Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menggigil di Hutan! Cerita Pilu Ibu dan Anak Bertahan Tanpa Makan Usai Longsor

Moch Vikry Romadhoni • Selasa, 23 Desember 2025 | 20:33 WIB

 

Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan.
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan.

Radar Bromo - Trauma malam mencekam masih membekas dalam ingatan seorang ibu asal Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Banjir bandang disertai longsor yang melanda wilayah itu merusak rumahnya dan memutus seluruh akses, memaksa ia bersama keluarga bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Kisah perjuangan hidup di tengah kepungan bencana itu dibagikan melalui akun TikTok @zaits_bf pada Senin, 22 Desember 2025. Dalam unggahan tersebut, sang ibu menuturkan bagaimana ia berusaha menyelamatkan keluarga meski tanpa persiapan dan bekal apa pun.

Saat tempat tinggal mereka porak-poranda dan hujan terus mengguyur tanpa henti, warga tak bisa menyalakan api untuk memasak. Air bersih dan makanan layak pun tak tersedia, membuat mereka harus bertahan dengan cara seadanya.

“Air hujan diminum, ada ubi tapi tak dimasak, semua hujan jadi enggak ada api,” ucap wanita tersebut.

Longsor yang menutup jalur di berbagai titik membuat warga terisolasi total. Tidak ada akses menuju lokasi pengungsian, sehingga satu-satunya pilihan adalah berlindung di kawasan hutan yang masih bisa dijangkau.

“Di sini longsor, di sana longsor, jadi enggak ada jalan, jadi kami satu malam tidur di hutan,” lanjutnya.

Kondisi paling menyayat hati dialami saat ia harus menyaksikan anak-anaknya kedinginan tanpa pakaian kering. Seluruh baju mereka basah, tidak ada yang bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh.

“Karena tidak ada baju ganti, anakku tertidur tapi menggigil,” pungkasnya.

Cerita dari Desa Mardame ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya beban warga di daerah terpencil saat bencana datang.

Hingga kini, para penyintas masih sangat membutuhkan bantuan berupa pakaian layak, makanan, serta pembukaan akses jalan agar pertolongan bisa segera masuk.

Baca Juga: TPT Pasuruan Menyusut, Tapi Lulusan Kampus Justru Paling Banyak Menganggur

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#banjir #kisah pilu #tapanuli #anak