Radar Pasuruan - Sebanyak 33.785 calon manajer Koperasi Desa (Kopdes), Kelurahan, dan Kampung Nelayan Merah Putih resmi menyelesaikan pendidikan dan pelatihan selama 1,5 bulan. Penutupan program dilakukan secara serentak pada Kamis (31/7) sebagai penanda kesiapan para peserta menjalankan tugas di berbagai daerah.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan seluruh peserta telah dibekali kemampuan manajerial dan bela negara melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Di Jakarta, prosesi penutupan digelar di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
"Mudah-mudahan insya Allah, kami akan tutup pendidikan ini sejumlah 33.785 orang," kata Ketut.
Ketut menjelaskan seluruh peserta yang mengikuti pendidikan sebelumnya telah melalui proses seleksi yang ketat. Selama pelatihan berlangsung, terdapat sejumlah dinamika yang menyebabkan sebagian peserta tidak dapat menyelesaikan program hingga akhir.
Ia mengungkapkan, sebanyak 61 peserta tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai alasan, mulai dari kondisi kesehatan, memilih kembali bekerja, hingga peserta yang diketahui sedang hamil.
"Dengan jumlah (peserta) dari yang dibuka sampai dengan finish, itu ada yang memang 61 rekan kita tidak bisa lanjut dengan beberapa alasan," terang dia.
Sebanyak 16 peserta di antaranya tidak dapat menyelesaikan pendidikan karena alasan kesehatan. Sementara peserta lainnya mengundurkan diri untuk melanjutkan pekerjaan sebelumnya maupun karena kondisi kehamilan.
Baca Juga: Skema Baru Bansos Segera Diuji, PKH dan BPNT Bakal Cair Lewat Kopdes Merah Putih
"Tentunya semuanya keputusan itu akan disampaikan oleh tim Panselnas Pusat untuk tindak lanjut kegiatan berikutnya," kata dia.
Dalam pelaksanaan pendidikan tersebut, tercatat lima peserta meninggal dunia, yakni Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.
Peristiwa tersebut mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap materi pelatihan. Program yang sebelumnya dikenal sebagai latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) kemudian diubah menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial.
Meski demikian, durasi pelatihan tetap dipertahankan selama 1,5 bulan. Pemerintah berharap para lulusan mampu mengelola Koperasi Desa, Kelurahan, dan Kampung Nelayan Merah Putih secara profesional serta mendukung penguatan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Baca Juga: Skema Baru Bansos Segera Diuji, PKH dan BPNT Bakal Cair Lewat Kopdes Merah Putih
Editor : Moch Vikry Romadhoni