Perang Iran-AS Makin Panas, Tehran Desak Trump Akui Kekalahan Strategis

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. ( AP Photo/Kamran Jebreili).
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. ( AP Photo/Kamran Jebreili).

Radar Pasuruan - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Pemerintah Iran mendesak Washington mengakui kekalahan strategis dalam konflik di Timur Tengah sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri kebuntuan.

Tehran juga menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Iran. Jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan dibuka hanya karena adanya tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi secara terbuka meminta Trump menerima kenyataan bahwa Amerika Serikat telah mengalami kekalahan strategis dan berat.

"Selat itu akan ditutup dan dibuka hanya di bawah komando Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan berhenti terlibat dalam fantasi, Iran akan terus menegakkan blokade," tulis Gharibabadi di X.

Ia kembali menegaskan posisi Tehran mengenai Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di kawasan tersebut.

"Sekali dan untuk selamanya, terimalah kenyataan: Sampai saat ini, Anda telah mengalami kekalahan strategis dan berat; Selat Hormuz adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran," lanjutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengklaim Amerika Serikat akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dengan Iran berakhir.

Bagi Tehran, tekanan militer dan politik yang diberikan Washington belum berhasil mengubah sikap Iran mengenai penguasaan jalur strategis tersebut.

Penegasan Iran juga datang dari Kepala Kehakiman Iran Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i. Media pemerintah Iran mengutip pernyataannya yang menyebut Trump sebagai 'pecundang sepenuhnya yang sudah matang di arena politik dan pertempuran militer yang sulit'.

Ia menegaskan Selat Hormuz merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Iran.

"Apa yang tidak dapat dicapai oleh kapal induk bernilai miliaran dolar tidak akan tercapai dengan beberapa tweet dan pidato," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan Tehran tidak menganggap pengerahan kapal induk maupun pernyataan Trump cukup untuk memaksa Iran membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Sebelumnya, Trump justru menyampaikan sikap berlawanan dengan tuntutan Iran. Dalam sebuah kampanye politik di New York pada Sabtu, Trump mengatakan Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Hormuz setelah mengalahkan Iran.

Trump juga menyebut masyarakat Amerika harus bersedia membayar harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung.

Menurut Trump, kenaikan harga bahan bakar tersebut layak ditanggung untuk memastikan 'a very evil country' tidak memiliki senjata nuklir.

Perbedaan sikap tersebut memperlihatkan belum adanya titik temu antara Washington dan Tehran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran tidak akan melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat sebelum Washington memenuhi sejumlah persyaratan.

Salah satu tuntutan Iran adalah pembayaran reparasi perang sebagai syarat untuk mengakhiri permusuhan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Pemerintah Iran memperkirakan kerugian akibat konflik mencapai USD 270 miliar.

Selain reparasi, Tehran menuntut Amerika Serikat mengakhiri blokade laut, mencabut sanksi ekonomi, menarik pasukannya dari kawasan, serta membebaskan aset Iran yang dibekukan.

Dengan tuntutan yang belum menemukan titik temu tersebut, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih berlanjut.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
donald trump selat hormuz amerika serikat iran konflik timur tengah