menghindari berteduh di bawah pohon besar ketika angin bertiup kencang.
Meski terkadang merepotkan, Angin Gending tetap menjadi bagian dari cerita masyarakat Probolinggo. Fenomena alam yang datang hampir setiap musim kemarau itu bahkan ikut membentuk identitas wilayah.
Ada kalanya warga mengeluh karena debu yang beterbangan atau jemuran yang sulit ditata. Namun, bagi masyarakat yang sudah terbiasa, datangnya angin tersebut seolah menjadi bagian dari siklus alam yang selalu berulang setiap tahun.
Pada akhirnya, Angin Gending bukan sekadar angin yang membuat daun berguguran atau debu beterbangan di jalan. Di balik hembusannya terdapat pertemuan antara kondisi geografis, musim, dan kehidupan masyarakat.
Dari pegunungan hingga pesisir, Angin Gending terus menjadi fenomena khas yang membuat Probolinggo memiliki cerita tersendiri setiap musim kemarau.
Penulis: Tim Magang Universitas Yudharta - ISTIQNA SALSABILA
Editor : Moch Vikry Romadhoni