Radar Bromo - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui pemerintah masih menghadapi kendala dalam penyediaan batu bara berkalori menengah 5.200 kkal untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) nasional. Ia menyebut ketersediaan batu bara dengan kadar kalori tersebut kini mulai terbatas secara alami, sehingga pemerintah tengah mencari jalan keluar agar pasokan ke PLN tetap aman tanpa merugikan pelaku usaha.
“Sampai dengan bulan Juni tadi kita sudah rapat, itu ada kendala memang sedikit terhadap batu bara yang medium, kalori yang 5.200,” ujar Bahlil saat ditemui usai Rapat Koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/6).
Baca Juga: Bahlil Gelontorkan Rp1,4 Triliun untuk Kompor Listrik dan Motor Listrik di RAPBN 2027
Bahlil menjelaskan, salah satu akar masalahnya adalah penurunan kualitas batu bara nasional yang terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu. Tren ini membuat pemenuhan standar kalori 5.200 kkal per kilogram, yang dibutuhkan PLTU, menjadi semakin menantang bagi pemerintah maupun PLN.
“Kita kan tahu bahwa sekarang kan kalori batubara kita ini kan semakin hari semakin rendah. Nah ini yang kita lagi cari solusinya. Tapi secara yang lainnya nggak ada masalah,” ucapnya.
Baca Juga: Aksi Berani PMKRI di Monas: Foto Prabowo-Gibran Ditempel di Salib Merah, Ini Makna Filosofisnya
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah membentuk tim pengadaan batu bara kalori sedang guna membantu PT PLN (Persero) mengamankan pasokan. Tim tersebut beranggotakan perwakilan Kementerian ESDM, PLN, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dengan tujuan memastikan proses pengadaan berjalan transparan dan akuntabel, sekaligus tidak merugikan pengusaha maupun PLN.
“Ini dibutuhkan kolaborasi kerja sama dan transparansi termasuk harga. Ini semua dalam rangka pertanggungjawaban moral,” ucapnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni