Sebagaimana diberitakan Al-Jazeera pada Senin (7/9), malapetaka yang dipicu oleh longsoran batu, endapan lumpur, serta curahan air akibat jebolnya gletser di sekitar puncak Langtang Lirung ini turut menyebabkan lebih dari 5.600 warga belum ditemukan di kedua belah wilayah perbatasan, di mana minimal 550 di antaranya merupakan warga asing.
Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Nepal mengonfirmasi sebanyak 1.252 mayat telah dievakuasi di wilayahnya, sementara pemerintah Tiongkok mengidentifikasi 21 korban meninggal dunia beserta 541 orang hilang di Tibet.
Petugas evakuasi di Nepal tak henti bekerja keras demi mengakses ratusan buruh yang diduga terperangkap pada kompleks pembangkit listrik tenaga air di wilayah Distrik Rasuwa, termasuk sejumlah pekerja yang terjebak di area terowongan.
Aparat mengerahkan alat berat buldoser guna menyingkirkan material lumpur tebal serta mengandalkan helikopter dan lintasan tali untuk menyasar penduduk yang terjebak di pemukiman terisolasi.
Di tengah medan yang sangat menantang, regu penyelamat tetap memelihara asa untuk menemukan penyintas lantaran beberapa titik di bangunan pembangkit listrik disinyalir tidak terendam air sepenuhnya.
Di samping pemaksimalan operasi pencarian, otoritas Nepal kini mulai merancang skema pemulihan serta rekonstruksi fisik di kawasan-kawasan terdampak.
Lembaga UNDP menaksir bahwa hantaman banjir serta gelombang lumpur menyisakan tidak kurang dari 2,2 juta ton material sampah, sedangkan sekitar 20.000 tempat tinggal memerlukan perbaikan total, termasuk 7.500 unit yang rata dengan tanah.
Pemerintah Nepal pun tengah mengkaji opsi pemindahan pemukiman warga ke lokasi yang lebih aman, sekaligus berencana menuntut ganti rugi iklim kepada pihak internasional dengan menggarisbawahi dampak nyata perubahan iklim pada negara-negara rentan.