Radar Pasuruan - Sejumlah tower navigasi di bandara wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami keretakan akibat gempa. Meski terdapat kerusakan pada sejumlah fasilitas, AirNav Indonesia memastikan layanan navigasi penerbangan di NTT dan sekitarnya tetap berjalan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur udara memiliki peran penting dalam mendukung proses evakuasi warga serta mobilisasi kebutuhan selama penanganan darurat pascagempa.
Direktur Utama AirNav Indonesia Avirianto Suratno mengatakan penanganan dampak gempa terhadap fasilitas navigasi dilakukan melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
"Berdasarkan laporan terakhir yang kami himpun, dampak gempa terhadap fasilitas AirNav Indonesia antara lain terdapat di Unit Bajawa, Unit Ruteng, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, serta Cabang Pembantu Labuan Bajo," ujar Avirianto dalam keterangan resminya, Minggu (16/8).
Kerusakan yang teridentifikasi berupa keretakan serta kerusakan fisik pada sejumlah bagian bangunan tower navigasi.
Meski demikian, fasilitas AirNav di Kupang, Waingapu, Tambolaka, hingga Denpasar berdasarkan pemantauan sementara dipastikan dalam kondisi aman.
AirNav menempatkan kelangsungan layanan penerbangan dengan standar keselamatan sebagai prioritas. Pemeriksaan menyeluruh dan prosedur darurat diterapkan di sejumlah lokasi terdampak sebagai langkah antisipasi.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang Flores, BNPB Tetapkan 8 Langkah Darurat untuk Percepat Penanganan
"Alhamdulillah, seluruh personel AirNav Indonesia di wilayah terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat. Secara internal, keamanan dan keselamatan pegawai juga menjadi salah satu prioritas manajemen," tambah Avirianto.
Pemeriksaan terhadap fasilitas AirNav masih dilakukan secara bertahap. Inspeksi mencakup kondisi fisik bangunan, sarana komunikasi, hingga keandalan peralatan navigasi penerbangan.
Pengecekan dilakukan secara ketat mengingat potensi gempa susulan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah.
Keandalan layanan navigasi udara menjadi bagian penting dalam penanganan kondisi darurat. Layanan tersebut dibutuhkan untuk mendukung mobilisasi tenaga medis, distribusi logistik bantuan, hingga pergerakan armada evakuasi.
AirNav juga telah menjalankan skema kontingensi untuk menghadapi kemungkinan gangguan akibat kondisi gempa.
"Ada contingency plan yang kami jalankan dalam situasi seperti ini. Sejalan dengan itu, perkembangan kondisi fasilitas dan pelayanan navigasi penerbangan akan terus dipantau dan disampaikan secara berkala kepada pemerintah, sesuai hasil verifikasi serta perkembangan situasi di lapangan," imbuh Avirianto.
Baca Juga: Gempa M 7,7 NTT: 9.290 Warga Mengungsi, 47 Orang Meninggal dan Ratusan Rumah Rusak
Editor : Moch Vikry Romadhoni