Lagu Training Season Dua Lipa Jadi Anthem Wajib Gen Z Buat Pasang Standar Pasangan

radar bromo • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:00 WIB
potret kebahagiaan dualipa bersama suaminya callum turner dihari pernikahan mereka. (Pinterest)
potret kebahagiaan dualipa bersama suaminya callum turner dihari pernikahan mereka. (Pinterest)

Radar Bromo - Ketika sebuah lagu tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan berubah menjadi pedoman batin jutaan orang, patut dikaji apa yang sesungguhnya terjadi. Belakangan ini, lagu Training Season karya Dua Lipa yang dirilis Februari 2024 kembali mendominasi linimasa, khususnya di TikTok, dengan peran baru bukan sekadar musik latar, melainkan anthem atau lagu kebangsaan bagi mereka yang sedang menetapkan kriteria pasangan hidup.

Fenomena ini tidak terbatas pada satu negara saja, melainkan mewabah ke berbagai belahan dunia. Hal tersebut menunjukkan bagaimana karya seni dapat membentuk pola pikir kolektif lintas batas negara dan budaya.

Dilansir dari Billboard, lagu ini lahir dari rangkaian pengalaman pribadi Dua Lipa berupa kencan-kencan yang mengecewakan, hingga satu pengalaman terakhir yang menjadi titik balik. "Sesi pelatihan telah usai," begitu ungkapan tegas yang melahirkan lagu ini, sebuah pernyataan bahwa ia tak lagi ingin meluangkan waktu mengajarkan seseorang hal-hal mendasar tentang cara memperlakukan pasangan dengan baik.

Dilansir dari The Standard POP, Sabtu (29/8), tren manifestasi melalui lagu ini kini merambah ke seluruh dunia. Semakin menarik perhatian publik karena apa yang dituliskan Dua Lipa dalam liriknya ternyata benar-benar terwujud dalam kehidupannya sendiri ia kini menjalin hubungan dengan seseorang yang sesuai kriterianya.
 
1. Mengakhiri siklus melatih pasangan yang belum matang
Inti pesan lagu terletak pada kesadaran untuk berhenti memikul beban emosional mendidik pasangan seakan menjadi sosok pendamping utama. Liriknya menyuarakan keresahan yang dialami banyak orang yang harus menjelaskan cara berkomunikasi, menghargai waktu, hingga menunjukkan bentuk kasih sayang yang pantas diterima.

Kondisi ini yang kemudian diistilahkan masyarakat luas sebagai hubungan red flag. Lagu ini hadir memvalidasi rasa lelah tersebut bahwa kelelahan itu wajar dan berhak diakhiri. Tren di berbagai negara memperlihatkan bagaimana jutaan orang merasa terwakili, sehingga lagu ini dijadikan penegas bahwa fase toleransi terhadap ketidakpedulian sudah selesai.

2. Merumuskan standar pasangan yang layak dipertahankan
Bagian yang menjadikan lagu ini berbeda adalah ia tidak sekadar menolak hal buruk, tetapi juga menyuarakan apa yang diinginkan. Dalam bagian chorus, Dua Lipa menjabarkan sosok pasangan ideal seseorang yang mampu memberi rasa aman di saat rapuh, berkomunikasi secara jujur, dan terhubung mendalam tanpa perlu dijelaskan berulang kali.

Ketika lirik ini dibagikan berulang-ulang di media sosial lintas negara, ia berubah menjadi daftar tuntutan bersama, semacam pedoman terbuka tentang seperti apa hubungan yang sehat itu seharusnya. Inilah yang disebut gerakan manifestasi memaparkan keinginan dengan tegas agar tidak lagi menerima kurang dari yang pantas didapat. Fakta bahwa Dua Lipa sendiri berhasil mendapatkan pasangan sesuai gambaran tersebut menjadikan lagu ini makin dipercaya sebagai doa yang terkabul dan makin ramai diikuti orang di berbagai belahan dunia.
 
3. Mendorong keberanian menetapkan batas sebagai bentuk mencintai diri sendiri
Fenomena ini bukan sekadar soal selera musik, melainkan pergeseran pola pikir yang lebih luas dan bersifat global. Lagu ini menyampaikan bahwa bersikap selektif dalam memilih pasangan bukanlah kelebihan menuntut, melainkan wujud menghargai diri sendiri.

Secara psikologis, penggunaan lagu ini berulang-ulang di ruang publik berfungsi sebagai pengingat bawah sadar untuk tidak menurunkan standar hanya demi memiliki pasangan, di mana tren tersebut disebut menyebar ke seluruh dunia dengan harapan orang-orang pun dapat meraih kebahagiaan asmara seperti yang dialami Dua Lipa.
 
Secara keseluruhan, Training Season menunjukkan bahwa di era media sosial, sebuah karya musik dapat berkembang maknanya jauh melampaui niat penciptanya semula.

Apa yang dimulai dari pengalaman pribadi seorang penyanyi kini berubah menjadi gerakan kolektif lintas negara menetapkan standar, berani menolak yang tidak pantas, dan percaya bahwa pasangan yang tepat akan hadir tanpa perlu dilatih terlebih dahulu. Sebuah pesan sederhana namun tampaknya sangat dibutuhkan masa kini bahwa mencintai diri sendiri adalah syarat utama untuk bisa dicintai dengan benar.

Penulis: Tim Magang Universitas Yudharta - RIZKY NUR ILMAL MUFIDAH

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Dua Lipa Training Season kriteria pasangan tiktok gaya hidup