Hadapi Liquid Modernity dan AI, Gen Z Mulai Cari Bentuk Kemapanan Baru yang Lebih Fleksibel

radar bromo • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:36 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Radar Bromo - Generasi Z kerap menjadi sasaran berbagai label, mulai dari dianggap tidak tahan tekanan, terlalu bergantung pada teknologi, konsumtif, hingga disebut sebagai generasi yang enggan bekerja keras. Namun, pandangan tersebut terlalu sederhana jika digunakan untuk menjelaskan kehidupan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perubahan ekonomi serta sosial yang begitu cepat.

Sejumlah data justru memperlihatkan bahwa Gen Z tetap menempatkan pekerjaan sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z Indonesia berusia 17–28 tahun pada akhir 2025 menunjukkan bahwa 71 persen menjadikan gaji atau kompensasi sebagai pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan. Di sisi lain, 57 persen juga mempertimbangkan lingkungan kerja yang suportif, 55 persen melihat peluang pengembangan karier sebagai hal penting, dan 50 persen mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Bagi Gen Z, bekerja bukan lagi sekadar cara memperoleh penghasilan atau membangun status sosial. Pekerjaan diharapkan tetap memberikan ruang bagi kehidupan pribadi, kesehatan sosial, serta kesempatan untuk berkembang.

Persoalan yang lebih besar sebenarnya terletak pada kondisi dunia kerja yang mereka masuki. Jika generasi sebelumnya dapat membayangkan kehidupan dengan pola sekolah, bekerja tetap, membeli rumah, meniti karier, kemudian memasuki masa pensiun, jalur tersebut kini semakin sulit diwujudkan. Harga rumah meningkat, pekerjaan tetap semakin terbatas, sementara pekerjaan kontrak, freelance, proyek, dan pekerjaan berbasis platform digital semakin banyak.

Kondisi tersebut membuat ukuran keberhasilan yang dulu dianggap normal menjadi semakin sulit dicapai oleh generasi muda. Memiliki rumah sendiri, memperoleh pekerjaan tetap, dan bertahan dalam satu perusahaan hingga puluhan tahun bukan lagi sesuatu yang mudah diproyeksikan.

Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan perubahan tersebut melalui konsep *liquid modernity*, yaitu kondisi masyarakat modern yang semakin cair dan tidak stabil. Pekerjaan, institusi, hubungan sosial, hingga identitas seseorang dapat berubah dengan cepat. Dalam keadaan seperti ini, membuat rencana kehidupan untuk puluhan tahun ke depan menjadi jauh lebih sulit.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan konsep *precariat* yang diperkenalkan Guy Standing. Istilah ini merujuk pada kelompok pekerja yang menghadapi ketidakpastian dalam pekerjaan, pendapatan, dan masa depan profesional. Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan freelance, menjadi kreator konten, bekerja melalui platform digital, atau berpindah pekerjaan memang menawarkan fleksibilitas. Namun, fleksibilitas tersebut juga dapat berarti tidak adanya kepastian pendapatan, jenjang karier, jaminan pensiun, maupun perlindungan kerja.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI semakin memperkuat kegelisahan tersebut. Survei Deloitte menunjukkan bahwa 61 persen Gen Z dan milenial khawatir AI generatif akan membuat generasi muda semakin sulit memasuki pasar kerja. Pada saat yang sama, penggunaan AI dalam pekerjaan justru meningkat. Survei Deloitte 2026 mencatat 74 persen Gen Z dan milenial telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, meningkat dari 57 persen Gen Z pada 2025.

Artinya, Gen Z berada dalam situasi yang cukup paradoksal. Mereka dituntut menjadi generasi yang paling adaptif terhadap teknologi, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat mengurangi kesempatan kerja mereka.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sebagian Gen Z mulai mencari bentuk keamanan yang berbeda. Ketika pekerjaan tetap dan kepemilikan rumah sulit dicapai, mereka dapat lebih menaruh perhatian pada lingkungan kerja yang sehat, hubungan sosial, komunitas, fleksibilitas waktu, dan kesehatan psikologis.

Karena itu, anggapan bahwa Gen Z semakin individualistis juga perlu dilihat kembali. Ketika institusi formal tidak lagi sepenuhnya mampu memberikan rasa aman, mereka justru membangun dukungan melalui lingkaran yang lebih kecil, seperti komunitas, pertemanan, kelompok hobi, jaringan profesional, hingga ruang digital.

Pada akhirnya, persoalan Gen Z bukan semata-mata tentang kemauan bekerja atau ketidakmampuan menghadapi tekanan. Mereka tumbuh dalam kondisi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Jalan menuju kehidupan mapan yang dahulu terlihat jelas kini menjadi semakin berliku dan tidak pasti.

Karena itu, mungkin persoalannya bukan apakah Gen Z mampu mencapai kemapanan, tetapi apakah definisi kemapanan yang digunakan selama ini masih relevan. Rumah, pekerjaan tetap, jabatan tinggi, dan karier panjang memang tetap menjadi impian sebagian orang. Namun, bagi generasi yang hidup dalam ketidakpastian, kehidupan yang dianggap berhasil bisa berarti memiliki pekerjaan yang layak, waktu untuk diri sendiri, hubungan sosial yang sehat, serta kebebasan untuk menentukan arah hidup.

Gen Z bukan sekadar generasi yang kehilangan keinginan untuk menjadi mapan. Mereka adalah generasi yang sedang mencari bentuk kemapanan baru di tengah dunia yang semakin sulit memberikan kepastian.

Penulis: Tim Magang Universitas Yudharta - ISTIQNA SALSABILA

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Kecerdasan Buatan AI Generasi Z Kemapanan Gen Z Liquid Modernity Dunia Kerja Modern