Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

“Kami Bukan Orang Malas” Tangisan Warga Aceh Tengah Pascabanjir Disorot Salim A Fillah

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 8 Januari 2026 | 16:36 WIB

 

Menyoroti penuturan pendakwah Salim A Fillah terkait perjuangan warga yang terdampak bencana di Aceh Tengah.
Menyoroti penuturan pendakwah Salim A Fillah terkait perjuangan warga yang terdampak bencana di Aceh Tengah.

Radar Bromo - Banjir bandang disertai tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera hingga kini masih menjadi perhatian publik nasional.

Bencana yang terjadi pada akhir November 2025 itu menimbulkan dampak kerusakan cukup parah, termasuk di Kabupaten Aceh Tengah.

Sejumlah jalur transportasi terputus akibat jembatan yang rusak dan tertimbun longsor, setelah diterjang derasnya arus banjir bandang.

Kondisi warga Aceh Tengah pascabencana itu kemudian diungkap oleh pendakwah asal Yogyakarta, Salim A Fillah.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @salimfillah_official pada Minggu, 4 Januari 2026, Salim membagikan kisah perbincangannya dengan seorang kepala desa di wilayah Aceh Tengah.

"Patah hati terbesar kami ketika mendengar cerita dari Pak Reje," ujarnya.

Salim menjelaskan, hingga saat ini akses jalur darat di sejumlah daerah Aceh Tengah masih belum dapat dilalui karena jembatan terputus dan jalan longsor.

"Inilah yang menyebabkan kami fokus pada perbaikan akses, karena masalah ini vital," tegasnya.

"Jika akses terputus, maka ekonomi tidak bisa berputar. Masyarakat tidak bisa jual beli," imbuh Salim.

Dalam potongan video yang dibagikan, Pak Reje—sebutan untuk kepala desa di Aceh—mengungkapkan keluhannya terkait akses jalan menuju desanya yang belum pulih pascabencana.

"Kalau seandainya pak, akses jalan kami bisa lewat, kami tidak perlu bantuan pak," ucap sang kepala desa.

"Kami bukan orang malas di sini, kami orang petani pak, kami tahu diri," tegasnya.

Kepala desa yang identitasnya tidak disebutkan itu juga menceritakan kondisi anak-anak di desanya yang kesulitan beraktivitas akibat keterbatasan penerangan.

"Kami cuman butuh makan pak, dan anak-anak kami sekarang ini juga sudah berapa bulan ini?" tanya sang kepala desa.

"Dia sudah tidak mengaji dengan tidak ada penerangan, tidak bersekolah karena seragamnya hanyut," tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan pada Kamis, 8 Januari 2026, unggahan tersebut tercatat telah mendapatkan 115.204 tanda suka di Instagram.

Unggahan itu pun menuai simpati luas dari warganet, yang membanjiri kolom komentar dengan doa dan dukungan untuk warga terdampak bencana di Sumatera.

"Ya Allah, angkatlah derajat saudara kami di Sumatera dan Aceh. Hilangkan kesedihannya, mudahkan semuanya," tutur warganet dengan akun @guppymida.

"Mudahkan urusan mereka, angkat derajat mereka," tulis warganet lainnya melalui akun @ambardeadeeva.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#sumatera #aceh #tanah longsor #orang malas #bencana banjir