Pakar IPB Sebut Pemadam Karhutla Pakai Tepung Bukan Hal Baru, Ungkap Kelebihan dan Kendalanya

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:08 WIB
Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah, Minggu (23/8). (BNPB)
Operasi water bombing untuk pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah, Minggu (23/8). (BNPB)
Radar Bromo - Pakar Forensik Kebakaran IPB Bambang Hero Saharjo mengemukakan pandangannya bahwa inovasi pemadaman titik api memakai bahan dasar tepung organik bukanlah sebuah gagasan yang sepenuhnya baru. Kendati demikian, sepanjang pengetahuannya, material tepung yang lazim ia ketahui bersumber dari jagung, bukan ubi.
Pernyataan tersebut diungkapkan Bambang merespons instruksi yang dikeluarkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto agar dilakukan uji coba produksi massal terhadap teknologi tepung pemadam api yang memanfaatkan bahan baku ubi atau singkong. Terobosan itu sebelumnya sempat dipaparkan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ketika mengikuti agenda rapat penanganan karhutla di Palembang pada Senin (24/8).
"Kalau yang dari singkong saya tidak tahu, namun yang dari tepung jagung pernah saya gunakan dan ujicobakan serta jadi bahan penelitian mahasiswa S1 bimbingan saya," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (26/8).
Bambang menerangkan lebih lanjut bahwa komposisi tepung jagung yang ia aplikasikan dalam inovasinya tidak bekerja secara mandiri, melainkan harus dikombinasikan dengan beberapa unsur material lain sebelum akhirnya direndam air hingga berwujud gel.
“Produk ini kemudian direndam dalam air dan harus hati-hati karena kalau terlalu kental, maka aliran air dalam selang pemadam terhambat. Produk ini disebut dengan gel,” kata Bambang.
Menurut penjelasannya, substansi gel tersebut mempunyai fungsi ganda tatkala diterjunkan dalam operasi pemadaman api. Selain berkhasiat memadamkan api, gel mampu melapisi bagian pori-pori tanah gambut supaya bara api tersembunyi di bawah permukaan tidak gampang tersulut kembali ke atas.
“Tujuannya adalah untuk memadamkan api sekaligus menutup pori-pori gambut dengan gel tadi itu agar api atau bara yang masih berada di bawah tidak naik kembali,” paparnya.
Dalam tataran operasional di lapangan, larutan campuran ini dapat disemprotkan memakai bantuan mesin pompa beserta selang. Lantaran unsur material semprotan berupa perpaduan air dan tepung, massa bobotnya menjadi lebih berat sehingga arah semprotan diklaim lebih jitu mencapai titik sasaran tanpa gampang terhempas embusan angin.
Baca Juga: Kebakaran Gunung Arjuno, Api Merambat ke Alas Lali Jiwo, Luas Lahan Terbakar 300 Hektare Lebih
“Biasanya menggunakan pompa dan selang. Karena yang digunakan adalah air dan tepung tersebut sehingga menjadi berat, yang menyebabkan semprotan api tersebut tidak terganggu oleh angin dan sesuai sasaran yang dituju,” jelas Bambang.
Bambang kembali menekankan bahwa dirinya belum mendalami pemanfaatan tepung dari bahan singkong untuk penanganan karhutla, namun efektivitas tepung jagung terbukti valid lewat riset empiris mahasiswa bimbingan sarjananya.
Ia menambahkan bahwa penggunaan bahan campuran itu mendatangkan nilai tambah lantaran tidak cuma mempercepat proses pemadaman, melainkan berpotensi besar meredam kemunculan kembali bara tersembunyi seusai api permukaan padam.
“Plusnya akan membantu pemadaman dan mencegah bara api untuk kembali beraksi,” kata Bambang.
Walau demikian, implementasi teknologi tersebut menyimpan sejumlah kendala tersendiri, salah satunya menyangkut aspek pembiayaan pengadaan yang tergolong cukup tinggi. Di samping itu, takaran dosis pencampuran harus dikalkulasikan secara presisi karena tingkat konsentrasi berlebih justru berisiko merintangi jalannya proses pemadaman.
“Minusnya, biaya untuk pengadaannya lumayan agak mahal. Bila volume atau dosis penggunaannya tidak tepat maka kegiatan pemadaman terhambat,” jelasnya.
Menanggapi potensi penerapan teknologi serupa untuk menanggulangi karhutla di kawasan Sumatera, Bambang menilai gagasan tersebut sangat mungkin direalisasikan, asalkan didukung ketersediaan anggaran memadai serta jaminan pasokan material yang cukup.
“Bisa saja, selama tersedia dana yang cukup. Karena stoknya harus diimpor dari luar negeri,” tegas Bambang.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan agar teknologi pemadam api berbahan dasar tepung ubi atau singkong diuji coba secara luas dalam skala besar. Bahkan, Prabowo mengekspresikan ketertarikannya agar inovasi itu dapat diintegrasikan langsung dalam misi operasi water bombing via helikopter.
Kepala Negara turut meminta agar jajaran terkait menggelar riset pengujian guna mengukur tingkat efektivitas pemanfaatan tepung tersebut tatkala diaplikasikan langsung dalam skema operasi pemadaman udara menggunakan helikopter.
Metode inovatif ini mulanya diperkenalkan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam forum rapat serupa. Berdasarkan paparan Listyo, terdapat elemen zat berbahan baku utama tepung yang diandalkan guna membantu pencegahan serta pemadaman titik api.
Listyo menyatakan bahwa teknologi tersebut mempunyai peluang besar untuk diproduksi secara massal, sekalipun masih memerlukan tahapan riset mendalam demi memastikan efektivitas kerjanya. Selain berfungsi meringankan pemadaman, substansi bahan itu diyakini efektif meredam serta menangani potensi kemunculan api sejak fase awal.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Pastikan Rekening Koordinator AMPB Botok Sudah Normal dan Bisa Digunakan Kembali
Editor : Moch Vikry Romadhoni
Presiden Prabowo Subianto Bambang Hero Saharjo Karhutla Tepung Singkong Pakar Forensik IPB Pemadam Karhutla