Negosiasi Nuklir Iran-AS Molor, Teheran Diduga Tunggu Pemilu Sela untuk Tekan Trump

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:36 WIB
Presiden AS Donald Trump. (AP Photo)
Presiden AS Donald Trump. (AP Photo)

Radar Pasuruan – Iran diduga memiliki strategi untuk memperpanjang proses negosiasi dengan Amerika Serikat hingga melewati pemilu sela AS pada November mendatang. Langkah tersebut dinilai dapat mempertahankan konflik sebagai beban politik bagi Presiden Donald Trump sekaligus meningkatkan posisi tawar Teheran.

Indikasi tersebut terlihat dari perubahan jadwal pembicaraan terkait program nuklir Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut tahap kedua negosiasi baru dapat dimulai dua hingga empat bulan setelah tercapainya kesepakatan mengenai jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Padahal, sebelumnya pembicaraan nuklir direncanakan dimulai dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dengan AS pada Juni lalu.

Gharibabadi mengatakan masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diselesaikan sebelum pembicaraan nuklir dilanjutkan. Di antaranya pencabutan sanksi, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta komitmen baru kedua pihak untuk tidak saling bermusuhan.

Jika jadwal tersebut terealisasi, pembahasan mengenai program nuklir Iran berpotensi berlangsung setelah pemilu sela AS.

Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan politik bagi Teheran. Iran dapat mempertahankan tekanan terhadap pemerintahan Trump ketika pemilih Amerika Serikat mulai menentukan arah politik Kongres.

Jason Brodsky dari United against a Nuclear Iran memperkirakan ketegangan antara Washington dan Teheran masih berpotensi berulang, terutama terkait Selat Hormuz.

"Ini menimbulkan skenario yang sangat mungkin terjadi tentang siklus konflik yang berkelanjutan antara AS dan Teheran mengenai selat tersebut," katanya dikutip dari Guardian.

Menurut Brodsky, Iran tidak memiliki alasan untuk memberikan Trump periode tenang menjelang pemilu sela.

"Tidak akan ada ketenangan sejati sebelum pemilihan paruh waktu - Teheran tidak tertarik untuk memberikan ini kepada administrasi Trump ... Mereka akan terus bermain-main," lanjutnya.

Media Iran juga menyoroti dampak politik konflik tersebut terhadap Trump. Mehr News, yang dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menilai Presiden AS berada dalam posisi sulit.

Melanjutkan perang dapat meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap pemerintahannya. Namun, jika Trump memilih meredakan ketegangan, langkah tersebut berpotensi dianggap sebagai kemunduran oleh sebagian pendukungnya.

"Melanjutkan perang dapat meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap pemerintah dan memperburuk penurunan popularitasnya. Di sisi lain, mundur, atau bergerak menuju pengurangan ketegangan, juga bisa ditafsirkan oleh beberapa pendukung Trump sebagai kemunduran dari slogan-slogan kampanyenya," catat Mehr News dalam laporannya.

Baca Juga: Intelijen Bongkar Dugaan Iran Siapkan Serangan ke Arab Saudi, Fasilitas Vital Jadi Target

Teheran juga disebut mencermati perkembangan politik dalam negeri Amerika Serikat. Beberapa faktor yang diperhatikan antara lain tingkat kepuasan publik terhadap Trump, dampak konflik terhadap harga minyak, hingga perubahan peta politik Partai Demokrat.

Pernyataan Marc Zell, ketua Republicans Overseas Israel, turut menjadi perhatian di Iran.

"Ini semua tentang pemilihan paruh waktu ... publik Amerika benar-benar bosan dengan perang dan pemerintahan sedang menavigasi perairan pra-pemilu dengan cerdik untuk menghindari pengambilalihan Kongres oleh Demokrat," ucap Zell.

Di dalam negeri Iran sendiri muncul perdebatan mengenai pilihan untuk mempertahankan tekanan hingga pemilu atau memanfaatkan momentum saat ini untuk segera mencapai kesepakatan.

Mantan diplomat Iran Mostafa Zahrani menilai kekalahan Trump dalam pemilu dapat membatasi kemampuannya untuk kembali berperang dan membuatnya lebih serius dalam bernegosiasi.

Namun, profesor hubungan internasional Universitas Teheran Nasser Hadian memiliki pandangan berbeda. Ia memperingatkan Iran agar tidak menunggu Trump melemah setelah pemilu.

"Jika dia kalah, dia akan memiliki lebih sedikit insentif untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, karena dalam hal itu dia akan melemah, dan Israel serta negara lain akan merasa jauh lebih mudah untuk menyerangnya - sesuatu yang mereka tidak berani lakukan sekarang," kata Hadian.

Ia juga menilai pihak yang mendorong Iran menunggu pemilu belum memahami sepenuhnya dinamika politik Amerika Serikat.

"Mereka yang mengatakan kita harus menunggu pemilihan paruh waktu tidak memiliki pemahaman tentang politik di Amerika," lanjutnya.

Selain persoalan pemilu, Selat Hormuz menjadi salah satu bagian penting dalam strategi Iran. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan energi dunia sekaligus memiliki nilai strategis dalam hubungan Teheran dan Washington.

Kelompok konservatif Iran menolak menjadikan Selat Hormuz sekadar alat tawar-menawar. Surat kabar Kayhan bahkan menilai MoU dengan AS tidak memiliki nilai karena Washington dianggap kerap mengingkari komitmennya.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berulang kali menyatakan tidak menginginkan perang berkepanjangan. Ia masih melihat MoU dengan AS sebagai salah satu fondasi kebijakan luar negeri Iran.

Mantan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif juga mendorong hubungan luar negeri yang lebih seimbang. Menurutnya, ketegangan yang tidak terkendali dengan AS justru dapat menyulitkan Iran menjalin kerja sama dengan negara lain, termasuk Rusia dan Tiongkok.

Dengan demikian, upaya Iran memperpanjang proses negosiasi hingga pemilu AS memiliki dua sisi. Teheran berpeluang meningkatkan tekanan politik terhadap Trump, tetapi juga harus menghadapi risiko ekonomi dan diplomatik jika ketegangan berlangsung terlalu lama.

Menjelang pemilu sela AS, konflik Iran dan Amerika Serikat pun tidak hanya berkaitan dengan persoalan militer dan program nuklir. Perkembangan konflik juga semakin terkait dengan pertarungan politik Trump di dalam negeri AS.

Baca Juga: BGN Siapkan CCTV Terintegrasi, Dapur MBG Bakal Dipantau Langsung dari Kantor Pusat

Editor : Moch Vikry Romadhoni
donald trump Nuklir Iran selat hormuz amerika serikat iran