Radar Pasuruan - Ada kalanya hidup terasa berjalan jauh dari apa yang diharapkan. Ketika melihat orang lain tampak lebih bahagia, sukses, dicintai, atau beruntung, seseorang bisa merasa dirinya justru terus menghadapi berbagai persoalan.
Dalam kondisi tersebut, mengasihani diri sendiri menjadi respons yang cukup manusiawi. Muncul berbagai pertanyaan seperti, “Kenapa hidup saya selalu seperti ini?” atau merasa orang lain mendapatkan kehidupan yang lebih mudah.
Sesekali mengalami perasaan semacam itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, persoalan dapat muncul ketika rasa kasihan terhadap diri sendiri berubah menjadi pola yang terus berulang.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan self-pity atau kebiasaan mengasihani diri sendiri. Pola ini tidak selalu muncul karena seseorang lemah atau malas. Ada sejumlah mekanisme psikologis yang dapat membuat seseorang sulit keluar dari siklus tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (16/8), berikut enam alasan mengapa seseorang terkadang tidak bisa berhenti mengasihani diri sendiri.
1. Memberikan kenyamanan emosional
Mengasihani diri sendiri ternyata bisa memberikan rasa nyaman dalam jangka pendek.
Ketika seseorang mengakui bahwa dirinya sedang menghadapi keadaan sulit, ia sedang memberikan validasi terhadap penderitaannya sendiri. Dengan begitu, untuk sementara waktu ia tidak harus langsung mencari solusi atau menghadapi keputusan yang terasa berat.
Misalnya ketika gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Seseorang sebenarnya bisa mengevaluasi kemampuan, memperbaiki CV, mencari kesempatan lain, atau meningkatkan keterampilan.
Namun, pilihan lain yang terasa lebih ringan adalah terus memikirkan ketidakadilan yang dialaminya.
“Saya sudah berusaha, tetapi tetap gagal.”
“Memang nasib saya selalu buruk.”
“Orang lain mendapatkan kesempatan dengan mudah.”
Pikiran tersebut mungkin tidak menyelesaikan persoalan, tetapi dapat memberikan rasa lega karena seseorang belum perlu menghadapi pertanyaan tentang apa yang masih bisa dilakukan.
Kondisi ini dapat menjadi bentuk emotional avoidance. Seseorang lebih memilih berfokus pada penderitaan karena menghadapi langkah selanjutnya terasa lebih menakutkan.
Masalahnya, kenyamanan yang diperoleh dalam jangka pendek justru dapat membuat seseorang semakin sulit bergerak dalam jangka panjang.
2. Otak terbiasa mengulang pikiran yang familiar
Manusia memiliki kecenderungan untuk kembali memikirkan pengalaman negatif, terutama ketika pengalaman tersebut dianggap penting atau belum terselesaikan.
Pola tersebut dikenal sebagai rumination, yakni kebiasaan memikirkan masalah, kegagalan, kesalahan, atau pengalaman menyakitkan secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian nyata.
Seseorang yang mengalami penolakan, misalnya, dapat terus mengingat percakapan yang terjadi. Setelah itu, ia mulai mempertanyakan alasan penolakan, membayangkan percakapan yang seharusnya terjadi, hingga menghubungkannya dengan pengalaman buruk sebelumnya.
Pada akhirnya, berbagai pengalaman tersebut terasa seperti bukti bahwa hidup memang selalu memperlakukannya dengan buruk.
Masalahnya, rumination sering terasa seperti proses mencari jawaban, padahal seseorang sebenarnya hanya berputar pada persoalan yang sama.
Semakin sering pola pikiran tersebut digunakan, semakin mudah pola yang sama muncul kembali. Seseorang yang terbiasa berpikir “Saya selalu gagal”, misalnya, akan lebih cepat mengingat berbagai kegagalannya dibandingkan pengalaman yang menunjukkan keberhasilannya.
3. Penderitaan mulai menjadi identitas diri
Self-pity juga bisa semakin sulit dihentikan ketika seseorang mulai menjadikan pengalaman buruk sebagai bagian dari identitas dirinya.
Pada awalnya, seseorang mungkin mengatakan, “Saya sedang mengalami masa sulit.” Kalimat tersebut menunjukkan bahwa masalah merupakan keadaan yang sedang dialami.
