Tepis Isu Desil Keliru, BPS Buka Suara Tegaskan Pentingnya Pembaruan Data Daripada Ubah Metode

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 19:43 WIB
Ilustrasi BPS. (Dok JawaPos.com)
Ilustrasi BPS. (Dok JawaPos.com)

Radar Bromo - Badan Pusat Statistik (BPS) menggaransi bahwasanya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) bakal terus dievaluasi serta disempurnakan demi mengalirkan kemanfaatan optimal bagi masyarakat luas.

Direktur Metodologi dan Sains Data BPS, Setia Pramana, mengutarakan bahwa hingga saat ini memang masih ditemukan sejumlah anomali ketidaksesuaian penetapan desil yang memicu keluhan di tengah warga.

Atas dasar itu, dirinya menganggap bahwa pemutakhiran data secara berkala memegang peranan jauh lebih vital ketimbang sekadar mengombak metode formulasi pemeringkatan.

“Bukan desilnya yang harus dimutakhirkan, tetapi datanya. Kondisi masyarakat harus di-update sesuai kondisi saat ini,” tegas Setia tatkala ditemui di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jakarta, Jumat (11/9).

Setia membentangkan peluang peleburan data DTSEN dengan basis data milik kementerian maupun lembaga negara lainnya demi mengerek derajat akurasi. Skenario integrasi tersebut sanggup mencakup pelbagai muara data otoritas pemerintah, sejauh dieksekusi selaras dengan koridor aturan perlindungan data pribadi.

“Kalau bicara data, sangat memungkinkan kita berkolaborasi dengan seluruh kementerian dan lembaga,” terangnya.

Setia merinci, penentuan tingkatan desil dalam DTSEN sejatinya bersumber dari kompilasi data perseorangan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), serta Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), yang dipadukan dengan pangkalan data Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil).

Di samping itu, klasifikasi desil dalam DTSEN tak melulu dipatok berdasarkan kalkulasi tingkat pengeluaran finansial warga semata. Pihak pemerintah mengaplikasikan lebih dari 40 variabel indikator guna memotret konstelasi sosial dan ekonomi tiap-tiap rumah tangga.

Ia membeberkan, deretan variabel tersebut meliputi kelayakan struktur perumahan, penguasaan aset, karakteristik internal rumah tangga, hingga kemudahan akses pada fasilitas sanitasi. Pelbagai parameter ini dikalkulasi untuk memprediksi sekaligus mengurutkan derajat sosial ekonomi masyarakat secara komprehensif.

“Jadi, tidak ada batas pendapatan tertentu yang otomatis menentukan seseorang masuk desil tertentu,” pungkasnya.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
desil bansos Regsosek bps DTSEN bansos