Radar Bromo – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda meningkat signifikan sejak Jumat malam (4/9) hingga Sabtu (5/9). Gunung api tersebut mengalami erupsi yang disertai muntahan lava pijar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyikapi aktivitas vulkanik tersebut. Kendati demikian, warga diminta tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu mengenai potensi tsunami.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kewaspadaan harus tetap diiringi ketenangan. Terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
”Namun tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi,” kata Berton kepada awak media pada Sabtu (5/9).
BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan Gunung Anak Krakatau.
Berton menyebut ada tiga hal utama yang perlu menjadi perhatian dalam kondisi tersebut. Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Pemerintah daerah bersama unsur terkait diminta memastikan tidak ada warga maupun wisatawan yang berada di kawasan radius bahaya.
”Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang,” ujarnya.
Kedua, kesiapsiagaan harus diperkuat. Pemerintah daerah, BPBD, dan unsur terkait diminta memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat dalam kondisi siap apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api yang memerlukan evakuasi.
Selanjutnya, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti seluruh arahan petugas di lapangan. Warga maupun wisatawan dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk melihat secara langsung atau merekam aktivitas erupsi.
”BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunungapi,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB memiliki potensi bahaya berupa aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.
Karena itu, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan.
”Pertama, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata dia.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi bahaya erupsi, seperti awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.
Khusus masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, Badan Geologi meminta agar tetap tenang dan tidak panik.
”Dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” ujarnya.
Badan Geologi juga meminta masyarakat secara berkala memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui PVMBG maupun Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan informasi resmi dinilai penting agar masyarakat dapat mengetahui setiap perubahan aktivitas gunung api dan mengikuti langkah mitigasi yang ditetapkan petugas.
Editor : Moch Vikry Romadhoni