Namun, seiring waktu, cara berpikir tersebut dapat berubah menjadi, “Saya memang orang yang selalu mengalami hal buruk.”
Perubahan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki perbedaan penting. Kalimat pertama memisahkan antara diri dan masalah, sedangkan kalimat kedua mulai menyatukan keduanya.
Ketika seseorang menganggap dirinya selalu menjadi korban keadaan, pengalaman yang sesuai dengan pandangan tersebut akan lebih mudah diperhatikan.
Kegagalan terasa sebagai konfirmasi. Perlakuan buruk dari orang lain dianggap sebagai bukti tambahan. Sementara pengalaman positif justru bisa dianggap hanya kebetulan.
Narasi seperti “Saya tidak pernah beruntung”, “Tidak ada yang benar-benar peduli kepada saya”, atau “Saya selalu menjadi pihak yang dirugikan” akhirnya dapat menjadi cara seseorang melihat dirinya.
Padahal, pengalaman buruk yang pernah terjadi tidak otomatis berarti seluruh kehidupan seseorang akan selalu berjalan buruk.
4. Membandingkan diri dengan orang lain
Media sosial turut membuat kecenderungan ini semakin kompleks.
Setiap hari seseorang dapat melihat orang lain mendapatkan pekerjaan bagus, menikah, bepergian, membeli rumah, memiliki hubungan yang terlihat harmonis, atau mencapai sesuatu yang selama ini diinginkannya.
Di sisi lain, seseorang melihat kehidupannya sendiri secara jauh lebih lengkap. Ia mengetahui kegagalan, persoalan keluarga, kekhawatiran masa depan, keputusan yang disesali, hingga berbagai pengalaman buruk yang pernah dialami.
Akibatnya, kita kerap membandingkan kehidupan sendiri secara keseluruhan dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Perbandingan seperti ini tentu tidak seimbang.
Manusia memang memiliki kecenderungan melakukan social comparison. Dalam kondisi tertentu, membandingkan diri dengan orang lain dapat membantu seseorang belajar dan menentukan tujuan.
Namun, ketika perbandingan hanya digunakan untuk menunjukkan bahwa diri sendiri lebih buruk, dampaknya dapat berbeda.
Pertanyaan seperti “Mengapa dia bisa, sedangkan saya tidak?” atau “Kenapa semua orang berkembang kecuali saya?” dapat membuat rasa kekurangan semakin kuat.
Pada akhirnya, self-pity mendapatkan bahan bakar baru.
Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita. Seseorang yang terlihat bahagia pun dapat memiliki masalah, rasa kesepian, konflik, atau ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain.
5. Membuat seseorang merasa tidak perlu bertanggung jawab
Bagian ini mungkin menjadi salah satu hal yang paling sulit diterima.
Self-pity tidak selalu berarti seseorang sengaja mencari alasan. Namun, dalam situasi tertentu, merasa sebagai korban dapat mengurangi dorongan untuk mengambil tanggung jawab terhadap sesuatu yang sebenarnya masih berada dalam kendali.
Ketika gagal dalam sebuah proyek, misalnya, seseorang dapat memilih melihat hambatan yang dialami sambil mencari pelajaran dari kegagalan tersebut.
Sebaliknya, ia juga dapat berpikir bahwa kegagalan sepenuhnya terjadi karena keadaan yang selalu melawannya.
Cara berpikir kedua memang bisa memberikan kelegaan. Jika semuanya dianggap sebagai kesalahan keadaan, seseorang tidak perlu mengevaluasi keputusannya sendiri.
Jika semua kesalahan berada pada orang lain, ia tidak perlu melihat kembali perilakunya. Jika semuanya dianggap sebagai nasib buruk, ia tidak perlu mencari strategi baru.
Pola semacam ini berpotensi berkaitan dengan learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang mulai percaya bahwa tindakannya tidak akan banyak mengubah hasil sehingga motivasi untuk mencoba kembali menurun.
Meski demikian, mengakui adanya ketidakadilan berbeda dengan menganggap tidak ada satu pun hal yang dapat dikendalikan.
Ada berbagai hal yang memang berada di luar kendali manusia, seperti keputusan orang lain atau peristiwa masa lalu. Namun, biasanya masih terdapat bagian tertentu yang dapat dipengaruhi, mulai dari cara merespons, pelajaran yang diambil, batasan yang dibuat, hingga langkah berikutnya.
