BANGIL, Radar Bromo–Kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Hingga separo perjalanan ibadah, tercatat sudah ada lima Jemaah haji asal Pasuruan dan Probolinggo yang meninggal dunia (lihat grafis bawah). Terbaru, ada dua jemaah haji asal Kabupaten Pasuruan dan satu asal Kabupaten Probolinggo.
Dua Jemaah asal Kabupaten Pasuruan yang meninggal dunia adalah Abdul Wahid dari Kloter 7 yang wafat pada 7 Mei 2026 dan Jumaiyah dari Kloter 6 yang meninggal pada 13 Mei 2026.
Sementara dari Kabupaten Probolinggo Asraf, 65, dari kloter sub satu, meninggal dunia di Tanah Suci pada Kamis (14/5) dini hari.
Di Kabupaten Pasuruan, dengan tambahan dua jemaah tersebut, total sudah empat jemaah haji yang meninggal dunia selama musim haji tahun ini. Sebelumnya, Kamariah dari Kloter 8 meninggal dunia di Madinah pada 26 April 2026.
Sementara Abdul Kohar dari Kloter 6 wafat sebelum keberangkatan setelah sempat menjalani perawatan di RS Haji Sukolilo.
“Hingga hari ini sudah empat jemaah haji yang meninggal dunia. Seluruh proses pendampingan terhadap jenazah juga sudah kami lakukan,” ujar Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pasuruan Ahmad Marzuki.
Marzuki yang saat ini juga bertugas sebagai Ketua Kloter 10 di Mekkah meminta seluruh jemaah, khususnya asal Pasuruan, meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menjaga kondisi fisik.
“Kami berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan, memakai alat pelindung diri, serta selalu membawa kartu Nusuk,” katanya.
Ia menegaskan, faktor cuaca dan kelelahan fisik selama menjalani rangkaian ibadah menjadi tantangan berat yang harus diantisipasi seluruh jemaah. Karena itu, jemaah diminta tidak memaksakan aktivitas di luar kondisi tubuh masing-masing.
Dari Kabupaten Probolinggo, Plh Kepala Kantor Kemenhaj Ervin Syarif Arifin mengatakan, satu jemaah haji sebelum meninggal dunia sempat mengalami gangguan kesehatan beberapa hari sebelumnya.
Asraf mulai mengeluhkan sesak napas disertai demam pada Senin (11/5) pagi. Kondisinya kemudian diperiksa oleh dokter kloter dan direkomendasikan untuk segera mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di King Abdul Aziz Hospital, Mekkah.
“Setelah diperiksa dokter kloter, beliau langsung dirujuk ke King Abdul Aziz Hospital untuk mendapatkan penanganan intensif,” ujarnya.
Setibanya di rumah sakit, almarhum langsung mendapat perawatan medis dan ditempatkan di ruang ICU karena kondisi kesehatannya cukup serius. Pada Selasa (12/5), kondisi Asraf dilaporkan semakin menurun hingga harus dipasangi ventilator akibat mengalami gagal napas.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit diabetes atau kencing manis serta kolesterol tinggi. Kondisi tersebut diduga turut memengaruhi kesehatannya selama menjalankan ibadah haji.
Jenazah almarhum Asraf sudah dimakamkan di makam umum Saraya, kemarin setelah dhuhur yang berjarak 15 Km dari Masjidil Haram.
Ervin menambahkan, almarhum berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya, Riyati, 50, dan tiba di Mekkah pada Rabu (22/4) lalu bersama rombongan jamaah haji Kabupaten Probolinggo.
Pihak Kemenhaj turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya jamaah tersebut. Mereka berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.
Sementara itu, suhu cuaca di Kota Mekkah Arab Saudi diperkirakan berkisar 43 derajat lebih. Jemaah diimbau tidak memaksakan diri salat di masjidil haram khususnya bagi lansia dan yang memiliki riwayat penyakit.
Bahkan, ada satu jamaah haji yang sudah 2 pekan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).
Firman Wagahadi Pratama selaku petugas haji daerah (PHD) Kota Probolinggo mengatakan, untuk jamaah haji kloter asal Kota Probolinggo, hampir seluruhnya realtif baik.
Hanya saja, ada satu jamaah asal Kecamatan Kademangan yang sampai saat ini masih berada di Madinah karena butuh perawatan intensif di Rumah RSAS. Karena, jemaah tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit, jika kondisi belum sehat.
”Ada jamaah usia 62 tahun yang dirawat di rumah sakit Arab Saudi mulai tanggal 29 April hingga sekarang masih harus dirawat. Terkait kondisi keluhan sakitnya, indikasi penyakit stroke dan hypertensi,” kataya pada Jawa Pos Radar Bromo.
Firman menambahkan, musim kemarau saat ini membuat suhu cuaca sangat panas. Suhu cuaca di Kota Mekkah, diperkirakan 43 derajat lebih. Oleh karena itu, pihaknya sering mengimbau pada jamaah untuk memperbanyak minum dan menjaga kesehatan.
”Kami sudah imbau jamaah untuk tidak memaksakan diri shalat di masjidil haram khusus nya bagi lansia dan yang memiliki riwayat penyakit. Lebih baik, menjaga kesehatan untuk persiapan pelaksanaan ibadah hajinya,” terangnya.
Jemaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci
Kabupaten Probolinggo
· Asraf dari sub kloter 1, wafat 14 Mei
Kabupaten Pasuruan
· Abdul Wahid dari Kloter 7, wafat pada 7 Mei
· Jumaiyah dari Kloter 6, wafat 13 Mei
· Kamariah dari Kloter 8, wafat 26 April 2026
· Abdul Kohar dari Kloter 6, wafat saat perawatan di RS Haji Sukolilo
(tom/gus/mas/fun)
Editor : Abdul Wahid