Radar Pasuruan - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan dukungan kepada Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah tekanan dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Trump bahkan memperingatkan FIFA agar tidak mengambil langkah mengganti Infantino dari jabatannya.
Dukungan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Senin (10/8). Ia menilai FIFA bakal melakukan kesalahan besar apabila mempertimbangkan pergantian kepemimpinan di tengah kontroversi rencana komersialisasi Piala Dunia.
Trump juga menilai kesuksesan dan keuntungan yang diraih FIFA tidak akan bisa dipertahankan dengan mudah apabila Infantino meninggalkan jabatannya.
“FIFA akan membuat kesalahan besar jika, karena alasan apa pun, mereka bahkan mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino. Dia luar biasa, baru saja memimpin Piala Dunia paling sukses, empat kali lipat, yang pernah diselenggarakan. Jika dia pergi, Piala Dunia tidak akan pernah sesukses atau menguntungkan lagi!” tulis Trump.
Pernyataan Trump muncul ketika Infantino tengah mendapat sorotan tajam dari sejumlah konfederasi sepak bola. UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sebelumnya menerbitkan surat terbuka yang mempertanyakan kepemimpinan FIFA.
Ketiga konfederasi tersebut menyampaikan pernyataan secara bersamaan melalui situs resmi masing-masing pada Senin (10/8). Mereka menegaskan bahwa sepak bola tidak seharusnya menjadi milik individu maupun institusi tertentu.
“Sepak bola adalah gairah bersama terbesar di dunia. Sepak bola bukan milik individu atau institusi mana pun. Sepak bola adalah milik para pemain, penggemar, klub, asosiasi anggota, dan setiap institusi yang dipercaya untuk menjaga masa depannya,” tulis surat tersebut.
Baca Juga: Bandung-Jakarta Siap Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Stadion Berkelas Internasional Disiapkan
Mereka menilai proposal komersial Infantino yang gagal menjadi persoalan serius karena dianggap melanggar kepercayaan yang diberikan institusi sepak bola dunia kepada FIFA.
“Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan. Ini bukan tentang memegang atau menuntut kekuasaan untuk dipegang. Ini adalah kewajiban untuk melayani keluarga sepak bola yang mempercayakannya. Ketika kepercayaan dikhianati melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang mempercayakan wewenang kepadanya, maka tugas itu telah diabaikan,” lanjut pernyataan itu.
Tekanan terhadap FIFA juga datang dari Federasi Sepak Bola Amerika Serikat atau US Soccer. Sebagai anggota Concacaf, US Soccer menyatakan dukungannya terhadap sikap konfederasi bersama Canada Soccer, Caribbean Football Union (CFU), dan Union Centroamericana de Futbol (UNCAF).
“US Soccer, Canada Soccer, CFU dan UNCAF berdiri bersama, bersama rekan-rekan kami di seluruh dunia, untuk menyerukan perubahan yang berarti yang memperkuat tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas FIFA,” tulis pernyataan itu dikutip dari X (dulu Twitter).
Kontroversi tersebut bermula dari proposal Infantino untuk membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan itu dirancang untuk menangani aspek komersial dan operasional berbagai turnamen FIFA.
Dalam rencana tersebut, FIFA mempertimbangkan menjual sekitar 20 persen kepemilikan FFE kepada investor swasta. Namun, Infantino kemudian meminta maaf terkait keputusan tersebut.
UEFA, Concacaf, dan AFC menilai proses pengajuan proposal berlangsung terlalu cepat serta tidak disertai konsultasi yang memadai. Mereka juga mempertanyakan upaya mendorong proposal tersebut menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota memiliki kesempatan cukup untuk mempelajari ketentuannya.
“Proposal yang diajukan dalam jadwal yang sangat singkat, tanpa konsultasi yang berarti, dan didorong menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota dapat meninjau ketentuannya dengan baik bukanlah hasil dari sebuah kelalaian. Itu merupakan hasil dari sebuah rancangan yang dimaksudkan untuk membatasi pengawasan,” tulis mereka.
Ketiga konfederasi tersebut juga menilai persoalan itu tidak dapat dianggap sebatas kesalahan prosedural. Mereka menyebut rencana tersebut sebagai kegagalan penilaian yang serius dan pelanggaran terhadap kepercayaan institusi sepak bola dunia.
“Proposal tersebut pada dasarnya tidak mengakui bahwa rencana itu sendiri merupakan sesuatu yang keliru. Tidak ada pengakuan bahwa upaya menjual kepentingan dalam Piala Dunia FIFA merupakan kegagalan penilaian yang sangat serius, bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan dengan institusi yang justru menjadi alasan FIFA ada,” lanjut surat itu.
Gianni Infantino telah menjabat sebagai Presiden FIFA sejak terpilih pada 26 Februari 2016. Ia kemudian mempertahankan posisinya dan saat ini menjalani periode kepemimpinan hingga 2027.
Infantino juga telah menyatakan keinginannya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan berikutnya. Jika kembali terpilih, masa kepemimpinannya berpeluang berlanjut hingga 2031.
Baca Juga: Megawati Soroti Menu MBG, Minta Prabowo Sesekali Sajikan Rendang
Editor : Moch Vikry Romadhoni