Radar Pasuruan - Amerika Serikat kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Washington menegaskan siap melanjutkan operasi militer jika Teheran memilih keluar dari meja perundingan.
Mengutip News18, Kamis (16/4), Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan ultimatum tersebut sembari menegaskan bahwa militer AS tetap dalam kondisi siaga penuh meski saat ini tengah berlangsung gencatan senjata.
“Kami mengawasi Anda,” ujar Hegseth, seraya menyebut intelijen AS terus memantau pergerakan aset militer Iran.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa ketegangan antara kedua negara belum mereda dan berpotensi meningkat sewaktu-waktu.
Di sisi lain, jalur diplomasi masih dibuka. Delegasi tingkat tinggi Pakistan yang dipimpin Asim Munir telah melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran guna membuka peluang dimulainya kembali negosiasi antara Teheran dan Washington.
Pemerintah AS menyambut langkah tersebut. Bahkan, Gedung Putih mengisyaratkan bahwa putaran negosiasi berikutnya berpotensi digelar di Islamabad, menegaskan peran Pakistan sebagai mediator.
Dalam pernyataan lanjutan, Hegseth menegaskan bahwa diplomasi memiliki batas waktu. Ia memperingatkan bahwa pasukan AS siap kembali berperang jika pembicaraan tidak membuahkan hasil.
“AS kini mempersenjatai diri dengan kekuatan lebih besar dari sebelumnya. Industri energi belum hancur sepenuhnya. Blokade AS menghentikan ekspor. Saya harap Anda memilih kesepakatan yang ada di depan mata,” kata Hegseth.
Ia juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus diberlakukan selama diperlukan. Bahkan, AS mengklaim telah menguasai lalu lintas di Selat Hormuz serta menyebut kekuatan laut Iran telah melemah setelah serangan besar oleh AS dan Israel.
Iran Balas Ancaman, Risiko Global Meningkat
Iran merespons dengan peringatan bahwa mereka dapat memperluas konflik dengan mengganggu jalur perdagangan internasional di luar Selat Hormuz.
Teheran mengancam akan memblokir jalur perdagangan di Laut Merah, Teluk, hingga Laut Oman jika tekanan dari AS terus berlanjut. Langkah ini dinilai berpotensi mengguncang pasar energi dan rantai pasok global.
Situasi ini membuat dunia berada dalam kondisi waspada, di mana keberhasilan atau kegagalan diplomasi akan sangat menentukan stabilitas kawasan dan ekonomi global dalam waktu dekat.
Editor : Moch Vikry Romadhoni