Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

BRIN Prediksi Kemarau Panjang, Risiko Kekeringan Makin Nyata

Moch Vikry Romadhoni • Selasa, 28 April 2026 | 16:41 WIB
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)

Radar Bromo - Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi fenomena El Niño ekstrem berpotensi melanda Indonesia dan memicu berbagai dampak serius, mulai dari kekeringan hingga krisis air bersih.

Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga, Hijrah Saputra menjelaskan bahwa El Niño merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang melebihi kondisi normal.

Fenomena ini menyebabkan kenaikan suhu laut dengan anomali sekitar 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, bahkan pada kondisi tertentu bisa lebih tinggi.

Berdasarkan kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, El Niño termasuk dalam fenomena El Niño - Southern Oscillation (ENSO) yang berdampak luas terhadap sistem atmosfer global dan pola iklim dunia.

Pemanasan suhu laut tersebut memengaruhi sirkulasi udara, sehingga distribusi curah hujan menjadi tidak merata dan meningkatkan potensi kekeringan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

"Terjadi pengheseran pusat pembentukan awan hujan ke Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering," terang Hijrah di Surabaya, Selasa (28/4).

Ia menambahkan bahwa kekuatan El Niño diukur menggunakan Oceanic Niño Index (ONI), di mana nilai di atas +0,5 menunjukkan El Niño, sementara di bawah −0,5 mengindikasikan La Niña.

Prediksi serupa juga disampaikan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration yang memperkirakan peluang El Niño mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Dampak dan Mitigasi

Hijrah menilai dampak El Niño di Indonesia bisa berupa kemarau panjang, kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gangguan pada sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Selain itu, fenomena ini juga berpotensi meningkatkan emisi karbon dioksida secara global akibat kebakaran lahan dan perubahan ekosistem.

Untuk mengantisipasi dampaknya, diperlukan langkah mitigasi sejak dini. Salah satunya dengan mengoptimalkan cadangan air melalui pengisian bendungan dan waduk.

Langkah lain yang dapat dilakukan yakni penerapan teknologi modifikasi cuaca, percepatan masa tanam, serta diversifikasi pangan guna menjaga ketahanan di tengah perubahan iklim.

"Keempat, diversifikasi pangan sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Langkah-langkah ini penting agar dampak El Nino dapat diminimalkan, terutama di sektor air dan pangan,” pungkas Hijrah.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#bmkg #cuaca ekstrem #el nino