Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rupiah Makin Tertekan! Ditutup Melemah ke Rp 18.128 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 9 Juli 2026 | 18:07 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.

Radar Pasuruan - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis sore. Mata uang Garuda turun 114 poin atau sekitar 0,63 persen ke posisi Rp18.128 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.014 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven) di tengah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang mencapai kisaran 74 dolar AS per barel juga memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi global.

Kondisi tersebut sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level yang relatif tinggi.

Baca Juga: Rupiah Kembali Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS, Begini Penjelasan Pengamat

Di sisi lain, pelaku pasar saat ini juga menunggu publikasi data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan gambaran baru mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid sehingga mampu meredam tekanan yang lebih besar terhadap nilai tukar rupiah.

Hal itu tercermin dari meningkatnya cadangan devisa Indonesia menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dibandingkan posisi akhir Mei yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.

“Kenaikan tersebut memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ungkap Amru.

Ia menambahkan, tingkat inflasi yang masih terkendali serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter juga menjadi faktor penopang.

“Meski demikian, dalam jangka pendek pergerakan rupiah diperkirakan masih akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dibandingkan faktor domestik,” kata dia.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia pada Kamis juga menunjukkan pelemahan. Nilainya berada di level Rp18.090 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya yang berada di Rp18.005 per dolar AS.

Baca Juga: Ancaman Baru Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Dolar AS #rupiah #iran