Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ramadan Akan Pergi, Jangan Biarkan Semangatmu Ikut Terhenti

radar bromo • Senin, 9 Maret 2026 | 15:59 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

PENGHUJUNG bulan Ramadan seringkali menjadi fase yang menantang bagi sebagian umat Muslim, karena disaat fisik mulai merasa lelah dan fokus mulai terbagi dengan hiruk-pikuk persiapan lebaran.

Sangat disayangkan jika ibadah yang telah dilakukan berminggu-minggu harus mengendur tepat di garis finish, padahal di sepuluh malam terakhir inilah tersimpan permata kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan.

Ramadan memang akan segera pergi, namun jangan biarkan nyala api ibadah dan kekhusyukan yang telah terbangun ikut padam begitu saja.

Mengingat keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan adalah salah satu cara membakar kembali semangat yang mulai redup. Masa  ini bukan sekadar penutup bulan suci, melainkan "puncak pencarian" bagi setiap mukmin karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan.

Menyadari bahwa setiap ibadah di hari-hari terakhir ini memiliki bobot pahala yang berlipat ganda bisa menjadi penggerak batin agar tidak sampai membiarkan masa sepuluh hari terakhir ini berlalu tanpa makna di garis finish.

Menyusun target ibadah harian secara realistis adalah strategi paling ampuh untuk menjaga konsistensi di tengah gempuran kesibukan akhir Ramadan. Tanpa perencanaan yang jelas, waktu yang ada akan mudah tergerus oleh persiapan teknis lebaran seperti berbelanja atau merapikan rumah.

Dengan memiliki panduan tertulis, kita akan merasa terpanggil untuk menyelesaikan ibadah yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga semangat beribadah tidak lagi bergantung pada suasana hati, melainkan pada komitmen yang telah dibangun secara terstruktur.

Mengurangi aktivitas yang tidak penting adalah salah satu strategi penting agar energi kita tidak terkuras habis pada hal-hal yang bersifat duniawi di akhir bulan Ramadan. Dengan berani membatasi kegiatan yang kurang bermanfaat, jiwa yang ada akan tetap tenang dan fokus untuk beribadah.

Memperbanyak doa dan zikir merupakan hal utama untuk menjaga ibadah tetap menyala ketika mulai merasa lelah di penghujung Ramadan. Di saat lisan basah dengan kalimat-kalimat thoyyibah, hati akan tetap terjaga dalam kondisi sadar dan tenang, meskipun kesibukan duniawi mulai merayap naik.

Bergabung dengan kegiatan ibadah bersama, seperti i'tikaf di masjid atau menyimak kajian keislaman, sangat ampuh membantu meningkatkan energi saat motivasi pribadi mulai menurun.

Berada di tengah lingkungan orang-orang yang memiliki semangat yang sama akan menciptakan efek penularan kebaikan; melihat sesama muslim khusyuk bersujud dan bertadarus akan memacu diri untuk ikut berjuang memberikan yang terbaik.

Menjaga kondisi fisik merupakan pondasi penting agar dapat beribadah secara optimal, karena raga yang bugar adalah kendaraan bagi jiwa untuk bersujud lebih lama.

Di sepuluh malam terakhir, godaan rasa kantuk dan kelelahan fisik sering kali menjadi penghalang utama. Oleh karena itu, memperhatikan asupan nutrisi saat berbuka dan sahur serta menjaga pola tidur yang berkualitas menjadi sangat penting.

 

Mari jadikan sisa hari yang singkat ini sebagai momentum untuk "berpamitan" dengan cara yang paling indah kepada bulan suci.

Ramadan memang akan segera berlalu, namun bekas sujud, tetesan air mata taubat, dan lantunan zikir yang ditanam di sepuluh malam terakhir ini akan menjadi saksi abadi yang membela sang pelaku di hadapan-Nya.

Jangan biarkan kesibukan duniawi yang fana mencuri fokus kita dari kemuliaan Lailatul Qadar yang tiada bandingnya.

 

Penulis: Tim Magang Unesa/Radar Bromo Jawa Pos

Khofifatun Ni'mah

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#lailatul qadar #ramadhan #istiqomah #tips #amalan