Radar Pasuruan - Suasana di depan Gedung DPR-MPR RI tampak lengang setelah massa aksi BEM UI dicegat aparat sebelum bisa mencapai Bundaran HI, Jakarta Pusat. Sejumlah bus jadul dan angkot terparkir di depan gedung DPR, peninggalan kendaraan yang tadi membawa rombongan mahasiswa dari kampus UI namun tertahan di titik penghadangan.
Aksi unjuk rasa Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut yang dimotori BEM UI diwarnai pengadangan ketat aparat kepolisian. Dari sekitar 1.000 massa aksi yang bergerak, hanya 5 mahasiswa yang berhasil menembus barikade polisi.
Ribuan mahasiswa lainnya tertahan dan dipaksa mengalihkan lokasi demo ke DPR, bukan ke Bundaran HI seperti yang direncanakan. Sebagian akhirnya memilih melakukan long march menuju titik aksi.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof) menyatakan kekecewaannya atas tindakan yang disebutnya represif. Ia menegaskan pihaknya telah menyampaikan surat pemberitahuan resmi untuk menggelar aksi di Bundaran HI, namun polisi tetap memaksakan pemindahan lokasi.
Baca Juga: Demo Memanas di Pematang Siantar, Bank Negara Indonesia Tegaskan Patuh Putusan Hukum!
"Kami, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut, ingin melakukan press release terkait penahanan dan blokade serta represivitas yang dilakukan oleh polisi kepada kami. Dan kami juga dipaksa melakukan demonstrasi di DPR. Padahal kami merencanakan, dan juga telah mengirimkan surat kepada kepolisian, kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI," ujar Athof di kawasan Bundaran HI, Jumat (12/6).
Pengadangan bahkan sudah terjadi sejak siang hari sebelum massa mencapai Semanggi, tepatnya di kawasan Dukuh Atas saat mahasiswa hendak menunaikan ibadah salat Jumat.
"Pada pukul 12.00 kurang 5 menit siang, kami tepatnya di Dukuh Atas, ditahan oleh polisi. Saat itu, kami sedang ingin menjalankan ibadah salat Jumat. Di mana hal itu telah diatur dalam Undang-Undang 1945 Konstitusi dan juga Pancasila," lanjutnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni