Iran Tak Gentar Sanksi Terbesar AS Sepanjang Sejarah, Teheran Klaim Sudah Siapkan Rencana Dua Tahun

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:11 WIB
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh. (IRNA via Tehran Times).
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh. (IRNA via Tehran Times).

Radar Bromo - Iran menegaskan tidak gentar menghadapi perluasan sanksi ekonomi Amerika Serikat yang menargetkan hubungan finansial dan perdagangan negara itu dengan dunia.

Teheran mengklaim telah menyiapkan strategi selama dua tahun untuk menghadapi tekanan Washington dan yakin langkah terbaru AS tidak akan mampu melumpuhkan Iran.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh menyatakan pemerintahnya sepenuhnya siap menghadapi sanksi baru tersebut, bahkan menilai kebijakan itu berpotensi menjadi bumerang bagi Washington sendiri.

"Pemerintah sudah siap dan siap serta memiliki rencana dua tahun untuk mengelola acara-acara ini," kata Madanizadeh kepada televisi pemerintah Iran.

Iran juga menyebut memiliki instrumen dan mekanisme sendiri untuk menjaga perekonomian tetap berjalan di tengah tekanan eksternal, termasuk mengandalkan dukungan dari mitra dagang seperti Tiongkok dan Rusia yang menolak mengikuti langkah AS.

"Kami juga memiliki alat-alat kami sendiri dan tahu cara memainkan permainan ini," lanjutnya.

Di sisi lain, Washington justru memperluas tekanan terhadap jaringan ekonomi Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut langkah terbaru itu sebagai serangan keuangan tunggal terbesar yang pernah ada terhadap Iran, yang ditujukan untuk memutus jalur finansial dan mempersempit sumber pendapatan Teheran.

Dalam operasi yang diberi nama Operation Economic Outcast, Departemen Keuangan AS menargetkan jaringan, perantara, dan saluran keuangan yang dituding digunakan Iran untuk menghindari sanksi dan menjual minyak.

Baca Juga: Trump Bikin Geger Dunia, Selat Hormuz Diancam Jadi Wilayah AS di Tengah Konflik dengan Iran

Washington menetapkan lima sektor sebagai sasaran utama yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran, serta mengenai sanksi kepada hampir 60 entitas, individu, dan kapal. AS juga memperingatkan negara, bank, dan perusahaan yang masih bertransaksi dengan Iran bahwa mereka pun bisa menghadapi isolasi.

Bessent menyatakan Iran kini menghadapi dua pilihan yaitu menerima isolasi global total atau kembali ke jalur normal dan mendapat kesempatan bergabung kembali dengan perekonomian dunia.

Namun kemampuan AS untuk benar-benar mengisolasi Iran masih menghadapi tantangan besar. Tiongkok, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, kembali menyatakan penolakannya terhadap kebijakan Washington dan menegaskan akan tetap melindungi kepentingannya sendiri.

Sikap serupa ditunjukkan Rusia, yang memberi Iran modal untuk mempertahankan keyakinan bahwa sanksi AS tidak otomatis akan membuat seluruh negara memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.

Baca Juga: Tujuh Hari Sidang Praperadilan Febrie Jampidsus Rampung, PN Jaksel Siap Bacakan Putusan Kamis Ini

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Sanksi Iran Operation Economic Outcast Tiongkok Rusia Iran Geopolitik Ekonomi amerika serikat