Radar Pasuruan - Dewan Ekonomi Nasional menilai kenaikan harga menjadi salah satu faktor yang mendorong angka kemiskinan terus meningkat di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini menjawab pertanyaan yang belakangan disoroti Presiden Prabowo terkait paradoks ekonomi nasional: tumbuh, namun jumlah penduduk miskin justru bertambah.
Kepala DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pihaknya telah memiliki perhitungan tersendiri mengenai kondisi tersebut dalam struktur perekonomian Indonesia.
"Jadi bisa mungkin karena naikkan harga kita, ada datanya saya nggak ingat, nanti saya bisa-bisa, Dewan Ekonomi sudah menghitung," ujar Luhut saat ditemui di Kantor DEN, Jakarta, Rabu (24/6).
Luhut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di jalurnya menuju target Indonesia Emas 2045. Namun ia mengingatkan pemerintah untuk terus memaksimalkan efisiensi dalam setiap program yang dijalankan.
"Kalau ekonomi itu akan tumbuh, bagus. Kita kan harus perhatikan efisiensi. Efisiensi juga tadi target semua yang kita kerjakan," ujarnya.
Luhut juga mengingatkan bahwa Indonesia hanya memiliki waktu sekitar 10 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi secara optimal. Jika peluang ini tidak dikelola dengan baik, target Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai. Meski demikian, ia tetap optimistis target tersebut bisa diraih asalkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu bergerak secara kompak.
Selain efisiensi, pemanfaatan teknologi dalam sistem pemerintahan dinilai dapat membantu menekan korupsi sekaligus mendorong produktivitas nasional.
"Tapi kalau kita semua kompak, itu saya kira nggak ada masalah. Apalagi dengan government technology ini, akan pasti mengurangi korupsi, dan teknologi ini dibuat oleh anak-anak Indonesia," ungkapnya.
Baca Juga: Review Supergirl: Nuansa Guardians of The Galaxy Hadir di Semesta DC, Seru dan Ramah Penonton Kasual
Editor : Moch Vikry Romadhoni