6. Mengira self-pity sebagai self-compassion
Self-pity terkadang sulit dikenali karena memiliki kemiripan dengan self-compassion atau sikap menyayangi diri sendiri.
Keduanya sama-sama mengakui bahwa seseorang sedang mengalami penderitaan. Namun, arah keduanya berbeda.
Self-pity cenderung berpusat pada pertanyaan:
“Kenapa saya yang mengalami semua ini?”
Sementara self-compassion lebih mengarah pada:
“Saya sedang mengalami sesuatu yang sulit. Bagaimana saya bisa memperlakukan diri sendiri dengan baik sambil menghadapi keadaan ini?”
Perbedaannya terletak pada posisi mental seseorang.
Self-pity dapat membuat seseorang tenggelam dalam penderitaan dan merasa terisolasi. Sebaliknya, self-compassion mengakui penderitaan tanpa menjadikannya sebagai keseluruhan identitas diri.
Setelah melakukan kesalahan, misalnya, self-pity mungkin membuat seseorang berkata:
“Saya memang bodoh. Saya selalu menghancurkan semuanya.”
Sementara self-compassion mendorong seseorang melihat kesalahan secara lebih sehat:
“Saya melakukan kesalahan. Itu menyakitkan dan mengecewakan, tetapi saya tetap manusia. Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?”
Sikap penuh kasih terhadap diri sendiri bukan berarti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja atau membenarkan kesalahan. Justru, pendekatan tersebut dapat membantu seseorang melihat kesalahan secara lebih jernih tanpa menghancurkan harga dirinya.
Berhenti mengasihani diri sendiri bukan berarti seseorang harus selalu berpikir positif.
Seseorang tidak perlu memaksa diri mengatakan “Saya harus bersyukur” setiap kali menghadapi masalah. Ia juga tidak harus menyangkal bahwa kehidupan terkadang memang terasa tidak adil.
Langkah pertama justru dengan mengakui apa yang sedang dirasakan.
“Saya sedang kecewa.”
“Saya merasa diperlakukan tidak adil.”
“Saya sedang sedih karena sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.”
Setelah mengakui perasaan tersebut, pertanyaan dapat diarahkan pada hal yang lebih konstruktif:
“Apa yang sebenarnya berada dalam kendali saya?”
Pertanyaan itu menggeser fokus dari “Mengapa hidup melakukan ini kepada saya?” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan dari posisi saya sekarang?”
Hal lain yang perlu dipahami adalah perbedaan antara merasakan emosi dan terjebak di dalamnya.
Sedih bukan masalah. Kecewa bukan masalah. Merasa tidak beruntung sesekali juga bukan sesuatu yang perlu disalahkan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika pikiran tersebut terus berulang, mempersempit cara pandang, dan membuat seseorang kehilangan keinginan untuk melakukan sesuatu.
Pada kondisi itu, seseorang mungkin bukan sekadar sedang mengalami kesedihan, tetapi sudah terjebak dalam sebuah pola.
Mengasihani diri sendiri bukan berarti seseorang lemah. Perasaan tersebut dapat menjadi respons manusiawi ketika seseorang terluka, kecewa, merasa tidak berdaya, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan.
Namun, memahami alasan di balik self-pity dapat membantu seseorang menyadari bahwa mengasihani diri sendiri bukan satu-satunya cara untuk menghadapi penderitaan.
Seseorang boleh mengakui bahwa hidup pernah tidak adil. Boleh mengakui pernah diperlakukan buruk, menangisi sesuatu yang hilang, maupun kecewa terhadap diri sendiri.
Tetapi setelah itu, ada satu pertanyaan penting yang dapat diajukan:
“Sekarang, apa yang masih bisa saya lakukan?”
Pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung mengubah keadaan. Namun, pertanyaan itu dapat mengembalikan rasa bahwa seseorang masih memiliki kendali atas hidupnya.
Pada akhirnya, kesehatan psikologis bukan berarti membuat seseorang berhenti merasakan sakit. Yang lebih penting adalah mampu menghadapi rasa sakit tanpa membiarkannya menentukan seluruh cerita tentang siapa dirinya.
Seseorang mungkin pernah menjadi korban keadaan. Namun, ia tidak harus selamanya hidup sebagai korban dari cerita yang sama.
Editor : Moch Vikry Romadhoni